October 22, 2020

Review : The Intern


“Well, I was going to say intern slash best friend.”

Mengetahui Nancy Meyers – sutradara dari salah satu film favorit saya, The Parent Trap, sekaligus The Holiday yang tetap saja mempunyai cita rasa elok sekalipun telah ditonton beberapa kali – akan meluncurkan film gres usai 6 tahun vakum dari industri perfilman, reaksi pertama ialah melaksanakan tarian penuh kegembiraan. Yup, happy dance! Seolah kabar ini masih belum cukup membahagiakan, film bertajuk The Intern ini pun melanjutkan kebiasaan Meyers memasangkan dua bintang film berkaliber Oscar dengan kali ini berasal dari generasi berbeda, yakni Anne Hathaway dan Robert De Niro, untuk saling beradu akting. Sungguh menggugah selera, bukan? Tapi sebelum kau mengkhawatirkan The Intern akan bertutur mengenai kisah roman beda usia (sejujurnya pikiran negatif ini sempat terbersit, yikes!), hening saja, korelasi Hathaway dan De Niro disini lebih bersifat profesional alih-alih percintaan yang sedikit banyak akan mengingatkan penonton pada kekerabatan Hathaway dan Meryl Streep yang kejamnya tiada ampun lagi di The Devil Wears Prada dengan Hathaway menggantikan posisi Streep. Whoa! 

Robert De Niro ialah Ben Whitaker, duda berkepala tujuh yang mengalami kejenuhan akut paska sepeninggal sang istri tercinta dan pensiun dari karir gemilangnya. Mencoba aneka macam macam aktifitas untuk mengisi kekosongan di hari senjanya, tapi tak satupun yang berhasil hingga Ben melihat ada peluang menemukan ‘kehidupan baru’ dengan bekerja di perusahaan penjualan pakaian berbasis online yang kebetulan tengah mencari pemagang senior. Memiliki jejak rekam di dunia bisnis selama puluhan tahun, ditunjang pula mempunyai kepribadian supel, gampang bagi Ben untuk mengikuti keadaan di kantor barunya sekalipun ritme kerjanya jauh berbeda. Satu-satunya tantangan berat bagi Ben ialah menaklukkan hati atasannya, Jules Ostin (Anne Hathaway), yang sedari awal telah menjaga jarak dengan Ben. Berulang kali Jules mengatakan penolakan untuk berhubungan dengan Ben, namun Ben terus mengupayakan biar keduanya sanggup menjalin korelasi baik yang secara perlahan tapi niscaya mulai terbentuk diantara Jules dan Ben terutama sesudah masing-masing menyadari bahwa mereka sejatinya saling membutuhkan satu sama lain. 

Satu kata terlontar dari verbal sesaat sesudah menyaksikan The Intern adalah, “wow, saya sangat mengasihi film ini!.” Menghibur dan menghangatkan hati. Terindikasi akan mengandalkan senda gurau tak berisi sekadar untuk meriuhkan suasana menyerupai terlihat dalam trailer, kenyataannya The Intern malah jauh lebih dari itu. Seperti halnya film-film Nancy Meyers terdahulu, The Intern pun tidak sesederhana tampak luarnya. Dalam artian, penonton tidak semata-mata dikondisikan untuk terbahak-bahak di dalam gedung bioskop kemudian pulang dengan tangan hampa serta melupakan sebagian besar isi tontonan, melainkan ada sesuatu lebih yang sanggup dipetik darinya. Di paruh awal film, kala masih tahapan perkenalan hingga mengemukanya konflik, The Intern penuh candaan menggelitik – bahasan guyonan seputar seksisme di dunia kerja maupun senior bau kencur – yang akan membuatmu tersenyam-senyum hingga terbahak utamanya dalam pertemuan awal Ben dengan pemijat di kantor, Fiona (Rene Russo), percakapan-percakapan santai di kantor dan tatkala Ben bersama rekan-rekan kerjanya bergaya ala Ocean’s Eleven menyusup ke rumah ibu Jules guna menemukan sebuah laptop. 

Tapi begitu memasuki paruh akhir, nada penceritaan The Intern berubah secara drastis. Gelak tawa mulai memudar, tugas Joy (kamu tahu, huruf dari Inside Out) yang mayoritas tergantikan oleh Sadness. Penonton pun berkemas-kemas mengeluarkan tissue, khususnya di 30 menit terakhir yang menghujam emosimu keras-keras. Persoalan-persoalan yang semula tampak remeh, terakumulasi menjadi semacam angin ribut besar menjadikan salah satu huruf utama dalam film mengalami kebimbangan untuk menentukan dengan pertanyaan utama, “apakah memang karir sukses tidak sanggup berjalan beriringan dengan rumah tangga penuh kebahagiaan?.” Pergolakan batin Jules dan Ben disini berasa otentik alasannya ya, apa yang mereka hadapi tidak jauh-jauh dari permasalahan personal masyarakat kebanyakan, menyerupai tekanan keras dunia kerja, impian memperoleh kehidupan yang sempurna, hingga ketakutan akan kesepian di hari tua. Nancy Meyers tidak membuat keduanya sebagai huruf bombastis dengan problem hidup yang bombastis pula melainkan lebih ke insan biasa sehingga memungkinkan para penonton untuk terhubung, merasakan, sekaligus bersimpati terhadap konflik yang melingkupi mereka. 

Kecakapan Nancy Meyers dalam mengolah naskah berisi, cerdas, jenaka, dan menyentuh hati hasil dari premis kadaluarsa turut ditunjang oleh skoring menghanyutkan Theodore Shapiro, penataan artistik menawan (menghidupkan suasana kantor About the Fit milik Jules), serta paling utama, akting brilian dari jajaran pemainnya baik utama maupun pendukung. Tidak ada yang lebih tepat dari menyatukan Robert De Niro dan Anne Hathaway untuk bersinergi di garda terdepan. Saat dipisahkan, masing-masing tampil ciamik dengan De Niro mengatakan karisma kuatnya sebagai Ben yang berhati mulia sampai-sampai sulit bagi penonton untuk tidak mengasihi Ben, sedangkan Hathaway tampil meyakinkan sebagai wanita muda ambisius yang jauh di lubuk hatinya menyimpan ketakutan besar. Dan dikala disatukan, jadinya jauh lebih dahsyat lagi. Keduanya benar-benar tampak menyerupai dua orang yang saling membutuhkan satu sama lain untuk saling menguatkan. Untuk saling melengkapi. Seolah-olah memang ditakdirkan bersama (dalam artian persahabatan atau ayah-anak, bukan percintaan). Memercikkan unsur magis dan kehangatan, boleh jadi De Niro-Hathaway ialah pasangan terbaik di layar lebar tahun ini. Keren!

Outstanding