October 31, 2020

Review : The Legend Of Trio Macan


Persepsi publik secara dominan terhadap Trio Macan bisa dibilang cenderung negatif, khususnya bagi mereka yang tak menggemari musik Dangdut dengan taburan goyang serba heboh nan sedikit banyak erotis. Maka saat trio penyanyi dangdut yang baru-baru ini berganti deretan membintangi sebuah film layar lebar berjudul The Legend of Trio Macan, sudah bisa ditebak sejumlah penghakiman awal akan merebak. Masyarakat terang memandang sebelah mata. Ini juga bukan sesuatu yang mengherankan (serta salah), mengingat jejak rekam trio ini dalam dunia seni tugas sama sekali tidak cihuy. Apakah ada yang masih mengingat bahwa mereka – dalam deretan lawas – pernah membintangi film-film dengan kualitas memprihatinkan semacam Darah Janda Kolong Wewe dan Hantu Puncak Datang Bulan? Rasa-rasanya hanya segelintir orang saja yang masih mengingat keberadaan dua film tersebut. Melalui The Legend of Trio Macan, trio ini seolah ingin melaksanakan ‘penebusan dosa’, meski yah… tentunya dengan tetap mempertahankan ciri khas mereka. 

Tanpa berlama-lama, penonton lantas diajak untuk memeriksa inti permasalahan yang akan diangkat sepanjang film. Berlatar seratus tahun silam di sebuah kampung Cina Peranakan, Bu Beng Chot atau A Chot (Hairil Guci), ketua akademi silat yang konon katanya sangat ditakuti, ‘memelihara’ sebuah kutukan yang sedikit banyak menghalangi kewibawaannya sebagai seorang penjahat kelas kakap; badan yang mungil. Satu-satunya cara untuk melenyapkannya ialah dengan menikahi seorang perawan bertanda lahir Macan sebelum malam Imlek tiba. Setelah mencari kesana kemari, pilihan jatuh kepada Iva (Iva Novanda), putri dari seorang pemilik kedai. Dengan memanfaatkan kekuasaannya, maka tidak sulit bagi A Chot untuk mendapat Iva… atau itu yang setidaknya yang beliau pikirkan. Tidak ingin menikahi A Chot, terlebih Iva telah menjalin korelasi dengan A Yang (Rully Fiss), maka Iva pun menentukan untuk kabur. Dalam pelariannya, beliau bertemu dengan Lia (Lia Amelia) dan Chacha (Sherly Chacha) yang mengantarkannya kepada Madame Nyong (Neni Angraini). Melalui Madame Nyong inilah, Iva mendapat banyak pelajaran berharga, khususnya mengenai bagaimana cara menghadapi A Chot dan pasukannya. 

Ditilik dari segi gagasan, sesungguhnya The Legend of Trio Macan memiliki bahan yang menarik untuk disimak. Sang nahkoda kapal, Billy Christian, mencoba untuk memperlihatkan ‘penghormatan’ terhadap film-film Kung Fu yang serba klise nan konyol dan memadukannya dengan banyak sekali macam humor – baik dalam bentuk slapstick maupun satir – acuan ‘pop culture’, serta Trio Macan yang asyik bergoyang dengan tembang ‘Iwak Peyek’ dan ‘Cicilalang’. Akan tetapi, sayangnya apa yang terbersit di pikiran maupun tertulis di atas kertas putih, seringkali tak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Ini tidak berjalan dengan lancar kala dituangkan ke dalam bahasa gambar. Memang ada beberapa adegan yang mampu menciptakan saya tertawa, tapi kebanyakan yang terjadi adalah… ‘awkward moment’ dimana bunyi ‘krik krik krik’ terdengar sayup-sayup. Tokoh-tokoh abnormal dan bangunan latarnya sesungguhnya telah memungkinkan film untuk menciptakan penonton ‘gaduh’ di dalam bioskop. Akan tetapi, skrip polesan Toha Essa kurang mendukung; kontinuitas alur dongeng tak rapi, dan lontaran ‘jokes’ yang seringkali meleset dari sasaran. 
Pun demikian, perjuangan dari Billy Christian dan tim patut mendapat apresiasi lebih. Jelas sekali The Legend of Trio Macan bukanlah film komedi murahan (atau ecek-ecek) menyerupai yang banyak masyarakat kira terlebih ditilik dari sisi ‘production value’ yang bisa dibilang ciamik. Tata kostum, tata rias, tata artistik, sampai sinematografi masing-masing mampu hadir dalam kualitas produksi yang mumpuni. Meski tidak sekuat tata produksi lainnya, musik skoring, koreografi laga, serta polesan efek khusus pun juga tidak muncul secara mengecewakan – walau tidak pernah benar-benar istimewa atau mengesankan. Kentara sekali bahwa film tidak digarap dengan semangat main-main, ada keseriusan di dalamnya, sekalipun tujuan diproduksinya film ini tidak lebih untuk kepentingan hiburan semata dengan memanfaatkan tren. Memang, pada kesudahannya The Legend of Trio Macan belum bisa untuk hadir sebagai sebuah suguhan penuh canda tawa yang memesona – dengan bangunan komedi yang masih setengah matang – akan tetapi, kebanggaan tetap patut disematkan atas perjuangan keras Billy Christian dalam menghadirkan kualitas produksi yang tergarap cermat sehingga film pun terselamatkan dari jurang keterpurukan.

Acceptable