October 13, 2020

Review : The Shallows

“Get out of the water. Shark!” 

Setelah puas ‘ngerjain’ Liam Neeson melalui tiga film berturut-turut; Unknown, Non-Stop, hingga Run All Night, Jaume Collet-Serra membutuhkan sedikit penyegaran. Dia mencari korban gres untuk disiksanya habis-habisan secara fisik dan mental di film teranyarnya. Pilihan jatuh kepada istri manis Ryan Reynolds, Blake Lively, yang ndilalah tengah berburu tugas menantang karena terinspirasi oleh kinerja andal sang suami di Buried. Dalam The Shallows – begitu judul dari proyek film termutakhir yang ditangani oleh Collet-Serra – Blake Lively diposisikan pada satu situasi yang serupa tapi tak sama dengan Reynolds, yakni terisolasi. Jika Buried sepenuhnya tetapkan interaksi sang aktor Deadpool bersama makhluk hidup lain mengingat beliau terkubur cukup dalam, maka Lively di The Shallows masih sedikit lebih beruntung sebab beliau bisa menghirup udara segar, pandangan tak terbatas dan mendapat ‘teman ngobrol’ walau tetap saja beruntung yaitu kata yang terlalu bagus buat mendeskripsikannya sebab Lively terdampar di kerikil karang dengan ukiran luka serius menghiasi sekujur kaki seraya dikelilingi hiu putih ganas yang siap kapanpun buat mencaploknya hidup-hidup. 

Peran yang dimainkan Blake Lively yaitu Nancy Adams, seorang mahasiswi kedokteran yang tetapkan untuk mengentikan studinya menyusul meninggalnya sang ibu. Di tengah masa berkabungnya, Nancy berkelana seorang diri ke sebuah pantai tak berjulukan – penduduk setempat hanya menyebutnya ‘Paradise’ – di Meksiko yang dulunya pernah disinggahi oleh sang ibu guna dijadikan daerah berselancar kala mengandung Nancy. Mulanya, Nancy tak menjumpai ancaman mengintai selama menunggangi ombak di pantai tersebut bahkan beliau sempat berbincang-bincang dengan dua peselancar lain. Hanya saja, begitu beliau sedikit mengindahkan larangan dari penduduk setempat untuk berselancar ketika matahari berkemas-kemas kembali ke peraduannya, sebuah konsekuensi diterimanya. Dia menemukan bangkai ikan paus terapung yang kemudian disusul ‘sambutan hangat’ dari seekor hiu besar yang menganggap Nancy telah mengotori makan malamnya. Mendapatkan cinderamata di kaki hasil dari serangan cepat sang hiu, Nancy terhuyung-huyung menyelamatkan diri ke kerikil karang kemudian mencoba mengobati lukanya. Di sana Nancy bertemu dengan seekor burung camar yang terluka dan keduanya terperangkap di kerikil karang karena sang hiu enggan berhenti berpatroli mengitari Nancy. Protagonis kita lantas dihadapkan pada dua pilihan; menunggu derma tiba yang entah kapan sementara lukanya terus memburuk atau menaklukkan sang hiu seorang diri. 

Selain Nancy yang memegang kendali penuh atas pergerakan plot, tidak banyak insan lain yang berlalu lalang sepanjang film. Kita hanya menjumpai seorang warga lokal yang mengantarkan Nancy ke pantai, dua peselancar, adik beserta ayah Nancy (menampakkan diri melalui video call), seorang pemabuk, dan bocah yang bermain-main di bibir pantai seraya menendang-nendang bola. Itupun durasi maksimal kemunculan masing-masing tidak melewati menit kelima. Dengan ‘kesunyian’ semacam ini, terang peranan Lively dan Collet-Serra sangat krusial. Mereka termasuk berada di garda terdepan untuk memilih apakah intensitas yang dikedepankan The Shallows bisa terjaga stabil, moody, atau justru kian menukik dari menit ke menit. Apalagi modal dongeng teramat sangat sederhana – sepanjang 86 menit, persoalannya sebatas upaya Nancy bertahan hidup di kerikil karang dari kepungan hiu ganas – sangat berpotensi menggiring film ke jalur nina bobo. Dibalik kesederhanaannya, resiko yang ditanggung The Shallows memang terhitung besar. Beruntunglah Blake Lively punya pancaran karisma berpengaruh untuk ditempatkan sebagai lead dan progress aktingnya (mungkin terhitung semenjak The Age of Adaline?) tengah bagus-bagusnya sehingga paling tidak film ini telah mempunyai satu fondasi bagus. 

Melalui The Shallows yang menjadi one-person show bagi Blake Lively, aktris yang karirnya melambung berkat serial Gossip Girl ini kian pertanda kapabilitasnya. Dia menawarkan performa magnetis sedari menit-menit pertama kala Nancy bercakap-cakap bersama sang ‘tour guide’ yang secara otomatis mengaitkan simpati penonton ke sosoknya. Kita mengetahui beliau yaitu langsung menyenangkan buat diajak berkawan. Maka ketika beliau berselancar dan si pembuat film tetapkan melepas si penebar teror, rasa khawatir terhadap nasibnya terbentuk sebab beliau terlihat menyerupai seseorang yang tidak seharusnya tertimpa kemalangan semacam ini. Teriakannya, erangan penuh kesakitannya, dan tangisnya sangat bisa dirasakan. Melihat bagaimana beliau berjuang melewati serentetan aral melintang biar bisa menapakkan kaki kembali di daratan merupakan alasan utama mengapa atensi tertambat ke layar perak. Ada kepedulian untuk mendapat balasan atas pertanyaan, “bagaimana ya nasib Nancy berikutnya?,” yang bersumber dari hebatnya Blake Lively merepresentasikan sosok Nancy. Tapi tentu lakon bagus sang aktris akan dimentahkan lagi tanpa pengarahan apik dari sang sutradara. Jaume Collet-Serra nyatanya mempunyai insting berpengaruh terkait kapan saat-saat yang sempurna untuk menggeber ketegangan dan kapan saat-saat yang sempurna untuk menahannya. 

Sebelum titik puncak yang agak berlebihan dan cukup menurunkan kadar ketegangan yang sebelumnya telah terjaga stabil – peralihan drastis dari ala-ala Open Water ke ala-ala Deep Blue Sea bikin dahi mengernyit – si hiu lebih sering ditampakkan dalam bentuk siluet. Penonton ditempatkan menyerupai halnya Nancy yang sebenarnya acapkali mendeteksi keberadaan si hiu dari sirip menari-narinya, jika lebih beruntung mendapati bayangannya di bawah air, ketimbang melihat wujudnya secara utuh. Menekankan prinsip “less is more”, daya cekam justru lebih efektif diciptakan oleh Collet-Serra. Bukankah ketika kita tidak benar-benar mengetahui menyerupai apa rupa lawan yang dihadapi itu terasa lebih seram daripada kita sudah memperoleh citra terang sedari mula? Biasanya, imajinasi seketika bermain-main. Itulah kenapa sang tokoh antagonis di The Shallows jarang menampakkan muka demi menawarkan rasa tidak nyaman kepada penonton yang berulang kali melewati fase harap-harap cemas. Kemunculannya agak sulit diterka sampai-sampai begitu beliau mencuat ke permukaan, memberi imbas kejut cukup tinggi. Dengan deraan teror semacam ini, bersiaplah buat terjangkit sesak nafas kala menyaksikan The Shallows yang merupakan film teror hiu terbaik sejak, emmmDeep Blue Sea (1999)? di layar lebar.

Exceeds Expectations (3,5/5)