October 20, 2020

Review : The Island Funeral


Menandai kembalinya Pimpaka Towira ke ranah film fiksi panjang usai dua belas tahun terakhir berkutat dengan karya dokumenter dan film pendek, The Island Funeral yang setahun silam berhasil memboyong penghargaan Best Asian Future Film Award di Tokyo International Film Festival ialah sebuah sarana tepat untuk kembali ke dunia layar lebar. Sepintas, ini kolam film berpendekatan road movie biasa yang mengetengahkan pencarian jati diri dari barisan abjad utamanya, namun seiring penonton semakin terlibat ke dalam film, nyata-nyatanya The Island Funeral lebih dari sekadar itu. Malahan ada upaya juga dari si pembuat film untuk mencampurbaurkan dengan elemen genre lain semacam horor bersifat supranatural dan dokumenter yang justru menginjeksikan daya tarik tersendiri bagi film bersisipan kritik sosial halus mengenai problematika sosial politik yang beranak pinak di Negeri Gajah Putih dibalik upaya mengadvokasi keberagaman serta kebebasan menyuarakan pendapat ini. 

Mula-mula penonton diperkenalkan pada tiga abjad utama dari film; abang beradik Muslim, Laila (Heen Sashitorn) dan Zugood (Aukrit Aukrit Pornsumpunsuk), serta teman kuliah dari Zugood, Toy (Yossawat Sittiwong). Berasal dari Bangkok, mereka tersesat dalam perjalanan menuju Pattani – salah satu provinsi paling selatan di Thailand yang tengah mengalami konflik radikal dari kelompok separatis – karena ketidakmampuan membaca peta. Pada menit-menit pertama, Towira lebih banyak menyoroti langgar verbal ketiga tokoh ini yang saling menyalahkan satu sama lain. Tujuan perjalanan mereka ialah menjumpai bibi Laila dan Zugood yang telah bertahun-tahun lamanya tak terdengar kabarnya. Untuk menjangkau kampung halaman sang bibi di suatu wilayah berjulukan Al-kaf sendiri tak berlangsung mulus khususnya alasannya ialah mereka terus menerus salah mengambil jalur yang secara sedikit demi sedikit memupuk rasa tercekam dari masing-masing karakter. 

The Island Funeral memulai hentakan pertamanya ketika Laila tiba-tiba menghentikan kendaraan beroda empat yang dikendarainya alasannya ialah merasa melihat seorang wanita telanjang berbalut rantai melintas di jalanan. Mencoba menandakan penglihatannya, ia tetapkan menelusuri keberadaan si wanita yang lantas tak membawa hasil apapun. Berada dalam kegelapan – well, posisi mereka jauh dari pemukiman warga – menebarkan aroma mistis tak mengenakkan. Apakah Laila benar-benar melihat sesosok wanita tersebut atau itu sekadar ilusinya saja? Kita memang tidak memperoleh konfirmasi secara pribadi dari Towira mengenai kejadian ini, namun yang jelas, timbul ketertarikan mengikuti jalannya film dan kalau mengaitkannya ke pembacaan film, keadaan terdesak atau terancam sanggup mengungkap sifat orisinil manusia. Untuk kasus ini, bisa dilihat dampaknya pada Toy yang melontarkan komentar bernada prasangka jelek mengenai perasaan tidak amannya berada di Pattani yang notabene didominasi oleh masyarakat Muslim alasannya ialah ia ialah seorang non-Muslim. 
Tidak bisa sepenuhnya disalahkan alasannya ialah wilayah tersebut tengah berkonflik – kadangkala Towira memperlihatkan aktifitas anggota militer – tapi penegasan ihwal Toy sanggup disimak dikala mereka berkunjung ke sebuah masjid yang terhenti pembangunannya. Pun begitu, The Island Funeral bukan semata-mata berbicara mengenai prasangka (kendati, ya, ada banyak prasangka timbul di beberapa bagian), film ini belakang layar lebih kaya dari itu. Ada subteks terkait kegundahan hati Laila sebagai wanita Thailand modern yang menjalani hidup di kota besar soal identitasnya dan dialog ihwal idealisme berkenaan kerukunan dibalik adanya keberagaman yang boleh jadi merupakan ekspresi kegalauan Towira terhadap situasi sosial politik Thailand yang tak bersahabat. Terdengar berat? Tidak juga. Sekalipun laju film seringkali lambat, The Island Funeral tak pernah menjemukan berkat kepiawaian Towira mengolah rasa dari tuturan yang teramat mengikat. Dia sanggup membetot atensi penonton sedari adegan mistik yang dialami Laila dan secara konstan film lantas dipenuhi teka-teki bernuansa mistis yang akan membuatmu mengalami fase “ingin mengetahui” ihwal apa yang bahwasanya terjadi.

Outstanding (4/5)