October 27, 2020

Review : Tiga Dara


“Nunung merenung, Nana merana, dan Neni bersedih hati.” 

Rupa-rupanya penduduk negeri ini tak pernah lelah meributkan soal cari jodoh. Pertanyaan “kapan kawin?” dilanjut usulan membantu mencarikan pasangan yang kerap diajukan kepada para lajang di usia kepala dua keatas masih menjadi teror psikologis terhebat dalam era serba digital sekalipun enam tahun kemudian sudah diungkit-ungkit oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail, melalui Tiga Dara (1956). Hanya Tuhan yang tahu semenjak kapan persisnya pertanyaan mengusik tersebut tumbuh berkembang di bumi pertiwi, namun satu hal yang jelas, Tiga Dara yang merupakan rekaman sejarah bangsa Indonesia berbentuk produk kebudayaan menunjukkan bahwa problematika dikejar tenggat waktu menuju ke pelaminan tetap berasa relevan hingga setengah kurun kemudian. Tidak peduli telah melewati tiga periode pembangunan politik maupun pergantian tampuk kepemimpinan sebanyak enam kali, kasus mencari jodoh tetap dianggap mempunyai urgensi setara dengan mencari sesuap nasi bagi sebagian masyarakat Indonesia. 

Dalam Tiga Dara, sumber dari segala kerempongan yaitu Nenek (Fifie Young) yang ketenangannya terganggu karena cucu tertuanya, Nunung (Chitra Dewi), belum juga membina rumah tangga di usia menginjak angka 29. Mengingat Nunung yaitu perwujudan wanita tradisional kaku yang lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengurus kebutuhan domestik ketimbang bersosialisasi, tidak ada lawan jenis yang berada di dekatnya kecuali Bapak (Hassan Sanusi) dan Herman (Bambang Irawan), sobat keluarga. Khawatir Nunung berakhir sebagai perawan tua, Nenek menyarankannya pergi keluar bersama adiknya yang mempunyai pergaulan luas, Nana (Mieke Wijaya). Terbiasa mendekam di rumah dan mempunyai kepribadian cenderung kurang dekat tentu cara ibarat ini justru membal bagi Nunung sampai-sampai Nenek dibentuk pusing olehnya. Tatkala impian datangnya pasangan hidup bagi Nunung tampaknya telah pupus, hadir Toto (Rendra Karno) yang kesengsem berat dengan Nunung sehabis sebuah kecelakaan kecil yang lucu. Benih-benih cinta tumbuh diantara mereka yang sayangnya dihalang-halangi oleh Nana yang ternyata juga menyimpan rasa ke Toto. 

Begitulah. Sang nenek yang masih memegang teguh adab istiadat dan percaya betul pada takhayul sehingga terus mendesak Nunung untuk meraih kebahagiaannya atau dalam konteks ini, menikah, merupakan akar dari segala permasalahan di Tiga Dara. Ya, ijab kabul dianggap sebagai tolok ukur kebahagiaan seseorang. Dengan membopong tema bernada kritik sosial mengenai perspektif masyarakat terhadap pencapaian hidup tertinggi seorang wanita Indonesia (lagi-lagi, pernikahan) semacam itu, Usmar Ismail bergotong-royong bisa saja membawa film ke arah dramatis memakai paparan dongeng sarat pesan moral nan inspiratif. Nyatanya, dia enggan mencekoki penonton dengan petuah-petuah bijak serba eksplisit melainkan menentukan untuk mengajak bersenang-senang saja. Apakah nantinya penonton bisa mengintepretasikan sentilan sentilun yang disisipkannya secara implisit atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting, tujuan Tiga Dara untuk membahagiakan hati tuan-tuan dan puan-puan yang tengah dirundung lara bisa tercapai lebih dahulu. Itulah kenapa film begitu lancar bercerita pula menyenangkan buat disimak karena si pembuat film tidak dibebani keinginan macam-macam. 

Sekalipun niatan utama Usmar Ismail membesut Tiga Dara sekadar memberi hiburan, dia tidak lantas semata-mata bergantung pada bahan ngelaba kemudian mencuplik satu dua pelakon untuk menjalankannya. Malah, tingkat kecermatan penggarapan film berada di level teratas. Usmar Ismail memastikan betul bahwa setiap elemen bekerja semestinya, saling menopang satu sama lain, dan tak ada yang terbuang sia-sia. Lihat saja, naskahnya padat nyaris tiada menyisakan celah buat munculnya adegan yang dipanjang-panjangkan guna memenuhi sasaran durasi dan setiap pelakon yang mencurahkan kemampuan akting terbaik mereka mendapat kesempatan sama besar untuk bersinar (meski pandangan kerap tertuju pada Mieke Wijaya) berkat penceritaan Pak Usmar yang memungkinkan setiap huruf memberi sumbangsih kepada plot keseluruhan. Mula-mula, Tiga Dara ibarat panggung bagi Nunung dan Nenek semata. Lainnya menyingkir dahulu. Mereka berdua cekcok tiada habisnya soal status lajang si sulung dari tiga bersaudari. Kemudian perlahan Bapak memainkan peranannya, mencoba membantu ibunya merampungkan misi mencarikan pendamping bagi Nunung. 

Kita pun beroleh kesempatan menyaksikan dua dara lainnya, Nana dan Neni (Indriati Iskak), unjuk gigi begitu pula dengan dua laki-laki lainnya, Herman dan Toto. Mereka bukan semata-mata tim pemeriah suasana yang tiba kemudian pergi sesukanya, namun mempunyai kunci penting untuk menciptakan penonton lebih memahami karakteristik berikut motivasi-motivasi dari sang tokoh sentral, Nunung, memicu munculnya gelembung-gelembung konflik, sekaligus membantu melerai pertikaian di penghujung film. Lalu Tiga Dara unggul pula di sektor nomor-nomor musikal pemeriah film dengan lirik-lirik begitu apik nan menggelitik yang fungsinya bukan saja memberi kesenangan melainkan juga menggerakkan plot dan tata kameranya pun bermain-main cukup dinamis sehingga membantu menginjeksikan kesan “seperti tontonan Hollywood, ya” pada film. Dengan perpaduan secemerlang ini, sulit kiranya buat hati tak ikut diajak berdansa-dansi selama dan selepas menonton Tiga Dara. Sungguh sebuah suguhan yang menghibur, elok, dan menyentil dari Usmar Ismail.

Note : Tiga Dara telah melewati proses restorasi secara digital di laboratorium L’Immagine Ritrovata, Italia, sehingga mempunyai tampilan dan bunyi yang jernih ibarat halnya film baru.

Outstanding (4,5/5)