October 27, 2020

Review : Toba Dreams


“Lelaki jago bukan mereka yang bisa melewati ribuan pertempuran, lelaki jago ialah mereka yang ada untuk keluarganya.” 

Ada banyak senyum mengembang tanda kepuasan seusai menyaksikan film Indonesia dalam kuartal pertama di tahun 2015 ini. Baru saja kita menapaki Mei, akan tetapi film-film berkualitas di atas rata-rata terus mengalir silih berganti (nyaris pula tanpa henti). Seorang mitra bahkan berujar, “apabila FFI dihelat bulan Mei, kuota untuk nominasi film terbaik akan dengan gampang terisi.” Dan saya sangat meyakini – tiada keraguan sedikitpun – bahwa salah satu judul yang dimaksudnya ialah Toba Dreams. Garapan terbaru dari Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Love & Faith) yang didasarkan pada novel berjudul serupa rekaan T.B. Silalahi ini tak bisa dipungkiri merupakan salah satu dari sederet karya perkasa dari sineas dalam negeri di tahun ini. Walau menerapkan formula klasik pada sisi penceritaan dengan durasi yang tergolong panjang pula, Toba Dreams nyatanya tak pernah sedikit pun terpeleset menjadi tontonan melelahkan bercita rasa usang. Sebaliknya, berkat perpaduan tepat antara skrip berisi, performa penuh tenaga, serta visualisasi menyejukkan mata, Toba Dreams justru berubah menjadi sebagai film mengesankan yang tak segan-segan mengoyak emosimu hingga titik maksimal. 

Konflik dalam Toba Dreams bermula dari keputusan Sersan Tebe (Mathias Muchus) memboyong keluarganya pindah ke kampung halamannya di Sumatera Utara seusai pensiun dalam melayani negara. Dipaksa berpisah dari kekasih tercinta sekaligus mendiami tempat yang tidak mengatakan cita-cita apapun, putra sulung TB, Ronggur (Vino G Bastian) memberontak. Hanya sekejap sehabis menempati kediaman gres milik Opung Boru (Jajang C. Noer), Ronggur minggat ke Jakarta. Dalam perantauan di ibukota inilah, Ronggur menjalani profesi sebagai supir taksi yang lantas mempertemukannya dengan sejumlah gembong narkotika kelas kakap. Dibutakan oleh ambisi untuk mencapai kejayaan secara kilat dengan tujuan untuk menerangkan kepada sang ayah bahwa beliau sanggup sukses, Ronggur pun terjun ke dunia gelap ini. Memang betul, hanya dalam waktu singkat penghasilan Ronggur meroket yang membuatnya sanggup hidup mapan sekaligus membina rumah tangga bersama Andini (Marsha Timothy). Akan tetapi, ada harga yang harus dibayar mahal oleh Ronggur demi secicip kesuksesan yang sejatinya juga tidak berasa bagus itu. 

Apabila Bulan di Atas Kuburan yang rilis beberapa waktu silam cenderung mengetengahkan fokus sebatas pada usaha sejumlah aksara Batak dalam mengarungi kelamnya Jakarta demi menemukan secercah cahaya, maka Toba Dreams mencoba berbicara lebih dari itu. Walau sama-sama menyoal mimpi yang diluluhlantakkan oleh ambisi, Benni Setiawan juga membawa problem yang lebih relatable bagi penontonnya, sekalipun kau tidak berdarah Batak. Siapa sih yang tidak pernah berkonflik dengan orang renta (khususnya ayah) tentang pilihan masa depan? Siapa sih yang tidak pernah terpuruk alasannya ialah merasa gagal belum menyumbangkan bantuan membanggakan bagi orang tua? Dan siapa sih yang tidak pernah berada dalam posisi takut untuk mengecewakan orang renta sehingga terpaksa menentukan jalan sesuai petunjuk orang tua? Jika penonton sudah menapaki usia 20-an, daddy issues merupakan salah satu hal yang tidak bisa terelakkan… entah disadari atau tidak. Beranjak dari problematika secara umum dikuasai inilah, Benni membangun konflik utama yang lantas dijahit bersama serangkaian permasalahan hidup lainnya. 

Ya, ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh si pembuat film lewat Toba Dreams. Walau ketegangan ayah-anak ditempatkan sebagai tombak utama, kita juga mendapati plot mengenai toleransi beragama, lika-liku dua sejoli dalam memperjuangkan kisah cinta, minimnya balas jasa dari pemerintah terhadap pensiunan militer, hingga upaya menegakkan mimpi di Toba Dreams. Terkesan penuh sesak, memang, dan jikalau memeriksa jejak rekam Benni Setiawan di beberapa film terakhir yang tergolong mengendur, ada kekhawatiran tatanan kisah tersampaikan secara tertatih-tatih. Tapi untungnya, meski beberapa sempalan konflik ada yang masih terasa kurang matang, Benni berhasil menggulirkan penceritaan secara lancar di sini. Malah, Toba Dreams bisa dikatakan sebagai karyanya paling memuaskan selain 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Caranya dalam mempermainkan emosi penonton sepanjang durasi mengalun tidak main-main. Berulang kali hati ini dibentuk teriris-iris dan mata berkaca-kaca, terlebih di titik puncak yang memunculkan hentakan besar lengan berkuasa dengan iringan tembang mendayu-dayu “Dang Marna Mubaho.” Memberikan definisi yang tepat untuk kata heartbreaking

Menariknya, untuk menghindarkan kesan depresif dan menjaga mood penonton biar tidak acak-acakan karena kelewat sering air mata dikuras, dituangkanlah elemen humor dan agresi ke sajian penceritaan. Ada sesekali baku tembak kolam film gangster – pertarungan puncak yang berlangsung di klub malam meski singkat tapi tereksekusi keren – sementara canda tawa cukup banyak mewarnai paruh awal menuju pertengahan tanpa pernah mendistraksi alur utama maupun menjadi kelewat konyol. Tugas menciptakan penonton bersenang-senang ini diemban secara mengesankan oleh Boris Bokir sebagai Togar, sobat masa kecil Ronggur, serta Jajang C. Noer. Sedangkan tugas dalam menghujam hati penonton diserahkan kepada Vino G Bastian, Mathias Muchus, Marsha Timothy, dan Tri Yudiman, yang masing-masing mempunyai momen untuk bersinar dengan lakon cemerlang pula emosional. Ketangguhan dari departemen akting ini ditopang juga oleh ilustrasi musik Viky Sianipar yang menghanyutkan beserta kecakapan Roy Lolang dalam mengabadikan keelokan alam Sumatra Utara sehingga menghasilkan salah satu film Indonesia terkuat tahun ini yang seketika seusai menontonnya menciptakan saya tidak kuasa untuk menelpon ayah tercinta sekadar untuk menanyakan kabar. Satu pesan saya sebelum kau memasuki studio demi menonton Toba Dreams: persiapkan sekotak tissue!

Outstanding