July 15, 2020

Review : The Nun


“The abbey has a long history. Not all good.” 

(Ulasan ini nyerempet spoiler)

Apakah kau masih ingat dengan sesosok iblis yang menampakkan wujudnya kepada insan dalam rupa ibarat halnya seorang biarawati berjulukan Valak? Rasa-rasanya, jikalau dirimu ialah penggemar berat cap dagang The Conjuring, sosok Valak cukup sulit untuk dienyahkan dari pikiran terlebih ‘gaya berbusananya’ tergolong khas (dan ia punya lagu dangdut, “kau ibarat Valak…”). Kontribusinya terhadap narasi dalam franchise ini pun tak bisa dipandang sepele – berbeda dengan Annabelle yang cenderung pasif. Dia diketahui mempunyai niatan jahat untuk menundukkan pasangan Warren yang acapkali menggagalkan rencana kawanan iblis untuk menguasai manusia-manusia berhati gelap, dan ia merupakan biang keladi dibalik insiden supranatural yang menyerang satu keluarga dalam The Conjuring 2 (2016). You don’t want to mess with Valak! Jika ada yang kurang mengenai sosoknya, maka itu ialah latar belakangnya yang kurang dieksplorasi. Apakah ini memang disengaja sehingga ia berkesempatan mempunyai filmnya sendiri yang difungsikan sebagai origin story? Pastinya begitu. Annabelle saja dibikinin film, Valak juga mestinya punya dong. Terlebih, para petinggi studio tentu tidak ingin mesin pencetak uangnya ini diberhentikan begitu saja. Itulah kenapa tidak membutuhkan waktu usang bagi James Wan bersama Peter Safran selaku otak dibalik kesuksesan semesta The Conjuring untuk mengkreasi The Nun yang menyoroti kisah masa lampau dari iblis berkedok biarawati ini sebelum kelayapan di Inggris. 

Dalam menggulirkan narasi The Nun, Corin Hardy (The Hallow) yang berpatokan pada skrip rekaan Gary Dauberman membawa kita melompat jauh ke Rumania pada tahun 1952. Di sana, kita dipertemukan dengan seorang pastur, Father Burke (Demian Bichir), dan seorang novis, Sister Irene (Taissa Farmiga), yang ditugaskan oleh Vatikan untuk memeriksa masalah bunuh diri seorang biarawati di Biara Carta. Biarawati tersebut ditemukan tewas dalam keadaan kepala tergantung di luar biara oleh seorang pengantar suplai makanan, Frenchie (Jonas Bloquet). Penugasan dari Vatikan ini membuat Father Burke bertanya-tanya, apakah benar simpulan hidup biarawati tersebut murni disebabkan oleh bunuh diri? Atau malah jangan-jangan, ada sesuatu yang jahat tersembunyi dibalik kematiannya? Kecurigaan Father Burke beserta Sister Irene bahwa ini bukanlah masalah biasa diperkuat oleh sambutan kurang hangat yang mereka terima di biara. Memang betul ada satu biarawati yang berkenan untuk bercerita panjang lebar mengenai sejarah biara yang ternyata menyimpan diam-diam kelam, tapi sebagian besar diantaranya menentukan untuk bungkam. Mereka lebih menentukan untuk merapalkan doa-doa keselamatan ketimbang membantu Sister Irene maupun Father Burke dalam memeriksa simpulan hidup rekan mereka yang disinyalir mempunyai keterkaitan dengan sejarah biara. Segala kecurigaan tersebut semakin bertumpuk tatkala keduanya mengalami pengalaman supranatural yang dipicu oleh kekuatan jahat yang menginginkan mereka untuk sesegera mungkin angkat kaki dari biara. 

Sebuah desa di pedalaman Rumania yang sunyi, masalah bunuh diri seorang biarawati yang diselubungi misteri, dan biara dengan atmosfer creepy ialah setumpuk bahan yang terdengar menggiurkan untuk dipadupadankan bersama kisah awal mula si Valak. Berhubung saya secara langsung mempunyai ketertarikan terhadap tontonan menyeramkan yang mengandung unsur agama di dalamnya (khususnya Islam dan Katolik), apa yang ditawarkan oleh Corin Hardy dalam The Nun tentu saja menarik hati iman. Adegan pembukanya yang memperlihatkan dua biarawati menyusuri lorong (yang biar kelihatan menyeramkan nan bergaya mesti dihiasi asap buatan) menuju sebuah ruangan misterius yang berlanjut pada simpulan hidup tragis keduanya pun mengisyaratkan bahwa The Nun akan menghadirkan mimpi jelek yang ‘diharapkan’ ibarat dwilogi The Conjuring. Terlebih, ada bonus imaji mengusik kenyamanan berupa jenazah yang hancur dipatoki burung gagak dalam adegan tersebut. Tapi sehabis sederet eksposisi disana sini yang memberi alasan bagi dua protagonis utama untuk bertolak ke Rumania, film memperlihatkan gelagat kurang mengenakkan. Alih-alih mengemasnya sebagai wahana rumah berhantu murni ibarat sederet judul lain dalam franchise ini, si pembuat film justru bereksperimen dengan memberi warna berbeda pada The Nun. Dia membubuhinya dengan elemen fantasi-petualangan kolam The Mummy yang membuat Valak terlihat ibarat monster dan mempersilahkan memedi lain ibarat zombie ikut berpartisipasi ke dalam rangkaian teror untuk menyambut kedatangan Father Burke beserta Sister Irene. 
Apabila Hardy secara konsisten mengambil jalur ini sampai durasi berakhir, bisa jadi The Nun mempunyai kesempatan untuk mengajak para penontonnya gila-gilaan meski konsekuensinya ialah hujatan dari para purist. Akan tetapi, ia mengalami keragu-raguan untuk membawa franchise ini sepenuhnya keluar dari zona nyamannya dengan tetap mencampuradukannya bersama teror hantu konvensional ala The Conjuring sehingga hasil kesudahannya pun setengah matang. Kalau boleh memakai perumpaan ngaco, ini kasusnya ibarat Nobita yang ingin berbuat jahat kepada dunia tetapi ia masih suka tidak yummy hati dan hanya berbuat jahat kepada orang-orang tertentu saja (itupun perbuatan jahatnya lebih cocok dikategorikan iseng). Aneh. Konyol. Ora mashook blas. Dampak dari coba-coba tersebut ialah si pembuat film tidak bisa maksimal dalam mengkreasi teror hantu maupun membuat hidangan petualangan berbumbu fantasi yang mengasyikkan. Bahkan, keduanya pun saling mendistraksi satu sama lain. Saya berharap bisa meringkuk ketakutan dikala para protagonis diterjang teror, eh diri ini malah berulang kali dibentuk terkekeh karena eksekusinya yang janggal dan tak padu karena Hardy masih ngeyel buat menyatukan dua dunia (baca: horor dan fantasi). Terjatuh ke peti mati kemudian voila tiba-tiba menemukan buku pemberi balasan di samping pusara? Masih bisa, masih bisa. Biarawati yang berkembang menjadi menjadi jenazah hidup kemudian ditembak memakai shotgun? Saya mulai garuk-garuk kepala merasa film ini memang sebaiknya berada di ranah fantasi petualangan murni. Disembur memakai darah Yesus Kristus? Inilah di dikala saya tak tahan lagi untuk mengucap, “suka-suka kau lah!”

Di kala kepala nyut-nyutan akhir sederet kekonyolan dalam film yang ironisnya terkadang lebih bisa ditertawakan ketimbang asupan humornya yang garingnya ngalahin ayam goreng kaepci, untungnya The Nun masih berbaik hati buat memperlihatkan obat pereda nyeri kepada penonton yang komposisinya terdiri dari sinematografi bagus yang beberapa tangkapan gambarnya boleh jadi suatu dikala bakal dicuplik oleh akun One Perfect Shot serta bisa menguarkan atmosfer gothic di beberapa titik, musik pengiring yang membuat nuansa ngeri-ngeri sedap, dan performa pemain yang terbilang apik. Ditengah malasnya naskah untuk menjlentrehkan lebih dalam kehidupan personal trio protagonis yang semestinya bisa memperbincangkan perihal pergolakan akidah ketiganya ditengah pertarungan melawan iblis – bahkan narasi dalam film pun sejatinya tak banyak membahas perihal Valak (!) – baik Demian Bichir, Taissa Farmiga, maupun Jonas Bloquet masih sanggup mengatakan nyawa terhadap abjad tipis yang mereka perankan. Berkat mereka, saya sanggup bertahan menonton The Nun tanpa harus ngedumel soal karakter-karakter menyebalkan (yang minta diulek) ibarat dikala menonton Slender Man tempo hari. Setidaknya, saya ikut berharap biar Father Burke, Sister Irene, dan Frenchie sanggup mengalahkan kekuatan jahat yang menguasai biara kemudian keluar dari sana dengan selamat. Bisa dibilang, mereka termasuk aset berharga bagi film horor yang nyaris tak membuat saya ketakutan ini.

Info layanan masyarakat : Tidak ada post-credits scene. Bubar, bubar.

Acceptable (2,5/5)