October 25, 2020

Review : The Hunger Games: Mockingjay – Part 2


“Tonight, turn your weapons to the Capitol! Turn your weapons to Snow!” 


Babak pertama dari Mockingjay menyisakan banyak ketidakbahagiaan dari sejumlah pihak. Keputusan Lionsgate dalam memecah The Hunger Games: Mockingjay menjadi dua seri dinilai mengada-ada mengingat bahan novel rekaan Suzanne Collins sendiri kurang memungkinkan untuk direntangkan melebihi satu film. Walau saya pribadi cukup menikmati Mockingjay Part 1 alasannya ialah menilai intrik sosial politiknya yang memperbincangkan secara lantang soal propaganda, tipu-tipu media, hingga kontradiksi kelas mempunyai intensitas cukup tinggi (bahkan terbilang thought-provoking), sulit untuk dipungkiri bahwa kesan bertele-tele sanggup dirasakan di banyak sekali titik yang berdampak terhadap lambatnya laju penceritaan. Mockingjay Part 1 cenderung minim gegap gempita alasannya ialah dikondisikan untuk membuka jalan bagi pertarungan selesai Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dalam melawan kesewenang-wenangan sang tiran di Mockingjay Part 2 sehingga penyusunan siasat berperang pun lebih sering diperbincangkan ketimbang peperangannya itu sendiri. Segala letupan-letupan pembangkit emosi yang dibutuhkan oleh para penonton, gres hasilnya benar-benar dimunculkan oleh Francis Lawrence di babak pamungkas ini. 

Tidak tahan melihat efek dari perbuatan Presiden Snow (Donald Sutherland) kepada orang-orang yang dicintainya, Katniss pun mengindahkan titah dari Presiden Alma Coin (Julianne Moore) selaku pemimpin Distrik 13 untuk berdiam diri dan menentukan bergabung bersama Squad 451 dengan impian sanggup menyusup ke Capitol kemudian merampungkan misinya menghabisi nyawa Snow. Hanya saja, tentu tidak semudah itu bagi Squad 451 yang bergabung didalamnya termasuk Gale (Liam Hemsworth), Finnick (Sam Claflin), Cressida (Natalie Dormer), Pollux (Elden Henson), serta Peeta (Josh Hutcherson), untuk menundukkan Snow alasannya ialah dalam perjalanan menuju kediaman sang penguasa lalim ini, mereka dihadang oleh jebakan-jebakan mematikan berjulukan ‘pods’ yang keberadaannya tersebar di banyak sekali penjuru Capitol. Pods sendiri dikreasi oleh para gamemaker atas perintah dari Snow untuk menghalangi para pemberontak mendekati Snow menyusul semakin gencarnya gerakan dari para pemberontak sehabis dikumandangkannya iklan propaganda sang Mockingjay ke seantero Panem. Dengan keberadaan pods, maka Katniss pun kembali menghadapi ‘permainan bunuh membunuh’ yang sekali ini berlangsung di jalanan Capitol alih-alih arena Hunger Games. Yes, welcome to the 76th Hunger Games. 

Jadi, apakah franchise The Hunger Games memberi salam perpisahan yang manis kepada para penggemar melalui Mockingjay Part 2 atau malah justru meninggalkan rasa pahit? Seperti halnya babak pertama, Mockingjay Part 2 sanggup jadi akan membelah kubu pendapat menjadi dua: love it or hate it. Melanjutkan apa yang tersisa dari sang predesesor, 30 menit pertama film yang sekaligus dimanfaatkan oleh Francis Lawrence untuk menyegarkan ingatan kita terkait kejadian dari jilid pertama mengalun begitu perlahan cenderung menguji kesabaran penonton. Nyaris tanpa dibekali tenaga mencukupi, menit-menit pembuka Mockingjay Part 2 ini memang sedikit banyak membentuk mood ke arah negatif dengan suara-suara menguap sesekali terdengar. Sempat terbersit di benak mungkin Katniss (atau malah Suzanne Collins) telah terlampau kelelahan yang berdampak pada plot serasa jalan di tempat, tensi ketegangan yang semula terus mengendur perlahan tapi niscaya menawarkan gejala menanjak kala Lawrence tetapkan mengakhiri ‘sesi refleksi’ terhadap pengenalan konflik jilid terakhir ini dan berpindah fokus mengajak penonton mengiringi Katniss beserta regu kecilnya menapaki medan pertempuran sesungguhnya. 

Dengan arena Hunger Games yang dilalui Katniss kali ini jauh lebih besar, berbahaya, serta brutal, maka tidak mengherankan apabila Mockingjay Part 2 mempunyai barisan adegan tabrak berintensitas tinggi yang bolos dari ketiga seri pendahulu. Ya, begitu kita memasuki Capitol, serangan pods seketika menyambut dalam wujud berupa-rupa yang kemunculannya seringkali tidak sanggup diprediksi. Dari hujaman peluru bertubi-tubi, berlanjut ke amukan banjir lumpur hitam, hingga terkaman makhluk-makhluk mutan buas, Lawrence seperti mencoba menebus kesalahannya di babak pertama yang hampir tidak mempunyai cukup amunisi dalam menggelorakan semangat penonton dengan kali ini berusaha menggenjot adrenalin kita mencapai titik teratas. Upayanya boleh dikata berhasil, paling tidak selama personil Squad 451 berkeliaran di jalanan Capitol maupun menyusup ke gorong-gorong (harus tetap diakui merupakan momen paling intens sepanjang franchise ini!), namun level ketegangannya agak meredup pada pertempuran final yang walau masih menonjok secara emosi sayangnya malah berakhir antiklimaks dan meniadakan kesan grande. 

Mencuatnya kekecewaan begitu melihat kurang megahnya tampilan peperangan selesai dalam melengserkan Snow (untungnya) lantas ditumpas oleh penutup yang tersusun dari kombinasi memilukan, menyentuh, sekaligus cantik. Pada titik ini, Jennifer Lawrence yang telah mempertontonkan keciamikan berolah tugas sebagai Katniss sejak seri pertama semakin menegaskan bahwa ia telah mencapai level akting yang sudah sangat matang. Bahwa ia memang layak menyandang gelar “aktris pemenang Oscar”. Segala bentuk pergolakan batin Katniss sanggup tersampaikan secara baik kepada penonton yang menciptakan huruf ini begitu mudahnya memperoleh simpati. Jajaran lawan mainnya pun memberi sumbangan penuh, khususnya Josh Hutcherson yang memberi akting terbaiknya sepanjang franchise ini untuk Peeta yang tengah berada di titik terendah hidupnya dan Donald Sutherland yang memunculkan sisi manusiawi dari sosok bengis Presiden Snow. Barisan pemain pendukung, walau jatah tampil semakin tereduksi karena film semakin fokus pada Katniss-Peeta, juga masing-masing bermain solid dengan kredit khusus diberikan kepada Liam Hemsworth atas perjuangan kerasnya (yang hasilnya betul-betul berhasil) dalam menawarkan kehancuran hati Gale tatkala menyadari korelasi Katnis-Peeta kian intim. Let’s give him a hug! 

Walau masih berada di bawah bayang-bayang Catching Fire – tak pelak merupakan seri terbaik di franchise The Hunger Games – karena laju pengisahan yang tak stabil dengan grafik konflik kadangkala masih saja bergerak di titik datar dan pertarungan puncak menjauhi pengharapan banyak pihak (damn!), Mockingjay Part 2 tetap sanggup dibilang memberi salam perpisahan manis dan layak bagi The Hunger Games. Setidaknya lewat jilid penutup ini penonton hasilnya memperoleh barisan adegan agresi seru yang menciptakan kita bolak-balik menahan nafas, penonton hasilnya sanggup mencicipi gregetnya kisah cinta segirumit dari Katniss-Peeta-Gale sehabis tiga seri lamanya hanya berkesan menyerupai perhiasan belaka, dan penonton hasilnya kembali memperoleh kesempatan mencicipi momen-momen emosional yang memungkinkan kita menyeka air mata. Jika saja Mockingjay tidak dipaksakan dipecah menjadi dua pecahan hasilnya mungkin sanggup lebih maksimal dari kini ini alasannya ialah bahkan dengan segala kekurangannya, Mockingjay Part 2 masih sanggup terhidang sebagai finale yang cukup memuaskan.

Exceeds Expectations