October 22, 2020

Review : Train To Busan


“I’ll take you to mom no matter what.” 

Belum ada sepekan memproklamirkan 2016 sebagai tahun yang ngertiin banget para pecinta film horor – hati masih dibentuk bungah oleh Don’t Breathe – muncul satu lagi judul film menakutkan yang menyita perhatian. Sekali ini penyuplainya bukan Negeri Paman Sam, melainkan dekat-dekat saja berasal dari Korea Selatan dan konon kabarnya telah merengkuh 11 juta penonton selama penayangan di bioskop dalam negeri (wuedan!). Train to Busan, demikian film ini disebut, bermain-main dalam teritori zombie yang ulik punya ulik gres kali pertama dijadikan materi kupasan film besar buatan sineas Negeri Gingseng dan ngobrol-ngobrol soal pertama, dingklik penyutradaraan film ini diduduki sutradara pendatang gres dalam ranah live action, Yeon Sang-ho, yang jejak rekamnya mencakup animasi-animasi panjang menyerupai The King of Pigs dan The Fake. Hmmm… meragukan? Well, sekalipun serba pertama, kenyataannya Train to Busan bukanlah ‘film hijau’ yang bisa kau olok-olok sesuka hati. Menyatukan elemen penggedor jantung dengan elemen penggelitik saraf haru secara tepat berbalut dampak khusus meyakinkan, Train to Busan merupakan bukti lainnya bahwa perfilman Korea Selatan seharusnya di tingkatan teratas untuk diwaspadai oleh Hollywood. 

Protagonis utama dalam Train to Busan yaitu seorang manajer pendanaan berjulukan Seok-woo (Gong Yoo) yang terlalu sibuk bekerja sampai-sampai kesulitan mengatur quality time dengan putri semata wayangnya, Su-an (Kim Su-an). Kekecewaan Su-an terhadap sang ayah mencapai titik kulminasi sehabis mendapat hadiah ulang tahun yang sama menyerupai tahun sebelumnya. Su-an pun menuntut Seok-woo untuk menemaninya menjumpai sang ibu yang telah berpisah dengan ayahnya di Busan. Meski penuh keraguan pada mulanya, sebuah rekaman video menyadarkan Seok-woo biar menunjukkan waktu beserta perhatian lebih kepada Su-an. Seok-woo pun bersedia mengantarkan putrinya ke Busan dengan menaiki Korea Train Express yang bertolak dari Seoul di pagi buta. Dalam perjalanan menuju stasiun, Seok-woo mencium adanya ketidakberesan yang lantas dianggapnya kecelakaan biasa. Yang tidak diketahuinya, begitu pula ratusan penumpang lain, sebuah virus misterius tengah menginfeksi penduduk Korea dan menjalar sangat cepat tanpa terkendali. Saat salah seorang korban menyusup masuk ke dalam kereta, kereta menuju Busan pun bukan lagi moda transportasi yang aman. Sejumlah penumpang yang selamat pun berusaha bertahan hidup hingga kereta berhenti di stasiun terakhir dengan caranya masing-masing. 

Korea, oh Korea. Siapa sih bakal menyangka film zombie bisa bikin kau usap-usap air mata? Tapi itulah yang akan kau lakukan selepas menyaksikan Train to Busan – atau setidaknya di 20 menit terakhir. Memang untuk urusan memporakporandakan emosi penonton, perfilman Negeri Gingseng sudah tidak perlu kau pertanyakan lagi kehebatannya. Namun tetap saja tidak pernah terlintas di benak akan ada tetesan air membasahi pipi kala menyaksikan sebuah film mengenai serangan jenazah hidup. Damn. Tanda-tanda film akan diarahkan pula ke jalur melodrama sih sejatinya telah tercium sedari awal mengikuti keputusan Yeon Sang-ho ditemani penulis skenario Park Joo-suk untuk membawa penonton melongok ke korelasi cuek antara Seok-woo dengan putrinya. Somehow, kita sanggup mencicipi mereka akan memanfaatkannya sebagai senjata pengoyak hati-hati sensitif ketika keadaan semakin genting. Tidak hanya mengandalkan Seok-woo dan Su-an, si pembuat film turut memperkenalkan penonton pada beberapa abjad simpatik menyerupai pasangan suami istri Sang-hwa (Ma Dong-seok) dan Seong-kyeong (Jung Yu-mi), seorang nenek Jong-gil (Park Myung-sin), laki-laki tunawisma (Choi Gwi-hwa), beserta pasangan muda mudi dari tim baseball sehingga kita sanggup menginventasikan emosi ke film. 

Dalam artian, penonton memiliki kepedulian atas nasib barisan karakternya yang meningkatkan greget filmnya itu sendiri. Kita bisa berteriak-teriak “ayo lekas lari, lekas!” dikala gerombolan zombie bersiap memangsa mereka, ikut diliputi amarah membara tatkala salah seorang penumpang egois berikut penumpang-penumpang hasutannya mengisolasi mereka, hingga mencicipi ketidakrelaan teramat sangat ketika satu persatu mulai terinfeksi. Kemampuan melibatkan emosi inilah yang menciptakan atensi penonton terpancang sepanjang durasi sampai-sampai enggan beranjak meski hanya sedetik dua detik dari dingklik sebelum kereta balasannya benar-benar berhenti di stasiun Busan. Perjalanan selama dua jam yang dimasinisi Yeon Sang-ho sendiri berlangsung cepat. Tidak pernah meninggalkan rasa lelah, apalagi menjemukan, dan tahu-tahu telah memasuki stasiun terakhir. Resepnya, kepiawaian masinis menunjukkan atraksi-atraksi menarik di setiap stasiun maupun gerbong dan laju kereta yang kencang dijaga konstan. Sebelum elemen melodrama menyelinap ke penceritaan, Train to Busan terlebih dahulu diatur ke mode suspense yang mencekat. Titik lontarnya terhitung sedari Korea Train Express meninggalkan Seoul begitu seorang wanita dinyatakan resmi terinfeksi. 

Tidak ada lagi ketenangan, tensi ketegangan seketika mencuat. Hanya dalam hitungan menit, dominan gerbong telah disesaki oleh zombie-zombie dadakan yang senantiasa kelaparan. Mereka bergerak gesit, menyulitkan para penyintas (beserta penonton, tentunya) untuk menghela nafas barang sejenak. Satu-satunya cara menghentikan serangan zombie – selain menghabisinya satu persatu dengan gagah berani yang berarti resiko tertular sangat besar – yaitu menghalau pandangan mereka. Itupun hanya mengulur waktu, bukan benar-benar mengatasi persoalan. Makara menjauhi kawanan zombie yaitu solusi terbaik yang bisa ditawarkan guna memperoleh keselamatan. Yang kemudian menciptakan Train to Busan kian menggigit buat ditonton yaitu pergerakan berikut perlengkapan buat mempertahankan hidup yang serba terbatas mengingat mereka terjebak di dalam kereta sehingga menunjukkan ketegangan tersendiri serta adanya ancaman dalam bentuk lain yang turut dimanfaatkan si pembuat film untuk melontarkan kritik sosial. Ya, zombie bukanlah sosok paling berbahaya yang dihadapi oleh Seok-woo dan kawan-kawan alasannya yaitu mereka juga harus menghadapi sesama penumpang lain yang justru lebih menakutkan, mengancam pula buas dikala ketakutan mulai melanda. Insting bertahan hidup seolah melegalkan mereka untuk melukai insan lain yang dianggap membahayakan keselamatan mereka – meski berdasar perkiraan belaka. Salah satunya yaitu Yong-suk (Kim Eui-sung) yang tindakannya membawa korban-korban tak bersalah berjatuhan meski sulit disangkal keberadaannya merupakan berkah terselubung bagi film karena membawa kita pada titik puncak menghentak.

Outstanding (4/5)