October 28, 2020

Review : The Jungle Book


“If you can’t learn to run with the pack, one of these days, you’ll be someone’s dinner.” 

Seusai dibentuk terperangah oleh pemanfaatan maksimal kemajuan teknologi dalam Avatar, Life of Pi, maupun Gravity sehingga ketiganya sangat layak disemati label “keajaiban sinema”, sekarang giliran pembiasaan terbaru dari The Jungle Book yang membuat saya berdecak kagum tiada habis-habisnya di dalam bioskop. Mungkin pemakaian kata ‘mahakarya’ agak sedikit terdengar berlebihan, tapi entahlah, saya kesulitan menemukan padanan paling tepat untuk mendeskripsikan menyerupai apa kegemilangan film instruksi Jon Favreau (dwilogi Iron Man, Chef) ini. Dari segi tuturan dongeng sih sebenarnya hampir tidak ada pembaharuan alasannya menyerupai halnya versi anyar Cinderella yang dilepas oleh Disney tahun lalu, The Jungle Book pun cukup setia terhadap alur yang telah digariskan oleh Rudyard Kipling. Jika kau telah membaca bukunya atau setidaknya telah menonton sejumlah film pembiasaan lainnya, kejutan ialah hal terakhir yang mungkin kau temukan disini. Segalanya terasa sangat familiar. Namun cara Favreau menceritakan kembali kisah klasik ini tanpa neko-neko memakai medium bahasa gambar yang telah di-upgrade ke kelas premium ialah alasan utama mengapa The Jungle Book gampang untuk dicintai. 

Mowgli (Neel Sethi) ialah seorang bocah yatim piatu yang dibesarkan oleh seekor serigala berjulukan Raksha (disuarakn oleh Lupita Nyong’o) sehabis ditemukan Bagheera (Ben Kingsley), seekor macan kumbang, dalam keadaan terlantar di tengah hutan. Berkat Bagheera yang secara penuh tanggung jawab menjalankan tugasnya sebagai mentor, Mowgli mampu bertahan hidup bersama kawanan serigala dan kawanan binatang liar lainnya di hutan dengan tenang setidaknya hingga kedatangan harimau Bengal, Shere Khan (Idris Elba), yang menganggap Mowgli tidak selayaknya berada diantara para satwa. Goresan luka di wajah Shere Khan senantiasa mengingatkannya untuk membenci para insan yang dianggapnya sebagai makhluk keji dan perusak. Menyadari keselamatan Mowgli terancam, Bagheera pun mengantarkan si anak didik kembali ke kawasan asalnya meski Raksha menentang keras rencana mereka berdua. Di tengah-tengah perjalanan pencarian jati diri mengarungi hutan belantara, Mowgli terpisah dari Bagheera kala Shere Khan berusaha menyerang. Takdir lantas mempertemukan Mowgli dengan ular raksasa mengerikan, Kaa (Scarlett Johansson), dan beruang madu sedikit oportunis, Baloo (Bill Murray), yang menjadi titik balik kehidupan Mowgli. Perlahan tapi pasti, Mowgli mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. 

Ya, ketimbang lancang mengacak-acak sebuah karya sastra yang telah menempati hati banyak orang, Jon Favreau memutuskan untuk patuh pada teladan dasar kisah dengan hanya sedikit melaksanakan perombakan – dalam hal ini mencoba agak gelap dan lebih realistis pada tuturan kisahnya. Dia tahu apa yang membuat dongeng aslinya berhasil dan ia juga tahu apa yang menimbulkan versi animasi Disney mendapat status klasik. Si pembuat film mempertahankan itu, kemudian menawarkan sentuhan berupa imbas khusus guna memberi kesan faktual pada visualisasi. Beruntung perkembangan teknologi sangat mengakomodir kebutuhan Favreau sehingga nuansa magis, megah mewah, pula tetap realistis dalam pembentukan lanskap beserta segala rupa pengisi hutan bisa kau temukan di setiap sudut film. Semenjak menit pertama – terhitung sedari peralihan logo Disney ke penampakan pertama hutan kawasan Mowgli bernaung – bersiaplah untuk dibentuk terpukau menyaksikan betapa mengagumkannya kinerja Moving Picture Company dan Weta Digital dalam membuat pemandangan tepat bagi para penonton yang membayar mahal tiket bioskop. Saking apik dan realistisnya, kau bahkan hingga lupa bahwa tetesan air, ranting-ranting pohon, barisan satwa liar, hingga semua hal yang menghiasi The Jungle Book kecuali Mowgli ialah kreasi komputer alih-alih faktual adanya. Bukankah itu sungguh impresif? Menontonnya dalam format 3D di layar bioskop merupakan pilihan paling jitu untuk bisa mencicipi sensasi sinematisnya. 

Dan jangan hanya mengira CGI ialah satu-satunya kelebihan The Jungle Book alasannya kecakapan Jon Favreau mengejawantahkan goresan pena Justin Marks hasil saduran dari karya Kipling ke bahasa gambar yang bercerita pun teruji disini. Penonton tak sekadar dibuai melalui mata, melainkan juga melalui hati. Lagi-lagi menyerupai Cinderella (semoga kau belum bosan dengan perbandingan ini), tidak peduli seberapa sering kau membaca, melihat, atau mendengar dongeng petualangan si bocah hutan, The Jungle Book akan tetap membuatmu tertaut oleh penceritaannya. Ada perasaan bersemangat menyaksikan tingkah polah Mowgli di bawah training Bagheera atau kala mengikuti perjalanannya menyusuri hutan belantara, ada perasaan hangat melihat relasi Mowgli bersama tiga binatang pemberi imbas positif begitu besar bagi kehidupannya; Bagheera, Raksha, serta Baloo, ada perasaan murung menjadi saksi mata atas perpisahan Mowgli dengan ibu angkatnya atau ketika santunan yang coba diberikan oleh Mowgli malah berbuah petaka, ada perasaan bangga diikuti tertawa-tawa riang menyimak upaya Baloo memanfaatkan ketangkasan (plus kepolosan) Mowgli maupun interaksi yang melibatkan keduanya salah satunya dalam nomor klasik “The Bare Necessities”, dan pada kesudahannya ada juga perasaan takut ketika kita diperjumpakan pertama kali dengan Kaa yang akan membuat para pemilik fobia terhadap ular seketika lemas di bangku bioskop atau paling tidak tutup mata (seperti saya, ha!) beserta Shere Khan yang sangat mengintimidasi. Dengan emosi terus menerus dipermainkan menyerupai ini, sulit untuk mencicipi kebosanan kala menyantap The Jungle Book

Keberhasilan The Jungle Book memainkan emosi penontonnya sedemikian rupa tidak terlepas pula dari sumbangsih pelakon dan jajaran pengisi suaranya yang solid. Tidak sia-sia Disney merogoh kocek cukup dalam demi merekrut sejumlah bintang kelas A untuk meminjamkan bunyi mereka memeriksa hasilnya yang sungguh memuaskan. Berkat Idris Elba, penonton merasa takut, terintimidasi, sekaligus jengkel bukan kepalang terhadap sosok Shere Khan yang bisa jadi merupakan salah satu huruf jahat paling mengancam di film Disney dalam beberapa tahun terakhir. Lalu vokal syahdu Lupita Nyong’o menegaskan sisi keibuan Raksha, sementara Bill Murray menebarkan banyak keceriaan melalui Baloo yang berulang kali celetukan maupun tindak tanduknya memantik tawa berderai-derai. Bagaimana dengan Ben Kingsley, Scarlett Johansson, dan Christopher Walken (menyuarakan orangutan King Louie)? Walau tak semenonjol Elba, mereka menawarkan apa yang diharapkan oleh huruf masing-masing untuk hidup. Begitu pula pendatang gres Neel Sethi yang mencurahkan energi positif bagi Mowgli sehingga membuat karakternya gampang untuk dicintai. Terasa sedikit kaku di beberapa adegan, Sethi tetap bisa bersinar secara keseluruhan terlebih berkaca pada fakta ia sejatinya berakting seorang diri di hadapan layar biru sepanjang durasi film.

Outstanding (4/5)