October 19, 2020

Review : Total Recall


If I’m not me, then who the hell am I?” – Douglas Quaid

Coba Anda bayangkan, seandainya kehidupan yang Anda jalani selama ini ternyata penuh dengan kepalsuan, bab dari sebuah sandiwara yang tersusun rapi, sementara mimpi Anda yang dianggap banyak pihak sebagai bunga tidur ternyata justru merupakan kehidupan Anda yang sesungguhnya, apa yang akan Anda lakukan? Jelas nyaris tidak ada orang di sekitar Anda yang sanggup dipercaya. Bisa jadi, mereka yaitu bintang film atau pegawanegeri yang digaji untuk berpura-pura menjadi istri, sahabat, atau bahkan orang renta Anda. Pada titik ini, satu-satunya pihak yang sanggup mendapatkan amanah hanyalah Anda sendiri, yang ironisnya, malah merupakan orang yang paling sedikit tahu mengenai identitas Anda sendiri. Memusingkan, bukan? Beruntung, para pembaca yang budiman tidak mengalami hal ini. Cukup Doug Quaid (Colin Farrell) saja yang merasakan rasa pahit dari sebuah kepura-puraan. Segala macam kebijaksanaan busuk yang menggerogoti kehidupan Quaid ini merupakan inti permasalahan dari film terbaru Len Wiseman yang diangkat dari cerpen karangan Philip K. Dick, ‘We Can Remember It for You Wholesale’, yang sebelumnya juga sudah pernah diejawantahkan ke dalam bentuk film layar lebar pada tahun 1990 dengan judul Total Recall. Arnold Schwarzenegger dan Sharon Stone didapuk menjadi bintangnya kala itu dibawah pengarahan Paul Verhoeven. 
Kini, ‘mimpi buruk’ dari Doug Quaid kembali diputar sekali lagi. Dengan tim yang baru, sumber yang sama, Total Recall versi Len Wiseman ini berusaha untuk lebih bersahabat dengan cerpen Philip K. Dick ketimbang film sebelumnya. Sadar beban berat disandangnya, terutama alasannya versi Verhoeven sukses dari segi kualitas maupun kuantitas, maka Wiseman membuat dongeng futuristik berlatar di Bumi paska Perang Dunia III dengan misi yang berbeda. Bahkan, tidak ada Mars disini! Sepanjang film, Total Recall hanya berkeliling-keliling di planet biru yang tercinta ini. Settingnya terbagi menjadi dua; Koloni dan Federasi. Dua wilayah inilah sisa-sisa peninggalan dari Bumi yang telah porak poranda. Koloni berlokasi di tanah bekas milik Australia, sementara Federasi menempati Inggris Raya. Dalam visualisasi yang tertata cantik, detil dan megah, Koloni dan Federasi mempunyai penggambaran yang kontras. Koloni yang senantiasa dihiasi dengan rintikan hujan diwujudkan dalam nuansa pinggiran Hong Kong yang padat, semrawut, nan kumuh. Disinilah kawasan tinggal kaum proletar. Sedangkan Federasi merupakan perwujudan dari kota masa depan yang kerap Anda temui dalam film fiksi ilmiah. Mobil terbang, jalan tol di udara, sampai gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dimana-mana. Masyarakat, yang didominasi kalangan menengah ke atas, mempunyai mobilitas yang tinggi. Dengan kondisi ras insan yang terancam punah, tidak ada niatan bagi kedua negara adikuasa ini untuk bersatu. Yang ada, kesenjangan sosial semakin tajam. Alat transportasi yang dipakai untuk menghubungkan Koloni dan Federasi yaitu ‘The Fall’, semacam perpaduan antara pesawat dan kereta api dengan jalur melewati inti bumi. 
Doug Quaid yaitu penduduk Koloni. Dia bekerja sebagai buruh pabrik pembuatan robot penegak hukum. Kehidupannya biasa saja, cenderung monoton malah. Satu-satunya yang istimewa darinya yaitu ia mempunyai seorang isti yang cantik, Lori (Kate Beckinsale). Tidak heran jikalau ia bermimpi untuk mengunjungi Mars memeriksa rutinitasnya yang menjemukan. Namun, kehidupan Doug mendadak jungkir balik karena sebuah mimpi yang terlalu konkret untuk disebut sebagai sebuah mimpi. Doug mencoba untuk menelusurinya. Dia menyambangi Rekall, sebuah perusahaan yang menanamkan memori buatan ke kliennya sesuai dengan harapan si klien. Belum sempat Doug merasakan akomodasi yang disuguhkan oleh Rekall, segerombolan polisi menyergap perusahaan ini. Terjadilah agresi baku tembak yang menewaskan kurang lebih 20 polisi. Dari sini, sekelumit ingatan Doug akan masa kemudian yang sebelumnya tercecer satu demi satu mulai terhubung. Pertemuannya dengan Melina (Jessica Biel), perempuan yang kerap dilihatnya di mimpi, mengungkap identitas Doug yang sesungguhnya. Kehidupan yang selama ini dijalaninya ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara yang mengungkap betapa bobroknya sistem politik di Koloni dan Federasi. 
Tanpa menyandingkannya dengan versi Schwarzenegger, Total Recall versi tahun 2012 ini, tanpa disangka-sangka, sanggup menghadirkan sebuah sajian animo panas yang penuh hingar bingar dengan menghibur, seru, dan menegangkan. Len Wiseman membuat saya serasa terikat di bangku bioskop, tak sekalipun ada niatan untuk rehat sejenak dan mengunjungi toilet atau bermain-bermain dengan ponsel kesayangan. Saya akui, saya sangat menikmatinya. Deretan agresi yang intens, berjalan cepat, memompa adrenalin, penuh energi, dan nyaris tanpa jeda – membuat saya tersengal-sengal, menjadi hidangan utama disini. Fun, fun, fun! Inilah film paling menghibur dari pagelaran film animo panas tahun ini. Mendapat sokongan dana yang berlimpah, Wiseman berkesempatan untuk menaburi Total Recall dengan dampak khusus yang glamor serta adegan agresi yang jor-joran. Yang paling berkesan yaitu adegan kejar-kejaran antara Doug dan Melina dengan Lori dan robot penegak aturan di sebuah labirin lift berbentuk vertikal dan horizontal dengan lift yang muncul secara cepat tanpa terduga. Mendebarkan. Dan saya yakin, sehabis saya berpanjang lebar membahas mengenai tampilan visual, Anda tentu bertanya-tanya, lantas bagaimana dengan akting dan naskah yang biasanya paling saya soroti? Oh damai saja, tidak usah khawatir. Meskipun dari jajaran pemain hanya Kate Beckinsale yang tampil menonjol, akan tetapi Colin Farrell dan Jessica Biel tidaklah mengecewakan. Hanya saja, penampilan mereka tertutupi oleh Beckinsale yang sekali ini tampil cemerlang. Omong-omong – sedikit keluar jalur, adakah dari Anda yang merasa Beckinsale dan Biel itu mirip? Karena saya merasa menyerupai itu, dan hebatnya, saya sempat mengira Biel yaitu Beckinsale di adegan pembuka, haha. Kembali ke topik. Naskah olahan Kurt Wimmer dan Mark Bomback sekalipun tidak mencapai tahapan luar biasa, tergarap dengan baik dan cermat, serta berhasil dituangkan ke dalam bentuk film layar lebar oleh Len Wiseman dengan apik dan memuaskan. Total Recall yaitu sebuah film agresi fiksi ilmiah yang menghibur dan menyenangkan untuk ditonton di bioskop kala waktu senggang. Well done, Mr. Wiseman, well done.

Exceeds Expectations