October 17, 2020

Review : The Impossible


Close your eyes, think of something nice.” – Maria 

Di tengah sukacita perayaan Natal dan gegap gempita dalam menyambut pergantian tahun, sebuah kunjungan yang sama-sekali tidak dibutuhkan menyambangi Samudra Hindia pada pagi hari yang cerah ceria di 26 Desember 2004. Siapapun tidak ada yang menyangka jikalau kegiatan di esok hari yang tampaknya akan berjalan tidak berbeda dengan hari kemarin akan terinterupsi oleh gelombang Tsunami yang mengamuk dan menyerbu ke daratan. Tsunami mematikan yang menghempas 14 negara – beberapa diantaranya yakni Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand – ini merenggut kurang lebih 230 ribu jiwa. Sontak, kehidupan jutaan keluarga di banyak sekali negara pun tidak lagi sama, termasuk keluarga Belon yang cerita usaha hidup mereka dikala Tsunami memporakporandakan Khao Lak, Thailand, diangkat ke layar lebar dengan tajuk The Impossible. Adalah Juan Antonio Bayona, sutradara asal Spanyol, yang memulai karir film panjangnya melalui The Orphanage yang ditunjuk sebagai sutradara. Di bawah penggarapan Bayona, The Impossible pun bermetamorfosis layaknya The Orphanage, hanya saja… berkali-kali lipat lebih menyeramkan. Tsunami terang lebih berhasil dalam menciutkan nyali penonton disertai debaran jantung yang begitu cepat serta menjadikan imbas traumatis ketimbang para makhluk halus. 

The Impossible menyoroti keluarga Bennett yang tengah melancong ke sebuah resor glamor di Khao Lak, Thailand, selama libur Natal dan tahun baru. Maria (Naomi Watts) dan Henry (Ewan McGregor) berencana untuk menjalani family time bersama ketiga putra mereka; Lucas (Tom Holland), Thomas (Samuel Joslin), dan Simon (Oaklee Pendergast), sesudah hari demi hari disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Rencana untuk bersantai ria dan mengistirahatkan badan serta pikiran bersama keluarga rupanya hanya tinggal sekadar rencana. Tanggal 26 Desember 2004, matahari bersinar cerah menarik hati para turis untuk menghabiskan waktu di luar, entah untuk bermain air atau sekadar jalan-jalan. Keluarga Bennett memutuskan menjalani pagi itu di kolam renang resor. Segalanya tampak baik-baik saja, hening melenakan. Akan tetapi, tiba-tiba para turis mencicipi getaran, jendela-jendela bergoyang, burung terbang berputar, dan kemudian disusul bunyi gemuruh yang terdengar keras dan menakutkan. Belum sempat mereka menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, ombak setinggi 30 meter menerjang resor dan menghancurkan segalanya. Maria dan Henry hanyut terseret arus yang mengalir deras tanpa ampun, memisahkan mereka dari Henry, Thomas, serta Simon yang tak terang rimbanya. 
Juan Antonio Bayona tidak berpanjang-panjang dalam memperkenalkan keluarga Bennett kepada penonton. Hanya dalam hitungan waktu belasan menit, Tsunami telah memperlihatkan batang hidungnya dan menyapu daratan Khao Lak. Kinerja tim imbas khusus beserta sinematografer, Oscar Faura, dalam memperlihatkan citra mengenai terjangan Tsunami patut mendapat acungan dua jempol. Terasa begitu aktual dan mencekam. Penggabungan antara rekaman orisinil dengan bahan yang di-shoot di Spanyol, sangat mulus. Bagusnya, penonton pun diajak untuk terlibat ke dalam film. Saat peristiwa memilukan tersebut terjadi, kita seakan-akan menjadi salah satu dari turis yang tengah bersantai ria di sekitar kolam renang. Lalu, gelombang itu datang, melenyapkan segala sesuatu di sekitar, dan mengombang-ambingkan kita di arus yang mengalir deras. Pada titik ini saya memikirkan bagaimana perasaan para korban Tsunami dikala menyaksikan ‘reka ulangnya’ di layar lebar. Setidaknya, bagi saya, selama dua hari seusai menyimak film ini kerap dihantui oleh mimpi jelek dan perasaan tidak nyaman setiap mendengar bunyi gemuruh. Terdengar menggelikan dan berlebihan? Tapi inilah yang sesungguhnya terjadi. 
Salah satu kekuatan dari The Impossible yakni penekanannya yang sangat berpengaruh terhadap detil. Inilah yang acapkali diabaikan oleh film-film yang kisahnya beranjak dari peristiwa serupa – Anda bisa memasukkan ‘film Tsunami abal-abal’ buatan sineas kita yang rilis setahun silam – sehingga tidak ada yang bisa penonton dapatkan seusai menontonnya kecuali rasa kecewa dan jengkel. Dalam The Impossible, setiap departemen menjalankan kiprah masing-masing dengan semestinya. Tidak hanya tim imbas khusus serta sinematografer yang patut mendapat pujian, tetapi juga departemen tata rias, art direction, serta musik skor. Lihat bagaimana cara mereka menggambarkan Khao Lak usai terjangan Tsunami, luka-luka yang menghiasi badan Maria beserta para korban, serta suasana rumah sakit yang riuh. Membuat saya geleng-geleng kepala saking rapi dan detilnya. Saya pun meratapi keputusan saya dalam membawa serta kudapan ke dalam gedung bioskop yang pada balasannya tidak tersentuh karena kehilangan selera makan melihat bagaimana tim tata rias memperlihatkan keahlian mereka dalam ‘menggoreskan’ luka ke badan setiap pemain, khususnya Naomi Watts, yang menciptakan siapapun yang melihatnya miris. 

Ketidakberdayaan insan dikala dihadapkan kepada alam yang menggila, cinta kasih dari orang renta yang tidak kenal lelah, sampai ketidakmungkinan yang mungkin terjadi di dalam setiap bencana disorot habis-habisan oleh Juan Antonio Bayona beserta penulis skrip, Sergio G. Sanchez. Ketika air telah surut, bahaya tampaknya tidak lagi menghadang, bukan berarti kasus telah selesai. Justru di sinilah tantangan yang sebetulnya dimulai. Bagaimana membangun kembali kehidupan sesudah badan ini dihinggapi begitu banyak luka dan syok yang nyaris tidak mungkin untuk disembuhkan. Dan inilah yang terjadi kepada The Impossible. Dimulai sebagai sebuah ‘disaster movie’, paruh kedua film beralih menjadi ‘survival drama’ sekaligus ‘tearjerker movie’ yang akan menguras emosi Anda habis-habisan. Apabila Anda tergolong orang yang gampang menitikkan air mata, maka ada baiknya membawa bekal tissue kala memutuskan untuk menonton The Impossible. Dada ini sesak dibuatnya dan banjir bandang melanda pelupuk mata, mengucur deras tak tertahankan. Juan Antonio Bayona memperlihatkan sebuah potret yang riil dengan dramatisasi yang diolah sedemikian rupa sehingga sekalipun terkadang terasa sedikit berlebihan, namun tetap efektif dalam menciptakan mata penonton sembab. 
The Impossible yakni sebuah sajian pembuka di awal tahun yang menggetarkan hati. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada sebuah film produksi dari luar Hollywood – ini buatan Spanyol – yang mampu memotret peristiwa kemanusiaan di penghujung 2004 tersebut dengan luar biasa. Ketika Clint Eastwood membuka Hereafter dengan Tsunami yang membabi buta menyeruak ke daratan, saya berdecak kagum dibuatnya dan menerka tidak akan ada yang bisa melampauinya, setidaknya dalam waktu dekat. Namun film garapan Juan Antonio Bayona ini menandakan bahwa saya salah. The Impossible yakni salah satu dari sejumlah film yang patut dirayakan dengan tepuk tangan menggema memenuhi gedung bioskop seusai film selesai diputar. Trio pemain utamanya; Naomi Watts, Ewan McGregor, dan Tom Holland bermain sungguh cemerlang sementara departemen imbas khusus, tata rias, sampai musik skor saling menopang satu sama lain. Ini yakni sebuah melodrama dengan penggarapan yang sangat serius dan patut mendapat perhatian lebih dari pecinta film. Tidak hanya bisa memperlihatkan citra bagaimana Tsunami meluluhlantakkan Khao Lak dengan sangat aktual dan mencekam, tetapi juga mampu mengaduk-aduk emosi penonton dengan dramatisasinya yang ampuh dalam menciptakan pelupuk mata basah. Usai menyaksikan The Impossible, teman saya yang biasanya jarang berkomentar berbisik, “film yang horror banget.”

Outstanding