July 14, 2020

Review : The Upside


“Don’t judge me. I ain’t judged you.”


Apakah kau familiar dengan film Prancis berjudul The Intouchables (2011)? Jika tidak, dua hal yang perlu diketahui mengenai film ini adalah: 1) narasinya terinspirasi dari kisah persahabatan konkret antara seorang pebisnis sukses dengan perawat pribadinya yang berasal dari strata sosial dan ras berbeda, dan 2) The Intouchables tergolong film yang fenomenal. Bukan hanya sukses besar di kampung halaman, tetapi turut menyebar ke negara-negara lain yang lantas menempatkannya sebagai salah satu film Prancis paling banyak dipirsa sepanjang masa. Pencapaiannya di tangga box office – plus, film ini pun berjaya pula di ajang penghargaan termasuk mengganjar Omar Sy dengan piala Best Actor di Cesar Award (Oscar-nya sinema Prancis) – menciptakan The Intouchables dilirik sederet produser yang meminta hak pembuatan ulang. Disamping India yang segera mempunyai dua versi dan Argentina yang telah merilis interpretasinya pada tahun 2016 silam, Hollywood pun enggan ketinggalan. Telah dicanangkan sedari tahun 2012, sayangnya ada banyak sekali ganjalan yang menyertai perjalanan remake ini dari pergantian konfigurasi kru dan pemain hingga skandal pemerkosaan oleh Harvey Weinstein (pemilik The Weinstein Company, pemegang hak remake) yang menyebabkan film bertajuk The Upside sempat terombang-ambing nasibnya. Usai diakuisisi oleh STX Films, film yang menempatkan Kevin Hart dan Bryan Cranston di garda terdepan pemain ini pun kesudahannya memperoleh kepastian rilis pada awal 2019.

Mengingat The Upside tak lebih dari bentuk interpretasi Hollywood untuk The Intouchables, sudah barang tentu tak ada perombakan signifikan dalam hal penceritaan. Di sini, huruf utamanya tetaplah seorang pebisnis kaya raya yang mengalami kelumpuhan hampir di sekujur badan berjulukan Phillip Lacasse (Bryan Cranston) dan seorang mantan narapidana yang mencoba bertaubat berjulukan Dell Scott (Kevin Hart). Kedua huruf yang mempunyai dunia, karakteristik, serta fisik bertolak belakang ini berjumpa secara tidak sengaja ketika Phillip beserta sekretaris pribadinya, Yvonne (Nicole Kidman), sedang mewawancarai sejumlah kandidat yang melamar sebagai perawat purnawaktu Phillip. Dell yang mengikuti wawancara ini hanya demi memperoleh tanda tangan yang menyatakan bahwa ia mencari pekerjaan, rupa-rupanya menarik perhatian Phillip yang menganggap kandidat lain kelewat serius. Ketimbang sekadar memberinya tanda tangan, Phillip justru mengatakan pekerjaan bagi Dell. Meski awalnya ogah-ogahan, Dell kesudahannya menyetujui ajuan ini terlebih honor yang diterimanya lebih dari cukup untuk menebus kesalahannya pada mantan istri dan putra tunggalnya. Berhubung Dell tidak pernah menerima training apapun terkait merawat seseorang, hari-hari pertama menjalani pekerjaan life auxiliary terasa berat bagi Dell, Phillip, maupun Yvonne yang berusaha keras untuk memecat Dell. Tapi seiring berjalannya waktu dimana sisi sensitif dari Dell turut mengemuka, Phillip secara perlahan tapi niscaya sanggup mendapatkan kehadiran Dell dan bahkan, ia menemukan kembali semangat hidup yang sebelumnya telah meredup tatkala ia menyadari bahwa masih ada seseorang yang memandangnya sebagai insan normal.    


Apabila kau telah menyaksikan The Intouchables – apalagi sangat menyukainya, ibarat saya – maka tidak ada hal gres yang sanggup didapatkan dari The Upside. Pada dasarnya ini yakni film yang serupa baik dari segi narasi maupun pengadeganan, kecuali adanya beberapa penyederhanaan di area konflik personal dan ketersediaan huruf yang melingkungi Phillip. Ya, sekalipun The Upside mempunyai rentang durasi yang lebih panjang, film aba-aba Neil Burger (Limitless, Divergent) ini justru mereduksi cukup banyak hal yang menciptakan materi sumbernya terasa menggigit dan sebatas menghadirkannya sebagai sebuah kisah persahabatan yang generik. Di sini, penonton tidak banyak memperoleh kesempatan untuk melihat interaksi Dell dengan keluarga kecilnya yang ternyata bersedia begitu saja mendapatkan kembali kehadiran Dell sesudah ia membawa segepok uang (kontradiktif dengan pernyataan Phillip: money can’t buy everything), dan Phillip pun tampak sangat kesepian sehingga tak heran bila kemudian ia menjelma seorang suicidal. Saya tak ingin terus membandingkannya dengan versi asli, tapi sungguh, saya rindu dengan suasana rumah si protagonis yang guyub. Si perawat langsung berjulukan Driss yang gayanya agak slengean ini tak hanya membawa perubahan pada sang atasan tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Rasa hangat yang telah usang menghilang semenjak kepergian “nyonya”, menyelimuti lagi rumah ini. Penonton pun sanggup memafhumi mengapa Driss sanggup dicintai oleh orang-orang terdekat Philippe dan sanggup pula mengerti mengapa ia sanggup mempertahankan ikatan persahabatan selama bertahun-tahun dengan Philippe. Sesuatu yang sayangnya tidak terlalu sanggup dirasakan dalam The Upside yang tak juga menciptakan saya benar-benar sanggup memahami pesan yang ingin dihantarkan dibalik ikatan persahabatan dua protagonis utamanya. 

Harus diakui, Kevin Hart dan Bryan Cranston bermain elok di sini. Hart menandakan bahwa ia juga mempunyai range emosi mencukupi yang memungkinkannya bermain di genre drama, sementara Cranston ditengah segala keterbatasan ruang geraknya (karakternya hanya sanggup menggerakkan badan di bab kepala) sanggup menyalurkan emosi melalui peralihan mimik muka dengan baik. Ditambah dengan adanya chemistry yang sanggup terdeteksi, keduanya yakni koentji bagi The Upside yang mengalami hambatan di sektor naskah dan penyutradaraan. Tanpa sokongan performa apik kedua pemain ini – plus Nicole Kidman yang kentara telah berusaha maksimal dalam membawakan huruf Yvonne yang karakteristiknya ditulis amat tipis – maka sanggup jadi film akan terasa sukar dinikmati. Mereka berdua yang menyebabkan The Upside masih mempunyai kandungan hiburan ibarat dibutuhkan oleh para penonton yang menebus tiket film ini di bioskop. Paling tidak, mereka menghadirkan sejumlah gelak tawa yang dipicu oleh kecanggungan Dell dalam mengikuti keadaan dengan pekerjaan beserta lingkungan barunya yang sama sekali berbeda (seperti bagaimana ia mencoba memahami karya seni dalam wujud lukisan atau opera), kemudian pandangan Dell dengan Phillip dan Yvonne yang seringkali bertentangan, hingga interaksi Dell dan Phillip sebagai dua sohib baru. Yang paling mengasyikkan diantara semuanya yakni saat-saat dimana Dell mengajak serta Phillip dalam serangkaian petualangan kecil yang telah usang tidak ia dapatkan. Meski kesenangannya tidak lagi tinggi alasannya yakni sebagian diantaranya hanyalah pengulangan, kecuali adegan menghisap ganja bareng (!), tapi saya masih sanggup terhibur menyaksikan adegan berkejar-kejaran dengan kendaraan beroda empat polisi, jalan-jalan malam berujung santap makanan, serta menikmati pertunjukkan opera.

Acceptable (3/5)