October 21, 2020

Review : The Huntsman: Winter’s War


“Whoever gets in there will be unstoppable.” 

Menilik respon kurang membahagiakan yang diterima Snow White and the Hunstman kala dilempar ke pasaran empat tahun silam – plus adanya skandal antara Nasrani Stewart dengan sang sutradara – agak mengejutkan Universal berusaha untuk tetap mengkreasi franchise bagi penyesuaian dongeng Putri Salju ini. Bisa jadi, mengguritanya Disney di industri hiburan berkat interpretasi gres terhadap dongeng-dongeng klasik pengantar tidur yaitu motivasi utama mereka melahirkan The Huntsman: Winter’s War yang dijual sebagai “cerita sebelum Snow White” dalam bahan promosinya. Jualan untuk prekuel sekaligus sekuel (ya, keduanya!) bagi sang predesesor ini tidak hanya berhenti hingga disitu sebab sejumlah bintang kelas A pun turut direkrut, menyerupai Jessica Chastain dan Emily Blunt, disamping Charlize Theron beserta Chris Hemsworth yang kembali mengulang tugas mereka. Dengan konfigurasi lini pemain utama semenggoda ini, tentu ada keinginan The Huntsman: Winter’s War sanggup menebus kesalahan-kesalahan jilid sebelumnya. Tapi keinginan tinggalah keinginan kala apa yang terlihat hebat di atas kertas ternyata kesulitan mengilap begitu terpampang di layar perak. 

Mulanya, The Huntsman: Winter’s War yaitu sebuah prekuel bagi Snow White and the Huntsman dengan setidaknya 30 menit pertama berisi kilas balik ke kehidupan Ravenna (Charlize Theron) dan sang pemburu, Eric (Chris Hemsworth), sebelum keduanya berseteru. Ravenna diketahui mempunyai seorang adik berjulukan Freya (Emily Blunt) yang mendapat pengkhianatan dari tunangannya sehingga membentuk diri Freya sedingin sekaligus sekejam sang kakak. Freya membangun kerajaannya sendiri di wilayah Utara, kemudian merekrut bocah-bocah untuk dilatih sebagai pasukannya – disebut ‘Huntsman’ – yang tidak mengakui keberadaan cinta. Salah satu rekrutannya yaitu Eric yang mempunyai ketertarikan berlebih kepada Sara (Jessica Chastain), sesama huntsman. Keduanya berencana kabur dari kerajaan Freya untuk membuatkan kisah cinta mereka. Tentu saja Freya tak mengijinkan dua sejoli ini berbahagia sehingga perpisahan pun tak bisa terelakkan lagi. Bertahun-tahun dirundung duka, Eric membantu Snow White memerangi Ravenna yang membawa kita memasuki fase sekuel dalam Winter’s War. Pada tahapan ini, Eric berusaha melacak keberadaan cermin gila demi menghancurkannya ditemani empat kurcaci, dan seorang ksatria, sebelum benda berkekuatan magis tersebut jatuh ke tangan Freya yang diam-diam juga telah mengincarnya. 

Sejatinya Winter’s War tergolong menarik apabila diproyeksikan sepenuhnya sebagai prekuel alih-alih turut menggelembungkan kisahnya menjadi sekuel apalagi tanpa kehadiran Snow White (and it’s really weird). Masa kemudian Ravenna, termasuk hubungannya dengan sang adik yang seketika mengingatkan kita pada Frozen, mempunyai amunisi memadai untuk dikulik lebih jauh. Kenapa ia bisa hingga pada titik kejahatan paripurna? Atau, bagaimana ia memperoleh kekuatannya? Lalu, apa dampak kemunculan sisi gelap Ravenna bagi orang-orang terkasihnya? yaitu serangkaian pertanyaan yang lebih sepatutnya dipertanyakan ketimbang “bagaimana masa kemudian Eric sebelum berjumpa Snow White?” menyerupai dilakukan oleh si pembuat film, Cedric Nicolas-Troyan, beserta duo peracik skrip, Evan Spiliotopoulos dan Craig Mazin. Ya, sangat mengherankan memang melihat keputusan tim dibelakang layar untuk mengabaikan Ravenna yang perkembangan karakteristiknya memungkinkan bergerak dinamis demi memperlihatkan panggung bagi Eric yang cenderung datar-datar saja. Sebagai abjad yang mendapat sorotan lebih – bahkan dipampang di judul – Eric jauh dari kata menarik, bahkan terlibas habis oleh Freya. Jalan hidupnya tidak menggugah untuk diikuti termasuk kisah percintaannya yang terkesan dipaksakan, terburu-buru dalam pengembangannya sekaligus bercita rasa hambar. 

Penulisan naskah yang sembrono diperparah pula oleh absennya chemistry antara Chris Hemsworth dengan Jessica Chastain. Sulit untuk meyakini bahwa Eric dan Sara yaitu pasangan sejati. Menginvestasikan emosi kepada dua sejoli ini juga bukan perkara gampang sehingga ketika mereka dipaksa berpisah atau ketika kenyataan terkuak, tidak meninggalkan bekas apapun kecuali rasa tidak peduli. Dengan ketidakmampuan menciptakan penonton bersimpati kepada abjad utama, malah saya lebih ingin melihat duo ratu jahat beraksi daripada duo ksatria, maka ketertarikan untuk Winter’s War terus menerus menguap seiring berjalannya durasi. Terlebih lagi, film pun tidak terang ingin diletakkan di ranah mana dengan posisinya yang serba tanggung antara ingin mengarah ke historical period atau fantasi berbasis dongeng. Jika Winter’s War memang diniatkan sebagai film dongeng – mengusut dari parade makhluk fantasinya beserta bahan promo – daya magis sama sekali tidak dimilikinya. Kostum yang dikenakan oleh barisan karakternya memang terjuntai menawan dan efek khususnya cukup baik dalam memvisualisasikan latar antah berantahnya, tetapi kesan epik apalagi mencengangkan menyerupai ketika menyaksikan, katakanlah, Cinderella, enggan muncul. 

Dan kalau kau mengharapkan adanya peperangan akbar sebab judulnya mengisyaratkan itu, hempas jauh-jauh karena judul sebatas judul. Tidak ada peperangan besar-besaran dalam film ini (well, bujetnya mengalami pemangkasan cukup banyak) melainkan sebatas sekumpulan adegan-adegan pertarungan tanpa bekal koreografi mumpuni yang akan menciptakan siapapun pecinta film historical period memutar-mutar bola mata dan menguap lebar-lebar. Bahkan kau juga tidak bisa berharap banyak kepada jajaran pemainnya yang menjadi korban kekacauan naskah, menyerupai duo Hemsworth-Chastain yang kesalahan mereka telah saya jabarkan di paragraf sebelum ini, Emily Blunt yang motivasi karakternya terlalu lemah pula dipertanyakan hingga Charlize Theron yang sekalipun tetap memberi kengerian pada sosok Ravenna namun gerak geriknya terlalu dibatasi dan sebagian besar atraksinya telah diungkap melalui trailer mengingat porsi tampil Theron di Winter’s War pun hanya sepersekian menit. Meski upaya keras mereka sedikit banyak mengangkat derajat film, namun keberadaan mereka tetaplah tersia-sia karena potensi besar masing-masing tak pernah dimaksimalkan Cedric Nicolas-Troyan yang menyerupai kebingungan dengan visinya untuk Winter’s War.

Poor (2,5/5)