October 20, 2020

Review : The Voices


“In her eyes, you’re a ridiculous peasant! Kill her and you will discover what it feels like to be truly alive!” 

Jika bercakap-cakap dengan binatang yang fasih berkomunikasi memakai bahasa insan terdengar sudah terlampau ‘mainstream’ di sebuah film, lantas bagaimana jika bercengkrama dengan bagian kepala seorang wanita banya mulut yang mendekam di dalam, errr… kulkas? Aneh, menggelikan, sekaligus angker di ketika bersamaan tentunya. Selain itu ada pula tubuh-tubuh insan yang bergelimpangan (maupun tercecer, duh!) yang sesekali diwarnai dengan darah yang mengucur kesana kemari secara artistik namun kesemuanya dijabarkan secara komikal penuh canda tawa bercita rasa awkward. Dan, brace yourself, alasannya yaitu pemandangan ibarat itulah yang akan kau jumpai dalam The Voices yang merupakan film berbahasa Inggris perdana dari sutradara penggagas Persepolis, Marjane Satrapi. Menggambarkannya, ibarat kekejian dari film legendaris Psycho atau serial televisi Dexter yang dicampuradukkan dengan kekonyolan dari Death Becomes Her maupun Idle Hands

‘Jagoan’ kita yaitu Jerry Hickfang (Ryan Reynolds), pekerja di pabrik pembuatan kolam berendam berkepribadian periang namun aneh, yang hidup kesepian. Rutinitasnya tidak pernah jauh-jauh dari bekerja, berkonsultasi dengan psikiater, Dr. Warren (Jacki Weaver), alasannya yaitu stress berat masa kemudian yang senantiasa menghantuinya, dan bersantai ria di rumah seraya membuat dialog soal ‘bagaimana seharusnya menjalani kehidupan’ bersama dua binatang peliharaannya yang berada di dua kubu berbeda. Tunggu, tunggu… mengobrol dengan hewan, soal kehidupan? Ya, kau tidak salah membaca alasannya yaitu itulah yang dilakukan oleh Jerry setiap harinya. Meminta nasihat kepada anjingnya yang bijak, Bosco, dan kucingnya yang jahat, Mr. Whiskers – keduanya disuarakan oleh Ryan Reynolds – ihwal kehidupan sosial dan asmaranya yang cenderung pelik. Bisa dibilang pelik karena siapapun yang mempunyai kedekatan (atau berurusan) dengan Jerry, entah ada unsur kesengajaan atau tidak, akan berakhir tragis menjadi potongan-potongan tubuh. 
Dibawa ke ranah black comedy, semenjak awal The Voices telah memperingatkan penonton bahwa tontonan yang akan mereka saksikan bukanlah sesuatu yang ‘normal’ dengan segala banyolan-banyolan nyelenehnya. Dalam guliran penceritaan yang disusun oleh Michael R. Perry, kita mendapati interaksi kikuk antar sesama pekerja di pabrik, percakapan menggelikan (tapi dalam bermakna!) antara Jerry dengan dua peliharaannya, sampai pergolakan si tokoh utama dalam menentukan ‘jalan hidupnya’, yang kesemuanya lantas dijlentrehkan Marjane Satrapi melalui bahasa gambar berwarna warni mengikat yang mendesak keingintahuanku untuk mengetahui langkah apa selanjutnya yang akan ditempuh Jerry. Saat kecelakaan menimpa Jerry dan Fiona (Gemma Arterton), wanita incarannya, di tengah hutan sepi, nada film yang semula masih menampakkan secercah cahaya perlahan-lahan mulai meredup. Tensi ketegangan bertahap dinaikkan seraya Satrapi menginjeksi elemen thriller psikologis ke dalamnya. Mulai dari sini, kegilaan yang menyertai tuturan film meningkat menjadi kesintingan yang memberi pengaruh konyol, mengganggu pula tidak nyaman pada penonton. 

Humor-humor itu memang masih ada, tetapi kadarnya tak cukup untuk menandingi gelapnya pengisahan memasuki pertengahan film ketika diam-diam kelam Jerry perlahan-lahan mulai tersibak dan kita mengetahui jati diri bekerjsama dari si laki-laki jomblo mengenaskan ini. Walau Satrapi mengalami sedikit kebingungan dalam memberi keseimbangan yang sempurna pada sederet elemen berbeda nuansa – mencakup komedi, thriller, romansa, melodrama, bahkan musikal! – yang menghiasi film, namun ketertarikan pada The Voices justru semakin menguat terlebih Jerry digambarkan sebagai sosok yang selayaknya memperoleh tunjangan alih-alih caci maki. Afeksi penonton dengan para tokoh utama pun terbentuk terlebih The Voices dikaruniai performa mumpuni dari jajaran pemainnya. Kita merasa berempati pada Ryan Reynolds atas sederet ketidakberuntungan yang menimpanya secara silih berganti, berpihak pada Anna Kendrick sebagai Lisa yang memperlihatkan kehangatan dalam kehidupan Jerry yang dingin, serta sebal bukan kepalang pada Gemma Arterton yang bitchy. Sungguh tontonan gila yang begitu memikat!

Exceeds Expectations