October 23, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Tomorrowland


“Every day is the opportunity for a better tomorrow.” 

Ada banyak bahan terhampar dalam katalog The Walt Disney Company yang bisa dipergunakan untuk diolah menjadi sebuah film. Entah itu berwujud film animasi berstatus klasik yang lantas didekonstruksi biar tetap mempunyai cita rasa segar atau wahana bermain ramai pengunjung yang biasa dijumpai di Disneyland. Khusus untuk yang terakhir, Walt Disney Pictures telah melaksanakan beberapa kali eksperimen melalui Tower of Terror, The Country Bears, dan The Haunted Mansion yang kesemuanya memperoleh resepsi hambar dari khalayak ramai. Satu-satunya keberhasilan dalam ‘percobaan’ dicicipi oleh Pirates of the Caribbean yang bahkan bermetamorfosis sebagai salah satu franchise terbesar bagi studio ini. Berharap bisa mendulang kesuksesan serupa, terlebih lagi dibekali oleh premis ambisius yang dikreasi oleh dream team terdiri atas Brad Bird (The Iron Giant, The Incredibles) dan Damon Lindelof (Lost, Star Trek Into Darkness), diciptakanlah Tomorrowland yang terinspirasi dari themepark berjulukan serupa yang mengakomodir tetek bengek berkenaan dengan nuansa futuristik. 

Dimulai pada tahun 1964, penonton lantas diperkenalkan kepada seorang bocah pemimpi berjulukan Frank Walker (Thomas Robinson) yang mencoba peruntungan di sebuah event kompetisi teknologi dengan jetpack rakitannya. Sayangnya, ketika dipresentasikan di hadapan ilmuwan Nix (Hugh Laurie), jetpack tersebut mengalami malfungsi sehingga kesempatan melenggang membawa trofi seketika pupus. Di ketika Frank mulai mencoba mendapatkan kenyataan, Athena (Raffey Cassidy) yang rahasia memperhatikan, memberinya harapan dalam bentuk pin misterius bersimbol T. Berkat pin ini, Frank sanggup melangkahkahkan kaki ke dunia utopia yang memungkinkannya dalam mewujudkan imajinasi liarnya. Untuk sesaat, harapan Frank menerima kehidupan lebih baik tampaknya terpenuhi, hingga kita dilompatkan ke masa sekarang yang mengatakan Frank (George Clooney) hidup kesepian tanpa keluarga di pedalaman. Mencoba menghempaskan masa lalu, tiba-tiba Frank kedatangan tamu seorang gadis remaja berjulukan Casey Newton (Britt Robertson) yang mengaku mencicipi pengalaman serupa berkat pin T yang diberikan oleh Athena. 
Beranjak dari premis raksasa, “bagaimana seandainya ada sebuah daerah yang memungkinkan bagi para ilmuwan dan pemimpi untuk bersatu membuat apapun yang ingin mereka ciptakan tanpa terusik oleh birokrasi rewel serta pemerintah korup?,” Tomorrowland terperinci terdengar menggugah selera. Terlebih lagi bahan promosinya yang pelit memberi informasi terkait plot – proyeknya saja dikenal sebagai top secret Disney’s sci-fi movie – dengan pengutamaan pada visualisasi mengagumkan negeri utopianya membangkitkan ekspektasi yang semakin usang semakin membumbung tinggi. Keterlibatan duo jenius Brad Bird-Damon Lindelof kian mengukuhkan harapan bahwa Tomorrowland akan bermetamorfosis sebagai tontonan mind-blowing tingkat tinggi seperti memberi teriakkan lantang, “hei, ini film yang keren!.” Ya, idenya memang harus diakui sangat menarik, malah bisa dikata luar biasa, tetapi pada akibatnya eksekusilah yang berbicara banyak. Dan memperbincangkan soal eksekusi, nyatanya Tomorrowland tidaklah sedahsyat selayaknya bayangan yang terpatri di pikiran banyak penonton. 
Well, Tomorrowland memang masih jauh dari kesan buruk. Brad Bird yang bertindak sebagai sang nahkoda kapal bersedia meladeni undangan penonton untuk bersenang-senang, paling tidak di paruh pertama. Semenjak takdir mempertemukan Casey dengan pin T, sisi excitement pada film satu persatu mulai dihampar. Bermula pada pengenalan terhadap penampakan Tomorrowland yang tak bisa dipungkiri divisualisasikan secara menakjubkan (ada yang merasa bak renang bertingkatnya begitu keren?), penyerangan di toko cinderamata yang sedikit banyak menguarkan nuansa Men in Black, hingga gelaran agresi yang memberi kita adegan melarikan diri yang seru melibatkan Casey-Athena. Saat Casey berjumpa untuk pertama kalinya dengan Frank, tensi sedikit diturunkan. Lebih banyak elemen komikal dimainkan, tetapi tidak berlangsung usang sebelum sekelompok laki-laki berjas hitam memaksa dua tokoh utama ini yang kemudian ditemani oleh Athena melaksanakan pelarian. Menegangkan dan mengasyikkan, tentu saja. Belum lagi di menit-menit ini pertanyaan besar soal “apa sih sejatinya Tomorrowland itu?” beserta “apa yang diinginkan Athena pada Casey-Frank?” masih mengemuka. Kesenangan mencapai puncaknya tatkala kita menjadi saksi megahnya bazar pengaruh khusus melalui perwujudan menara Eiffel yang terbelah. 
Seusai penonton diajak menapaki Tomorrowland, seketika nada penceritaan mulai berkelok. Inilah saatnya Bird harus berkompromi dengan naskah (maunya) thought-provoking buatan Lindelof. Semua gegap gempita yang kita rasakan sebelumnya tergantikan oleh penyampaian bernada menceramahi berisi sederet pesan moral mengenai harapan dan perilaku optimis ditambah kritik sosial terhadap peradaban insan ketika ini. Terdengar berat? Bagi penonton cilik yang bersorak sorai memperoleh suguhan menyenangkan khas Disney di paruh pertama, ya. Memberi kebingungan dengan dahi berkerut-kerut. Sementara penonton sampaumur – setidaknya bagi saya – mendatangkan rasa tidak puas karena visi Lindelof dihidangkan setengah matang oleh Bird. Imbasnya ada pada laju film yang tersendat-sendat, membawa kejenuhan. Penjabaran si pembuat film soal dunia futuristis yang diciptakannya pun lebih banyak memunculkan pertanyaan ketimbang jawaban. Untung saja, Tomorrowland punya departemen akting yang solid – pengecualian untuk George Clooney yang kelewat depresif – pengaruh khusus kelas premium, serta paruh awal yang memberi petualangan mengasyikkan, sehingga sedikit banyak masih termaafkan. Seandainya saja Tomorrowland tidak mencoba untuk berpintar-pintar ria, fokus sepenuhnya pada aspek hiburan, hasilnya bisa jadi akan lebih memuaskan.

Acceptable