October 20, 2020

Review : The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2


I thought we would be safe forever. But “forever” isn’t as long as I’d hoped.” – Bella

Tidak ada franchise yang beranjak dari novel berseri yang lebih fenomenal ketimbang The Twilight Saga. Bagaimana tidak, dari sejumlah franchise yang mengambil sumber dari karya sastra, hanya kisah percintaan terlarang antara insan dan vampir ini yang bisa mengumpulkan basis massa dan pembenci dalam jumlah yang sama besarnya. Ketika salah satu seri dilempar ke bioskop, para penggemar dengan segera berbondong-bondong menyesaki bioskop seolah itu yaitu satu-satunya hari dimana film tersebut diputar sementara ‘haters’ memenuhi linimasa dengan segala nyinyiran dan cibiran terbaik mereka untuk seri ini. Anda tidak akan menemukan segala kehebohan ini dalam Harry Potter, The Hunger Games, apalagi The Lord of the Rings. Dan, franchise yang fenomenal ini pun telah memasuki edisi terakhirnya dalam The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II. Layaknya seri epilog dari penyihir dewasa asal Inggris, seri epilog dari ‘sparkling vampire’ ini pun sejatinya dibentuk untuk satu film yang kemudian diputuskan untuk dipecah menjadi dua demi memuaskan hasrat ‘fans’ yang tentunya mengharapkan perlakuan istimewa sebelum berpisah dengan sang idola. Saya bahu-membahu cukup ingin tau dengan cara Bill Condon menutup franchise yang jilid terakhirnya ini mengusung tagline yang terbilang berani, ‘the epic finale that will live forever’. Akankah The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II menjadi sebuah epilog yang epik atau malah justru anti-klimaks? 
Melanjutkan dari apa yang berakhir di jilid pertama, Bella Swan (Kristen Stewart) telah bertransformasi menjadi vampir yang memungkinkan beliau untuk menjalani kehidupan janji nikah yang ‘happily ever after’ bersama Edward Cullen (Robert Pattinson). Setelah ‘the never ending intercourse’ di film sebelumnya yang sungguh melelahkan, hasilnya penonton mendapat sajian konflik yang bahu-membahu di seri pamungkas ini. Putri Bella dan Edward, Renesmee (Mackenzie Foy) mengalami pertumbuhan fisik secara cepat dan tidak wajar. Irina (Maggie Grace), salah satu anggota dari keluarga Denali yang melihat Renesmee kala tengah menikmati udara segar bersama Bella dan Jacob Black (Taylor Lautner), mengira Renesmee yaitu ‘anak abadi’. Mengingat ini melanggar aturan vampir yang diciptakan oleh Volturi, maka Irina pun menghadap ke Aro (Michael Sheen) dan melaporkan perbuatan keluarga Cullen. Mengetahui bahwa Volturi segera menyerang Cullen menurut penglihatan dari Alice (Ashley Greene), maka Carlisle (Peter Facinelli) pun mengutus keluarganya mengumpulkan kerabat-kerabat mereka dari seluruh dunia untuk bersaksi di depan Volturi bahwa Renesmee bukanlah ‘anak abadi’. 

Dengan gampang saya bisa menyampaikan kepada Anda bahwa Breaking Dawn Part II yaitu seri terbaik dari The Twilight Saga. Memang tidak hingga dalam tahapan mengagumkan atau epik menyerupai yang saya harapkan, akan tetapi Bill Condon bisa menghantarkan franchise ini ke sebuah epilog yang layak. Dengan garis konflik yang tidak lagi bercabang dan cenderung fokus kepada nasib Renesmee, Melissa Rosenberg bisa menata jalinan kisah dengan lebih rapi. Bahkan, untuk sekali ini, berani membelokkan kisah dengan suntikan ‘twist’ pada titik puncak yang terbilang cukup mencengangkan. Penonton bersorak sorai antara terkejut, senang, atau bahkan kecewa sesudah apa yang bahu-membahu terjadi terungkap. Keberanian dalam menyuguhkan ‘twist’ dan sedikit melenceng dari sumber orisinil ini menjadi kekuatan utama dari film ini. Baik Condon maupun Rosenberg menyadari bahwa mereka tidak akan bisa menyuguhkan epilog yang tepat apabila tetap berpegang teguh kepada goresan pena Stephenie Meyer dan mempertontonkan kemesraan yang tiada berkesudahan. 
Meski demikian, Breaking Dawn Part II tidak lantas berakhir tanpa meninggalkan kekurangan. Produk ini masih tetap jauh dari kata sempurna. Untuk mencapai sebuah titik puncak yang menggetarkan, penonton kudu melalui paruh awal yang… ya, Anda tahu sendiri, sangat The Twilight Saga. Romantisme berlebihan digeber sedemikian rupa di menit-menit awal. Beruntung dosisnya tidak setinggi empat film pertama. Alur pun melaju dengan sangat perlahan, demi memastikan tidak ada bab penting yang terlewatkan untuk fans. Di paruh ini Anda akan menyaksikan bagaimana Bella berusaha untuk mengikuti keadaan dengan wujud barunya, Charlie Swan (Billy Burke) yang kebingungan melihat Bella, serta sedikit letupan konflik seusai Bella mengetahui bahwa Jacob meng-‘imprint’ Renesmee. Untuk mengurangi rasa bosan, maka humor dan sinematografi indah – walau tak sekuat bab pertama, dijadikan sebagai penawar. Sayangnya, hal itu tidak membantu banyak. Kesalahan bisa dialamatkan kepada trio Nasrani Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Lautner yang hingga film kelima ini masih saja tidak berkembang. Tanpa ekspresi dan tanpa chemistry. Hambar. Untungnya kontribusi dari supporting cast – khususnya Michael Sheen yang tampil brilian sebagai Aro – sedikit banyak membantu film dari keterpurukan. 
Setelah awal yang melelahkan dan berpanjang-panjang, secara perlahan eskalasi tensi yang diperlukan oleh penonton semenjak menit pertama pun dimunculkan. Bill Condon turut mendengarkan undangan dari ‘non-fans’. Volturi yang belum sempat unjuk gigi hasilnya memeroleh kesempatan untuk ‘show off’. Breaking Dawn Part II hadir lebih gelap dari jilid sebelumnya dengan adanya kematian, mayat-mayat bergelimpangan, kepala yang terlepas dari tubuh, dan tentunya darah. Sebagian besar yaitu hasil ‘kerja keras’ dari Volturi. Ketegangan mencapai puncaknya sesudah pertempuran akbar antara pasukan Volturi dan pasukan Cullen dimulai. Seperti yang telah saya sebutkan di dua paragraf sebelum ini, kehadiran ‘twist’ turut menyelamatkan film secara keseluruhan walau dampak khusus yang memprihatinkan – terutama penggambaran ‘werewolf’ yang masih saja tidak meyakinkan walau telah diberi suntikan dana berlimpah – cukup mengganggu kenikmatan menonton selain chemistry hirau taacuh antara tiga pemain utama dan romantisme yang menggelikan. 
Well, pada akhirnya, apakah saya akan menyampaikan bahwa The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II yaitu sebuah epilog yang epik? Hmmm… Terlalu berlebihan kalau saya menyebutnya epik, saya cukup menyampaikan bahwa ini yaitu seri terbaik dari franchise ini. Tentu saja tidak sempurna, namun yang jelas, sanggup dinikmati dan tidak menciptakan saya ingin menggantung diri di dalam gedung bioskop atau mencakar muka Bella yang biasanya saya alami kala menyaksikan The Twilight Saga. Bill Condon memang belum bisa memerbaiki kesalahan utama franchise ini yang berkisar pada dampak khusus maupun chemistry antar pemain, akan tetapi beliau telah berhasil menyuguhkan sebuah perpisahan yang tidak memalukan dengan jalinan penceritaan yang lebih baik, sinematografi yang cantik, dan adegan pertarungan berbalut twist yang cukup mencengangkan. Dan kalau Anda bertanya bagaimana dengan deretan lagu yang mengisi album soundtrack-nya? Seperti biasa, jauh mengungguli filmnya. Fans akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum terlebar yang pernah mereka tunjukkan kepada dunia, pecinta film akan berdiskusi soal film ini dengan sobat atau meng-update status ‘not bad lah’, sementara haters… will always hate.

Note : Kala credit title mulai bergulir, semua tokoh dari Twilight hingga Breaking Dawn Part II dimunculkan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bersedia menjadi bab dari keluarga franchise ini. 

Acceptable