October 18, 2020

Review : The Lego Batman Movie


“Wait a minute. Bruce Wayne is Batman… ‘s roommate?” 

Gelap, muram, serta depresif ialah gambaran Batman yang acapkali dimunculkan dalam film-film sang Manusia Kelelawar remaja ini terutama semenjak era Christopher Nolan. Tidak mengherankan kalau kemudian cukup banyak khalayak ramai yang menaruh anggapan bahwa film yang melibatkan superhero kepunyaan DC Comics ini memang seharusnya dilingkungi kemuraman dan nestapa, sampai-sampai usai menontonnya justru tersisa perasaan duka alih-alih bahagia. Ugh. Apakah sungguh teramat tidak mungkin untuk mengkreasi sebuah film Batman yang di dalamnya dipenuhi suka cita? Warner Bros. agaknya belum berani menjawab pertanyaan tersebut lewat instalmen resmi sang superhero (mungkin masih stress berat dengan Batman & Robin? Who knows), namun mereka mempunyai itikad baik untuk menjajalnya di The Lego Batman Moviespin-off dari film animasi The Lego Movie yang gesrek itu. Mengusung semangat dari semesta filmnya yang penuh warna, meriah, serta cenderung semau-mau gue, The Lego Batman Movie memberi perspektif menyegarkan dalam menuturkan kisah pahlawan dari Gotham City ini: bahwa Batman pun insan biasa yang sanggup berkelakar.

Jalinan pengisahan The Lego Batman Movie bermula dari upaya Batman (Will Arnett) dalam merampungkan misi mencegah salah satu musuh abadinya, Joker (Zach Galifianakis), untuk meluluhlantakkan Gotham City. Dapat diterka dengan mudah, misi ini berjalan sukses menyerupai semestinya. Yang mungkin tidak kita antisipasi, ada drama mencuat diantara dua pihak dari kubu bersebrangan tersebut. Joker mengklaim dirinya sebagai musuh terbesar Batman, sementara sang Ksatria Kegelapan enggan mengakuinya. Mendengar balasan “tidak” meluncur dari ekspresi Batman, sakit hati pun melanda Joker. Seperti layaknya seorang psikopat yang memperoleh penolakan, Joker merancang agresi balas dendam. Memanfaatkan momen pengumuman Barbara Gordon (Rosario Dawson) menjadi komisionaris polisi gres di Gotham, agresi dieksekusi. Tidak membuat kegaduhan, justru mengajak musuh-musuh Batman untuk mengalah bersama seakan ingin mengetes, “bagaimana ya perasaan Batman kalau tidak ada lagi kejahatan yang harus diatasinya?.” Batman sendiri menyadari, ini merupakan awal mula dari rencana besar Joker demi menghancurkan Gotham. Dibantu oleh pelayan setianya, Alfred (Ralph Fiennes), beserta Barbara atau Batgirl dan Dick Grayson atau Robin (Michael Cera), Batman pun sekali lagi berupaya untuk menghentikan kegilaan Joker.

Pola yang diusung oleh The Lego Batman Movie sama persis dengan sesepuhnya. Kegilaan menyenangkan ditebar sebanyak mungkin, digenjot semaksimal mungkin, sedari detik pertama hingga film tutup durasi. Bahkan bersamaan dengan logo-logo studio yang mengalunnya perlahan sekali itu menampakkan wujudnya, lawakan telah dilontarkan. Banyolannya bernada ajukan menyentil dan inilah yang akan kau dapatkan sepanjang film. Sasaran tembak si pembuat film beraneka macam, tidak sebatas pada semesta komik maupun film Batman itu sendiri dimulai dari era 40-an, 60-an, 90-an, hingga 2000-an meliputi Batman v Superman yang dihujani keripik pedas Maicih itu. Film juga ikutan ngenyek superhero dari studio sebelah (ehem, Marvel!), kemudian petinggi-petinggi studio, hingga film-film gede yang mempunyai abjad jahat legendaris (you name it!). Betul, lawakan-lawakan The Lego Batman Movie banyak mengandalkan pada rujukan budaya populer. Apabila kau sanggup menangkap lemparan rujukan si pembuat film, bersiaplah buat tertawa berderai-derai sepanjang 104 menit. Tapi kalaupun banyak yang meleset, tidak perlu risau alasannya film instruksi Chris McKay ini masih menunjukkan jalinan pengisahan yang imajinatif, seru, serta segar. 
Imajinatif karena menonton The Lego Batman Movie menyerupai melihat seorang bocah berimajinasi liar tengah asyik membuat dunianya sendiri yang mencampurbaurkan banyak elemen dalam permainan legonya, seru berkat alur cepatnya menghadirkan serentetan agresi menyenangkan selayaknya sebuah film superhero (hanya pembedanya, ini dalam format animasi), dan menyegarkan alasannya penonton memperoleh kesempatan didongengi kisah kepahlawan Batman memakai gaya bercerita yang cenderung berbeda. Tidak lagi bermuram durja, melainkan penuh kegembiraan. The Lego Batman Movie paham betul bagaimana caranya menempatkan diri. Tahu kapan saatnya berhura-hura dengan menampilkan sang abjad tituler dalam gaya slengean, tahu kapan saatnya harus serius yang menyumbangkan momen-momen menyentuh nan menghangatkan hati pada film. Serius disini tatkala film mengulik sisi ringkih dari Bruce Wayne/Batman menyerupai stress berat masa kemudian yang berujung ke kesendiriannya dan keengganannya mempunyai hubungan serius, sekaligus ketika menjalankan kewajibannya sebagai film untuk segala umur dengan menyempalkan pesan-pesan bermakna mengenai pentingnya keluarga, kepercayaan dan kerjasama. Hasilnya, sebuah paket hiburan keluarga yang komplit.

Outstanding (4/5)