July 2, 2020

Review : The Returning


“Mama ngerasa ada yang gila ga semenjak Papa balik?” 


Ada dua hal yang menggelitik rasa ingin tau dalam diri terhadap The Returning garapan Witra Asliga (sebelumnya, ia menyumbang segmen Insomnights untuk film omnibus 3Sum). Pertama, pilihan makhluk penerornya yang tak lazim bagi film horor Indonesia masa kini. Ketimbang menggaet pocong, genderuwo, kuntilanak, beserta kerabat-kerabat mereka yang sudah tak canggung berlakon di depan kamera, Witra justru mendaulat makhluk misterius yang melalui materi trailer sedikit banyak mengingatkan pada creature keji dari trilogi Jeepers Creepers. Kedua, The Returning menempatkan Laura Basuki yang belum pernah mengambil tugas di film horor sebagai pemain drama utama. Mengingat aktris penggenggam Piala Citra ini tergolong selektif dalam mendapatkan job, saya pun bertanya-tanya: apa keistimewaan dari naskah gubahan si pembuat film sampai-sampai Laura Basuki tergiur untuk ikut bermain? Ditambah keberadaan Ario Bayu yang belakangan sedang laku manis, Tissa Biani yang mencuri perhatian berkat aktingnya di 3 Nafas Likas (2014), serta Muzakki Ramdhan yang baru-baru ini menciptakan saya kagum melalui Folklore: A Mother’s Love, antisipasi saya kepada The Returning yang sudah dipersiapkan sedari tahun 2014 ini pun cukup tinggi. Lebih-lebih, film ini tampak memperlihatkan sajian berbeda dibanding film horor Indonesia kebanyakan. 

Dalam The Returning, kita dipertemukan dengan satu keluarga yang konfigurasinya terdiri dari Colin (Ario Bayu), Natalie (Laura Basuki), Maggie (Tissa Biani), serta Dom (Muzakki Ramdhan). Kebahagiaan keluarga kecil ini lantas terusik ketika Colin terjatuh dalam sebuah pendakian tebing dan tubuhnya tak pernah ditemukan. Selama tiga bulan, Natalie masih enggan mendapatkan kenyataan bahwa Colin mungkin telah berpulang, sementara Maggie dan ibunda Colin (Dayu Wijanto) merasa sudah saatnya untuk melanjutkan hidup dengan merelakan kepergian Colin. Pertikaian demi pertikaian pun menghiasi korelasi ketiga insan ini yang dipicu oleh kengeyelan Natalie mengenai status sang suami, hingga kemudian para huruf yang sedang berusaha berdamai dengan sedih tersebut dikejutkan oleh satu ketukan pintu. Tak ada yang menyangka, tak ada pula yang menduga, Colin akan tiba kembali di suatu malam. Wujudnya masih menyerupai ketika ia meninggalkan rumah, bahkan dokter pun menyatakan ia baik-baik saja. Kalau begitu, apa yang bahwasanya terjadi hingga ia menghilang tanpa jejak selama tiga bulan lamanya? Colin sendiri tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Hanya saja semenjak kedatangannya, serangkaian ketaknormalan turut menghantui keluarga ini. Meski Natalie lagi-lagi menganggap segalanya baik-baik saja, Maggie merasa ada sesuatu yang salah dengan ayahnya. 


Selaiknya Kafir Bersekutu dengan Setan dan Jaga Pocong tempo hari, The Returning pun mengaplikasikan laju pengisahan yang lambat memanas alias slowburn. Tujuannya, guna mengenal lebih bersahabat keluarga kecil yang menjadi sentral cerita, memahami kondisi psikologis mereka terkait bagaimana masing-masing personil berdamai dengan kehilangan, hingga alhasil kita pun mampu menyematkan simpati. Beruntung bagi Witra, barisan pemainnya memperlihatkan kapabilitas dalam menangani momen dramatik yang menghiasi separuh durasi awal ini. Laura Basuki tampak ringkih disegala luapan kemarahannya yang memperlihatkan bahwa ia tidak ingin harapannya dipadamkan, Tissa Biani terlihat tegar (sekaligus galak) dalam upayanya untuk membentengi diri dari kesedihan atas kepergian dan kekecewaan atas perilaku sang ibu, kemudian Ario Bayu yang tampak kebingungan dengan insiden yang gres saja dihadapinya. Sosok Colin tak ubahnya personil lain dalam keluarganya maupun penonton, bertanya-tanya mengenai apa yang sesungguhnya telah terjadi. Keberadaan tiga pelakon utama ini – sayangnya Muzakki Ramdhan tak banyak memperoleh kesempatan, sementara Dayu Wijanto kerap terbentur oleh pengucapan obrolan yang janggal – bisa mengompensasi sisi narasi yang tak terlalu nyaman buat diikuti karena transisi antar adegan yang kurang mulus plus laju penceritaan yang terlalu lambat di permulaan dan terlalu tergesa di penghujung. 

Ya, si pembuat film menghabiskan banyak waktu untuk menyoroti kegundahan Natalie beserta anak-anaknya termasuk melibatkan beberapa huruf yang sejatinya tidak mempunyai bantuan apapun terhadap penceritaan dan bisa saja dihempaskan guna menghemat durasi (misal: teman Natalie, saudara Natalie, serta teman Maggie yang cemburu). Mulanya sih tidak ada keluhan berarti, kemudian ini berlangsung kelewat panjang yang seketika menggelisahkan saya. Bukan disebabkan oleh atmosfer mengusik kenyamanan yang terbangun dari rumah Colin, melainkan karena film serasa jalan di tempat. Teror tak kunjung mengalami eskalasi sementara The Returning telah menapaki satu jam pertama. Dimanakah si makhluk peneror itu? Seperti apa wujudnya? Kenapa ia meneror keluarga Colin? Apa kepentingannya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berkelebat hingga si ia alhasil nongol yang mempersembahkan kita satu dua momen yang bikin terlonjak dari dingklik bioskop. Usai menampakkan wujudnya kepada penonton – konon, pandangan gres pembuatannya dari sesosok makhluk yang ‘dilihat’ Witra ketika berkunjung ke Bali – sayangnya ketegangan tak lantas meruncing. The Returning masih mencoba untuk mengajak penonton bermain ‘petak umpet’ dengan si makhluk tanpa menyadari bahwa kuota durasi telah menipis. Alhasil, ketika menginjak babak pengungkapan, tempo film mendadak melesat tak terkendali. Beberapa momen yang memungkinkan kita untuk terlibat secara emosi pun lewat begitu saja saking minimnya kesempatan untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak dibentuk terkejut, takut, maupun terenyuh padahal hamparan adegan di layar mengarahkan penonton untuk merangkul sensasi rasa tersebut. Sungguh disayangkan.

Acceptable (2,5/5)