July 8, 2020

Review : The House With A Clock In Its Walls


“There’s a clock in the walls. You don’t know what it does except something horrible.” 
Tidak pernah terbayangkan akan datang masanya di ketika Eli Roth dipercaya untuk mengomandoi sebuah film keluarga. Kalau kau mengikuti rekam jejaknya, tentu mengetahui bahwa ia merupakan otak dibelakang Cabin Fever (2002) dan Hostel (2005) yang memperkenalkan kita dengan subgenre ‘torture porn’. Sebuah genre turunan dari horor yang dipenuhi dengan visual mengganggu sarat darah, kekerasan dan penyiksaan. Sebuah genre yang terang tidak ramah bagi penonton anak-anak. Bahkan, karena kekerasan telah menjadi signature style dalam film garapannya, nama Roth pun jadinya identik dengan sadis sampai-sampai diri ini sulit membayangkan, “bagaimana ya jadinya kalau Roth tak bersentuhan dengan kekerasan?.” Menduga ia akan menjajal keluar dari zona nyaman dengan menggarap film drama atau komedi, siapa sangka kalau kemudian ia justru direkrut oleh Amblin Entertainment kepunyaan Steven Spielberg untuk menggarap The House with a Clock in Its Walls yang notabene merangkul pasar keluarga? Terdengar menarik sekaligus absurd di waktu bersamaan, tentu saja, meski saya jadinya bisa sedikit bisa memahaminya mengingat bahan sumber film ini yakni sebuah novel anak berjudul sama rekaan John Bellairs yang mengambil jalur horror. 

Ya, The House with a Clock in Its Walls yakni sajian horor fantasi untuk seluruh keluarga dimana kau bisa menjumpai sihir, monster, serta rumah yang ‘hidup’. Karakter utama dalam film ini yakni seorang bocah berusia 10 tahun berjulukan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro) yang gres saja kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan sehingga ia pun harus tinggal dengan sang paman, Jonathan (Jack Black), yang sekarang menjadi walinya. Seperti halnya kebanyakan film sejenis, kau tentu bisa dengan gampang menerka bahwa Jonathan bukanlah seorang wali yang biasa-biasa saja. Lewis pun sudah bisa mencicipi adanya kejanggalan dalam diri sang paman sedari pertama kali menjejakkan kaki di rumah besarnya yang tak kalah janggalnya. Di rumah tersebut, Lewis turut berkenalan dengan Florence Zimmerman (Cate Blanchett), tetangga sekaligus teman baik Jonathan yang seringkali mampir (plus kerap mengenakan busana serba ungu) demi menuntaskan suatu kasus. Kasus tersebut yakni mencari keberadaan sebuah jam yang senantiasa berdetak yang disembunyikan oleh pemilik rumah sebelumnya, Isaac Izard (Kyle MacLachlan), karena menyimpan kekuatan jahat yang sanggup menghancurkan dunia. Lewis yang tadinya hanyalah bocah polos yang kesepian, jadinya menerima kesempatan untuk mempelajari sihir dari Jonathan dan Florence yang ternyata seorang penyihir demi membantu mereka dalam mengungkap keberadaan jam gila tersebut sebelum dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab. 

Sebagai sebuah film yang merangkul pasar keluarga, The House with a Clock in Its Walls bekerjsama masih cukup menghibur, setidaknya bagi penonton cilik. Kemungkinan besar, mereka akan terpukau begitu diajak memasuki rumah Jonathan yang di dalamnya terdapat hal-hal magis berantakan mirip ‘hewan peliharaan’ berwujud dingklik sofa yang tingkahnya ibarat anak anjing, jendela beling patri dengan gambar yang bisa berubah sewaktu-waktu, hingga topiary berbentuk singa yang kerap buang hajat sembarangan. Mereka pun akan tertawa melihat kelakuan Jonathan yang cenderung nyentrik serta sering dibentuk kesal dalam menghadapi benda-benda magis di rumahnya yang sering jahil ini, dan mereka juga akan meringkuk di dingklik bioskop (atau malah memekik takut) begitu sesosok mayit hidup bangun dari kuburnya, sekelompok labu bergigi tajam menyerang para protagonis kita dengan ganas, hingga boneka-boneka bertampang menakutkan di gudang mendadak hidup. Roth terbukti bisa menyuplai sajian horor ramah anak, sekalipun gaya berceritanya di sini malah mengingatkan saya pada film-film rekaan Tim Burton karena visualnya yang mengaplikasikan nuansa gothic dan huruf Jonathan-Florence tak ubahnya tugas yang biasa dimainkan oleh Johnny Depp-Helena Bonham Carter. The House with a Clock in Its Walls terasa sangat familiar dan Roth tak memperlihatkan sentuhan apapun untuk membuatnya terasa segar maupun berbeda. 

Itulah mengapa para penonton sampaumur yang terbiasa mengonsumsi film sejenis, kemungkinan besar bakal mengalami kesulitan dalam menginvestasikan emosi untuk The House with a Clock in Its Walls. Bukan hanya disebabkan oleh tidak adanya pembaharuan, tetapi juga ketidakmampuan Roth untuk menghadirkan sensasi takjub pada penonton tatkala kita diajak memasuki dunia gres Lewis (padahal production value sudah maksimal!) dan ketidaksanggupannya untuk menggulirkan narasi yang benar-benar menggigit. Roth beserta penulis skenario, Eric Kripke, melantunkan kisah secara apa adanya tanpa pernah mengeksplorasi lebih dalam murung yang menghinggapi Lewis. Padahal, melalui sosok Lewis, film sejatinya berbicara soal ‘berdamai dengan murung yakni penggalan dari tumbuh dewasa’ disamping ‘berbeda yakni anugerah’ dan itu hanya tersampaikan tipis-tipis. Performa Owen Vaccaro pun tak memperlihatkan instruksi bahwa Lewis telah terpinggirkan dari pergaulan apalagi berduka atas meninggalnya kedua orang tuanya, malah ia tampaknya mendapatkan keadaannya dengan lapang dada. Saya tidak pernah mencicipi rasa kehilangan, kerinduan, kesepian, atau amarah dalam dirinya sehingga film pun tak jarang terasa hambar. Yang kemudian menghindarkan film untuk bertransformasi menjadi dongeng nina bobo yakni akting Cate Blanchett sebagai Florence yang elegan. Dia begitu jenaka tatkala beradu verbal bersama Jack Black, dan ia pun hangat ketika berdialog bersama Owen Vaccaro kolam seorang bibi yang mengasihi keponakannya. Dia juga terlihat bersenang-senang dengan tugas yang dimainkannya tanpa harus terlihat berlebihan mirip lawan mainnya: Tuan Black.

Acceptable (3/5)