October 17, 2020

Review : Titanic 3D


I’m the king of the world!” – Jack

Apa menariknya menonton sebuah film yang kita sudah hafal jalan ceritanya di luar kepala, sanggup mengaksesnya secara gratis melalui televisi setiap tahunnya dan sudah kadaluarsa semenjak belasan tahun yang lalu? Well, Anda salah besar jikalau menganggap Titanic tidak lagi sedap untuk disaksikan di layar lebar sekalipun kali ini dirilis dalam format 3D. Dirilis ulang dalam rangka memperingati 100 tahun tenggelamnya Titanic pada 15 April 1912, film buatan James Cameron ini tetap terlihat menawan dan luar biasa. Tidak mengherankan jikalau dahulu abang saya menyaksikan film ini berulang kali di bioskop, dan selalu ‘full house’ di setiap pertunjukkannya sampai bisa bertahan lebih dari setengah tahun. Padahal, durasi filmnya sendiri mencapai 194 menit, bukan waktu yang singkat tentu saja. Keahlian Opa Jimmy dalam menggabungkan sejarah dengan fiksi yang dibalut dalam kisah mengenai percintaan beda kelas sosial, keserakahan dan kesombongan manusia, menimbulkan Titanic sebagai sebuah film yang dicintai oleh jutaan umat manusia. Resepnya sederhana, namun penanganannya tepat. 

Titanic menyoroti perjalanan pertama dan terakhir dari RMS Titanic yang disebut-sebut sebagai ‘Kapal Yang Tidak Bisa Tenggelam’ dari Inggris menuju Amerika yang dimulai pada 10 April 1912. Tak akan merebut hati para pecinta film di dunia apabila selama 3 jam Cameron patuh sepenuhnya kepada sejarah. Oleh sebab itu, diciptakanlah dua abjad fiktif yang nantinya menjadi salah satu pasangan paling diidolakan dalam sejarah film, Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) dan Rose DeWitt Bukater (Kate Winslet). Jack yakni dewasa miskin yang beruntung bisa berlayar bersama Titanic sehabis menang dalam sebuah permainan Poker di detik-detik terakhir keberangkatan Titanic, sementara Rose yakni wanita yang kelas sosialnya jauh di atas Jack. Yang menjadikannya menarik, baik Jack dan Rose digambarkan sebagai abjad yang manusiawi nan loveable. Rasanya sulit untuk tidak jatuh cinta dengan pasangan ini. Chemistry yang terjalin antara Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet pun sungguh meyakinkan. Tidak mengherankan apabila penonton betah duduk di kursinya selama lebih dari 3 jam untuk menyaksikan petualangan cinta antara dua insan insan yang terhalang oleh sebuah tembok besar, yakni perbedaan kelas sosial.

Berasal dari dunia yang berbeda, cinta antara Jack dan Rose tidak begitu saja bersemi dengan indahnya. Rose telah mempunyai tunangan, Cal (Billy Zane), yang angkuh serta menghalalkan segala cara demi memertahankan Rose di sisinya. Sang ibu, Ruth (Frances Fisher), pun tidak menunjukkan restu. James Cameron membubuhkan ideologi Marxisme dalam urusan silang sengkarut antara Cal yang berasal dari kelas borjuis dan Jack yang mewakili kelas ploretar. Namun pada dasarnya, inilah yang merupakan inti dari film secara keseluruhan, bahwa uang yakni Tuhan. Penumpang Titanic pun dibedakan menurut strata sosial, dengan masyarakat ploretar yang menempati dek kepingan bawah yang sempit sedangkan masyarakat borjuis menikmati kemewahan yang berlimpah ruah dengan kamar serta koridor yang luas di dek kepingan atas. Harapan untuk hidup ketika kapal karam kecil. Akan tetapi, di balik semua perlakuan tidak menyenangkan yang didapat, mereka sanggup menikmati hidup dengan apa adanya. Mencomot topik yang tengah terkenal dikala ini di Twitter, senang itu sederhana. Hal yang sama nyatanya tidak terjadi kepada masyarakat borjuis. Sejauh mata memandang, kebahagiaan yang terpancarkan dalam diri mereka tak lebih dari sebuah kepalsuan, topeng atau tameng yang dipakai untuk melindungi kerapuhan diri. Rose mencoba untuk berontak, beliau ingin lepas dari belenggu kemunafikan. Jack yakni jalan keluar terbaik. Sayangnya, sekalipun bekerjsama menderita, Ruth menghalangi jalan Rose. Dia tidak ingin kehilangan hartanya.

Setelah dilenakan dalam romantisme berbumbu pertikaian kelas yang penuh dinamika yang berlangsung lebih dari separuh durasi film, James Cameron menggiring kita pada sebuah pertunjukkan yang tak sanggup dielakkan lagi merupakan salah satu yang terhebat dalam sejarah disaster movie. Kekuatan yang tiba dari akting para pemain, naskah, editing, sinematografi serta art direction turut disokong oleh pengaruh khusus yang mengagumkan. Karamnya Titanic ditampilkan secara detil, perlahan tapi pasti, sehingga bisa membuat penonton diliputi rasa was-was, pilu, tercekam dan kagum sekaligus. 1500 orang lebih harus merelakan nyawa mereka akhir kesombongan yang dilakukan oleh segelintir pihak. Iringan musik dari James Horner yang terus menghantui pikiran saya sampai kini bisa membuat suasana yang dramatis serta membuat emosi kian bergejolak. James Cameron pun tidak main-main tentang konversi Titanic ke dalam bentuk 3D. Menghabiskan waktu sampai 60 ahad dengan bujet $18 juta, Titanic memiliki hasil konversi 3D terbaik yang pernah ada. Saya awalnya sempat skeptis dengan hal ini, “ah, paling-paling 3D yang berasa cuma waktu kapalnya mau tenggelam.” Namun ternyata saya salah. Kedalamannya begitu terperinci sehingga penonton terasa menjadi kepingan dari penumpang Titanic. Titanic 3D memberikan sebuah pengalaman menonton yang tak terlupakan di bioskop. Jika Anda belum pernah menyaksikan Titanic di bioskop, maka inilah saatnya. Dan jikalau Anda dulu telah berulang kali menontonnya di bioskop, maka tontonlah sekali lagi. Titanic 3D sangat memuaskan.
Outstanding