July 3, 2020

Review : The Meg


“Men versus Meg is not a fight, it’s slaughter.” 
Bagi pemburu tontonan eskapisme, film terbaru yang dibintangi oleh Jason Statham, The Meg, terlihat memenuhi segala kualifikasi yang diperlukan untuk menjadi sajian penghempas beban pikiran. Betapa tidak, film ini mengedepankan Jason Statham yang notabene bintang film laga seru-seruan di jajaran pemain utama, sederet promonya menjual The Meg sebagai perpaduan antara Jaws (1975) yang legendaris itu dengan Deep Blue Sea (1999) yang seru itu, dan premisnya menjanjikan kita sebuah pertarungan tak terlupakan antara insan dengan hiu purbakala yang amit-amit gedenya. Sederet kombinasi yang sepertinya tak mungkin salah apabila ekspektasi kita dalam menyaksikannya di layar lebar telah diatur secara tepat, yakni memperoleh tontonan seru pengisi waktu senggang yang tidak memerlukan kinerja otak dan mempersilahkan para penontonnya untuk bernyaman-nyaman di bangku bioskop seraya mencemil berondong jagung. Saya pun memboyong ekspektasi senada ke gedung bioskop – bahkan jauh di dalam lubuk hati berharap film ini akan sereceh Sharknado (2013) – yang sayangnya itupun sulit dipenuhi oleh The Meg yang terasa kurang bergigi untuk ukuran sebuah film mengenai teror hiu ganas.
 
Karakter utama dalam The Meg yang garis besar ceritanya terinspirasi dari novel bertajuk Meg: A Novel of Deep Terror rekaan Steve Alten ini yakni seorang penyelam berjulukan Jonas Taylor (Jason Statham). Di permulaan film, kita menyaksikan agresi Jonas beserta timnya dalam menyelamatkan sekelompok ilmuwan yang kapal selamnya mengalami kecelakaan di Palung Mariana, salah satu kawasan paling mematikan di bumi. Awalnya sih, operasi ini berjalan sesuai dengan rencana, hingga kemudian mereka menerima serangan brutal dari seekor makhluk misterius yang memaksa Jonas untuk meninggalkan rekan-rekannya demi menyelamatkan para ilmuwan. Keputusannya tersebut menerima kecaman keras yang lantas mendorong Jonas untuk mengasingkan diri ke Thailand. Bertahun-tahun tak bersentuhan dengan misi penyelamatan, Jonas harus menghadapi ketakutannya kembali ketika beliau memperoleh panggilan kiprah dari akomodasi riset bawah laut, Mana One, di perairan lepas Tiongkok. Misi utama Jonas yakni mengangkut tiga ilmuwan, salah satunya yakni sang mantan istri, Lori (Jessica McNamee), yang terdampar di dasar samudra. Bukan sebuah misi yang gampang alasannya yakni para ilmuwan ini hanya mempunyai sedikit waktu untuk bertahan dan Jonas menerima kunjungan dari ‘kawan lama’ yang belakangan diketahui sebagai hiu putih berukuran 70 kaki, Megalodon. 

Menonton Jason Statham dan Megalodon saling beradu seni administrasi bertahan hidup di layar lebar seharusnya menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Seharusnya. Tapi ketika sang sutradara, Jon Turteltaub (National Treasure, The Sorcerer’s Apprentice), menganggap bahwa pertandingan lintas spesies ini sebagai suatu ‘fenomena’ yang semestinya dianggap secara serius, maka kesempatan untuk memperoleh tontonan menghebohkan tahun ini seketika sirna. Well, tidak sepenuhnya sirna sih, alasannya yakni The Meg masih berkenan untuk memenuhi satu seruan khalayak, yaitu ketika babang Statham berkejar-kejaran dengan Meg di dalam bahari dalam upayanya melenyapkan si penebar teror tersebut dari peradaban. Mesti diakui, ada sejumput ketegangan yang sanggup terendus di sini begitu pula ketika Meg berenang-renang santai menuju pantai yang ramai. Hanya saja, untuk sanggup mencapai titik ini yang hanya berjarak beberapa belas menit jelang end credit, ada perjalanan panjang yang mesti kau tempuh. Perjalanan panjang yang dipenuhi dengan obrolan-obrolan kurang menggairahkan nan menjemukan mengenai teknologi, permasalahan satu dua aksara inti, dan entah apa entah apa yang lantas menguap dari ingatan terhitung sejak diri ini melangkahkan kaki ke luar bioskop. Kentara sekali, si pembuat film masih mengupayakan biar filmnya ini tampak ‘berisi’ tanpa pernah menyadari bahwa bahan kisah The Meg lebih memungkinkan untuk dikembangkan sebagai film horor komedi konyol-konyolan kolam Sharknado
Lagipula, siapa sih yang berharap menerima narasi mengikat dari sebuah film mengenai hiu prasejarah berukuran jumbo? Kalau saya sih hanya ingin melihat Megalodon mengamuk, melahap manusia-manusia keji, meremukkan kapal atau pesawat terbang, serta menebar kengerian pada pelancong yang sedang bersantai ria di pantai. Tidak lebih. Alih-alih mengarahkannya kesana, Turteltaub justru menentukan untuk bercakap-cakap tanpa ada signifikansinya dan kerap menawarkan Megalodon dalam siluetnya saja dengan impian membuat rasa was-was pada penonton. Bukan pilihan yang jelek sebetulnya, mengingat The Shallows (2016) telah berhasil mengaplikasikannya. Akan tetapi, alasannya yakni ketidakpiawaian Turteltaub dalam mengatur tensi, ditambah lagi visualisasi si hiu yang tidak konsisten (kadangkala terlihat gede sekali, kadangkala terlihat hanya sedikit lebih besar dari Orca), pilihan ini terang tidaklah bijak karena berdampak pada mengendurnya ketertarikan secara perlahan tapi pasti. Terkantuk-kantuk memasuki pertengahan durasi, The Meg lantas membaik ketika si hiu yang kurang menakutkan ini tak lagi malu-malu menampakkan diri. Klimaksnya berlangsung dengan cukup seru, meski tidak cukup untuk membuat diri ini bersorak-sorak bangga terlebih sehabis penantian panjangnya. Si pembuat film tak pernah benar-benar membiarkan ‘peliharaannya’ tersebut menggila bersama Statham sehingga The Meg pun berakhir sebagai sebuah film yang serba tanggung. Saya menyebutnya demikian alasannya yakni film ini terlalu konyol untuk dianggap serius, dan di waktu bersamaan, film ini juga terlalu serius untuk dianggap konyol. Tang-gung.

Acceptable (2,5/5)