October 28, 2020

Review : The Woman In Black

Insidious, tapi tetap saja The Woman in Black membuat bulu kuduk bangkit dan jantung berdegup kencang.


Keberhasilan Watkins ini tentu tak lepas dari kepiawaian Tim-Maurice Jones yang mampu mengabadikan momen-momen seram serta lanskap indah yang menyejukkan mata. Salut pula untuk tim production design. Yang sedikit mengecewakan, maka itu ialah Radcliffe dan ending-nya. Radcliffe memang bermain bagus, ada kemajuan ketimbang apa yang beliau tampilkan di seri Harry Potter, namun tampangnya yang masih menyerupai anak sekolahan membuatnya terasa kurang pas saat membawakan tugas sebagai seorang single father. Bayang-bayang Harry Potter pun belum sepenuhnya lepas dari dirinya. Sementara ending-nya kurang memuaskan, tipikal film horor kebanyakan. Bisa jadi kekecewaan ini disebabkan oleh cita-cita akan durasi yang lebih panjang dengan teror yang semakin menggila. Rasanya menyerupai aku sedang berada di karaoke booth, menghayati lagu yang tengah mencapai klimaksnya, dan mendadak listrik mati. Ouch. Sekalipun cara penyelesaiannya membuat film ini terasa kurang greget, nuansa horor klasik yang mencekam tetap berhasil dihadirkan. Bukan yang terbaik di genrenya, tapi terperinci salah satu yang terunggul dalam beberapa tahun terakhir.

Acceptable

 mempunyai nyaris semua formula yang diharapkan untuk membuat sebuah film horor yang me REVIEW : THE WOMAN IN BLACK