September 29, 2020

Review : Tomb Raider


“You messed with the wrong family.” 

Ladies and gentleman, Lara Croft is back! Bukan dalam bentuk sekuel yang melanjutkan dwilogi jelek tapi menghibur Lara Croft Tomb Raider (2001) dan The Cradle of Life (2003) dengan bintang Angelina Jolie, melainkan dalam bentuk reboot yang memulai segala sesuatunya dari awal mula. Keputusan ini bukannya tanpa alasan terperinci mengingat: 1) rencana pembuatan film ketiga telah diurungkan karena Jolie emoh kembali dilibatkan, dan 2) seri permainan rekaan Crystal Dynamics yang merupakan landasan utama penyesuaian ini pun me-reboot petualangan Lara Croft di tahun 2013. Dikontrol oleh Warner Bros. versi reboot yang memakai judul (sederhana) Tomb Raider ini memakai konsep dan pendekatan cukup berbeda dibanding seri-seri pendahulunya. Sang heroine yang sekarang diperankan oleh pemenang piala Oscar, Alicia Vikander, bukan lagi sosok lady badung yang luar biasa tangguh dengan kemampuan tarung sulit untuk dikalahkan dan mempunyai fisik aduhai kolam Lara Croft versi Jolie. Sekali ini ia digambarkan lebih ringkih dan membumi, begitu pula dengan guliran pengisahan Tomb Raider versi 2018 yang mencoba semoga lebih bisa diterima nalar penonton (walau hanya sedikit) dan memberi aksentuasi pada sisi petualangan alih-alih sebatas pada laga. Hasilnya, Tomb Raider masa gres ini sanggup tampil lebih baik ketimbang masa lawas dan sebagai tontonan eskapisme pun film ini bisa hadir dalam kapasitas yang mumpuni. 

Menyandang status sebagai origin story, Tomb Raider memulai jalinan pengisahannya sedari awal semenjak Lara Croft (Alicia Vikander) masih mencoba untuk berdamai dengan rasa murung akhir hilangnya sang ayah, Lord Richard Croft (Dominic West), tanpa jejak. Guna menekan rasa duka, Lara mencoba untuk hidup berdikari dengan meninggalkan mansion mewahnya, menyerahkan bisnis keluarga kepada orang kepercayaan sang ayah, dan menentukan berkarir sebagai kurir sepeda yang memacu adrenalin tatkala tenggat waktu sudah mepet. Selama bertahun-tahun berada dalam fase ‘denial’, Lara karenanya harus menghadapi kenyataan tatkala rekan bisnis Richard, Ana Miller (Kristin Scott Thomas), memperingatkan bahwa mansion milik keluarga Croft akan dijual apabila Lara tidak kunjung menandatangani surat pernyataan peserta harta waris yang secara otomatis turut menyatakan bahwa Richard telah tiada. Dalam keragu-raguan, Lara menemukan sebuah petunjuk penting yang mungkin mengungkap keberadan sang ayah. Petunjuk tersebut mengarahkan jagoan kita ke Yamatai, formasi pulau di lepas pantai Jepang, yang konon kabarnya dikutuk alasannya menjadi makam bagi Ratu Himiko yang kejam. Hanya membawa modal seadanya berupa buku harian Richard dan kenekatan, Lara ditemani oleh pelaut Lu Ren (Daniel Wu) pun bertolak ke Yamatai demi menemukan kebenaran dibalik misteri menghilangnya sang ayah.
Ada satu kesamaan yang menautkan film-film yang disesuaikan dari permainan konsol; skripnya lemah dengan guliran penceritaan penuh lubang dan kerap dipertanyakan. Walau ini sejatinya bukan sesuatu mengherankan mengingat materi sumbernya sendiri cenderung abai soal plot alasannya inti dari permainan bukanlah kedalaman kisah melainkan terletak pada visualisasi dan tantangan yang dihadapkan ke pemain. Tomb Raider versi Roar Uthaug (The Wave) selaku film penyesuaian dari video game berseri pun (tentunya) menghadapi duduk perkara serupa. Ya mau bagaimana lagi, plot memang bukan sesuatu yang benar-benar krusial di sini alasannya keberadaannya sendiri sebatas untuk menjustifikasi munculnya rentetan agresi yang dihadapi sang jagoan. Tapi kalau boleh dikomparasi dengan dua seri Tomb Raider yang menampilkan Jolie, ini masih setingkat lebih baik. Narasi rekaan duo Geneva Robertson-Dworet dan Alastair Siddons setidaknya menaruh perhatian kepada sosok Lara Croft dengan memberinya latar belakang sekaligus karakterisasi cukup terperinci sehingga ia terlihat manusiawi dan bukanlah sebatas huruf jagoan kosong. Penonton melihatnya berproses dari seorang wanita yang mencoba mengatasi dukanya dengan melarikan diri menjadi seorang wanita yang pantang mengalah dan berani menghadapi tantangan di depannya. Alicia Vikander bisa menunjukkan perubahan ini secara meyakinkan baik melalui air muka maupun gestur badan yang terlihat dari kemampuannya menangani adegan agresi sehingga huruf Lara di tangannya sanggup dikategorikan ‘badass’. 

Ketiadaan plot yang mengikat – well, misteri perihal Pulau Yamatai dan Ratu Himiko ini bergotong-royong menarik hingga kemudian perlahan raib ketika sang heroine karenanya menginjakkan kaki di pulau misterius tersebut – untungnya berhasil dikompensasi oleh Uthaug dengan kapabilitasnya dalam mengkreasi rentetan sekuens laga yang bisa memacu adrenalin di hampir sepanjang durasi. Beberapa adegan agresi di Tomb Raider yang menawarkan impresi sangat baik kepada penonton mencakup puluhan sepeda yang saling berkejar-kejaran menembus jalanan kota London yang padat di menit pembuka yang seketika membangkitkan ketertarikan terhadap film, terjangan angin ribut besar menyambut kedatangan Lara beserta Lu Ren di Pulau Yamatai yang memporakporandakan kapal yang mereka tumpangi, bergelantungan di bangkai pesawat yang nangkring di atas air terjun, duel Lara dengan salah satu anak buah dari villain utama film ini di atas kubangan lumpur, hingga petualangan menyusuri makam Ratu Himiko yang di dalamnya ternyata dipenuhi dengan jebakan mematikan yang menyulitkan siapapun untuk keluar dari makam tersebut hidup-hidup. Adegan-adegan ini berhasil dengan baik membawa penonton memasuki fase ‘harap-harap cemas’ seraya meremas-remas bangku bioskop dengan erat. Adegan-adegan ini juga yang menawarkan alasan mengapa Tomb Raider layak ditonton di layar lebar. Meski penceritaannya mungkin saja akan membuatmu geleng-geleng, tapi setidaknya Alicia Vikander tampil meyakinkan sebagai Lara Croft dan rentetan laganya yang digeber hampir tanpa henti menawarkan definisi dari kata mengasyikkan.

Exceeds Expectations (3,5/5)