October 20, 2020

Review : Thread Of Lies


“Dalam hidup, kau akan mengalami ketika dimana kau lebih ingin mencurahkan isi hati kepada orang gila daripada keluarga. Karena orang gila tidak perlu menjaga rahasiamu.” 

Pada bulan Maret silam, Netflix melepas sebuah serial bertajuk 13 Reasons Why yang didasarkan pada novel sampaumur laku berjudul serupa. Serial berjumlah 13 episode tersebut menjadi suatu fenomena tersendiri di kuartal pertama tahun ini karena keberaniannya mengeksplorasi tema-tema sensitif dalam kehidupan remaja; bullying, depresi, dan bunuh diri. Elemen misteri yang dibubuhkan ke alunan penceritaannya memberi candu bagi penonton untuk terus mencari tahu “apa sih yang sesungguhnya terjadi disini?” sekalipun materi obrolannya terbilang berat – saya sendiri menuntaskannya hanya dalam 3 hari. Selepas menontonnya, saya tidak saja menggali isu terkait perisakan tetapi juga mencari film bertema sejenis. Nah, apabila kau ibarat saya dan berharap bisa menjumpai film yang senada seirama, rupa-rupanya perfilman Korea Selatan telah mempunyai sebuah tontonan sangat apik yang memperbincangkan ihwal perisakan dan bunuh diri di kalangan sampaumur usia belasan sejak tahun 2014 berjudul Thread of Lies. Disadur pula dari sebuah novel, film instruksi Lee Han (Punch) ini menghamparkan potret kelam dari Negeri Gingseng yang memang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia menurut data dari hasil penelitian World Health Organization. 

Karakter utama dalam Thread of Lies yaitu seorang janda berjulukan Hyun-sook (Kim Hee-ae) dan kedua putrinya, Man-ji (Go Ah-sung) dan Cheon-ji (Kim Hyang-gi), yang masing-masing masih berstatus sebagai pelajar sekolah menengah. Dari tampak luar, mengesampingkan absennya figur seorang ayah, keluarga kecil ini tampak ibarat keluarga normal lainnya. Menjalani hari demi hari dengan rutinitas yang begitu-begitu saja, kalaupun ada cekcok tentu wajar-wajar saja. Menganggap satu sama lain tidak mempunyai masalah, alangkah terkejutnya Hyun-sook dan Man-ji ketika mendapati si bungsu Cheon-ji mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar. Yang makin menyesakkan, Cheon-ji tak meninggalkan surat perpisahan sehingga kematiannya pun meninggalkan tanda tanya besar bagi keluarganya. Apa problem yang dihadapi oleh Cheon-ji sampai-sampai ia nekat mengambil jalan pintas semacam ini? Pertanyaan ini terus berkecamuk dalam pikiran Man-ji yang kemudian tetapkan mencari kebenaran dibalik final hidup sang adik selepas ia dan ibunya pindah apartemen. Langkah awal yang diambilnya yakni mendekati sahabat baik Cheon-ji, Hwa-yeon (Kim Yoo-jung), yang ternyata mempunyai donasi cukup besar terhadap final hidup Cheon-ji. Penyelidikan kecil-kecilan yang dilakukan Man-ji ini lantas mengungkap satu demi satu belakang layar dan kebohongan yang selama ini disimpan rapat oleh Cheon-ji beserta orang-orang di sekitarnya. 

Selaiknya 13 Reasons Why, ketertarikan awal untuk mengikuti guliran pengisahan Thread of Lies bersumber dari misteri final hidup si huruf sentral. Kita mempertanyakan motivasinya: kenapa ia kesudahannya tetapkan untuk bunuh diri sementara tidak ada yang salah dari keluarga dan teman-temannya? Jika serial milik Netflix tersebut mengajak pemirsa mengikuti perjalanan sang sahabat bersahabat dalam membongkar misteri, maka film garapan Lee Han ini membawa penonton mengikuti Man-ji dalam mengurai benang-benang yang melilit final hidup sang adik. Pemaparan kebenarannya mempergunakan teknik senada, kilas balik ke masa-masa si korban masih menghembuskan nafas. Usai berbincang-bincang sekejap bersama Hwa-yeon yang merupakan salah satu siswi tercantik dan terpopuler di sekolah Cheon-ji, baik Man-ji maupun penonton telah mencium basi bacin dibalik perangainya yang tampak lembut dan sopan. Benar saja, kala si pembuat film melempar latar waktu ke beberapa hari belakang, kita mendapati bahwa Hwa-yeon yaitu perwujudan aktual dari perumpaan ‘serigala berbulu domba’. Dia tidak menerapkan kekerasan selama merisak Cheon-ji, melainkan mengajak kawan-kawan sekelas untuk mengesklusi secara sosial si gadis malang ini sehingga ia tidak mempunyai sahabat untuk mengembangkan atau sekadar diajak bermain di sekolah. Salah satu adegan paling menyesakkan dada dalam Thread of Lies yaitu ketika teman-teman sekelas Cheon-ji menggunjingkannya melalui aplikasi perpesanan di pesta ulang tahun Hwa-yeon.

Pertanyaan lain kemudian muncul, apakah Hwa-yeon yaitu satu-satunya alasan bagi Cheon-ji untuk mengakhiri hidupnya? Seiring berjalannya durasi, kebenaran-kebenaran lain turut tersingkap yang memperlihatkan kejutan kepada Man-ji (juga penonton). Menariknya, ketimbang menghakimi korban atau si pelaku bullying, Lee Han memberi kita pehamahaman bahwa ada alasannya yaitu jawaban dibalik setiap tindakan yang dilakukan oleh setiap karakter. Kita memang dikondisikan untuk bersimpati kepada Cheon-ji berikut keluarganya, tetapi kita tidak serta merta antipati kepada Hwa-yeon karena ia mempunyai alasannya sendiri mengapa menentukan Cheon-ji sebagai sasaran bulan-bulanannya. Bahkan sejatinya, Cheon-ji, Man-ji, serta Hyun-sook bukan sepenuhnya huruf putih higienis yang tiada mempunyai cela barang sedikitpun. Inilah salah satu faktor yang menciptakan Thread of Lies terasa mengikat pula bersahabat karena barisan tokohnya sanggup kita jumpai dengan gampang dalam sosok di sekitar kita. Terasa begitu nyata. Ada seseorang yang menentukan menghempaskan dukanya dengan melampiaskannya kepada orang lain ibarat Hwa-yeon, ada pula yang menentukan untuk meredamnya dengan sangat keras sehingga berujung pada depresi tak tampak ibarat Cheon-ji. Bukan sebatas film melodrama yang mengajak penontonnya untuk bertangis-tangisan, Thread of Lies turut meminta kepada penonton untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, utamanya keluarga dan sahabat, demi menghindari lahirnya Cheon-ji maupun Hwa-yeon lain. 

Menilik materi obrolannya yang tergolong serius, gampang untuk menduga Thread of Lies bakal melantunkan pengisahannya dengan nada penceritaan yang bermuram durja. Menginjak paruh final – well, bersama-sama teladan ini bisa pula kau jumpai di sebagian besar film drama asal Korea Selatan – film memang akan menciptakan matamu bisul tatkala mengupas semakin dalam kisah hidup tragis si protagonis. Tapi yang tak terbayang sebelumnya, canda tawa turut menghiasi beberapa titik. Ini diawali dari upaya Hyun-sook untuk membina kehidupan normal kembali bersama Man-ji di daerah tinggal gres mereka selepas diguncang tragedi. Interaksi keduanya, ditambah kehadiran tetangga gres yang nyentrik, Choo Sang-bak (Yoo Ah-in), kerap mengundang derai tawa yang mencairkan suasana. Kemampuan film untuk mempermainkan emosi penontonnya – entah itu tertawa, prihatin, murka hingga sesenggukkan – sedemikian rupa merupakan hasil dari kombinasi antara pengarahan baik sekali, naskah bernas, musik menyayat hati, serta performa jempolan barisan pelakonnya. Ya, setiap pelakon dalam Thread of Lies mempersembahkan akting di level meyakinkan sampai-sampai kita tidak keberatan sama sekali untuk menyematkan simpati kepada mereka. Yang paling mencuri perhatian yakni Kim Hee-ae sebagai seorang ibu yang menyimpan banyak sedih lara dibalik tebaran senyumannya dan Kim Hyang-gi yang air mukanya sudah cukup untuk menciptakan kita berlinang air mata tanpa perlu baginya mengucap sepatah katapun.

Outstanding (4/5)