October 25, 2020

Review : Truth Or Dare


“The game is real. Wherever you go, whatever you do it will find you.” 

Dalam beberapa tahun terakhir ini, rumah produksi Blumhouse Productions berhasil menancapkan kukunya menjadi salah satu nama yang patut diperhitungkan di sinema horor. Betapa tidak, mereka sanggup menghasilkan pundi-pundi dollar dari film menyeramkan yang mempunyai high-concept dengan bujet seminim mungkin (tidak pernah lebih dari $10 juta!) dan kualitas yang sebagian besar diantaranya sanggup dipertanggungjawabkan. Beberapa menu yang membawa mereka membumbung tinggi antara lain Paranormal Activity (2009), Insidious (2011), The Purge (2013), Split (2017), hingga Get Out (2017) yang berjaya di panggung Oscar. Menyadari penuh bahwa formula ini terbukti berhasil, tentu tidak mengejutkan kalau persembahan terbaru dari Blumhouse, Truth or Dare, yang digarap oleh Jeff Wadlow (Kick-Ass 2), masih menerapkan formula serupa. Premis yang diajukan sekali ini ialah “bagaimana kalau permainan ‘jujur atau tantangan’ dibawa ke level lebih tinggi dengan konsekuensi berupa tamat hidup apabila si pemain gagal menuntaskan permainan?”. Harus diakui ini terdengar agak menggelikan sih, tapi di waktu bersamaan juga menggelitik rasa penasaran. Lebih-lebih trailer Truth or Dare yang dikemas begitu meyakinkan seperti ini tontonan menyeramkan yang mengasyikkan semakin menciptakan hati ini sulit menampik godaan. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah mungkin Truth or Dare dengan premis konyolnya ini bisa tersaji seru atau malah justru berakhir blunder? 

Truth or Dare sendiri mengawali penceritaannya dengan perjalanan enam sahabat; Olivia (Lucy Hale), Markie (Violett Beane), Lucas (Tyler Posey), Brad (Hayden Szeto), Tyson (Nolan Gerard Funk), dan Penelope (Sophia Ali), ke Meksiko untuk merayakan libur demam isu semi. Berbagai macam kegilaan anak muda khas film horor mereka lakukan sepanjang liburan mirip berpesta semalam suntuk, bekerjasama seks, menenggak alkohol… you name it. Kegilaan ini kian tak bisa dipahami nalar sehat dikala mereka memutuskan untuk mengikuti seruan seorang pria yang gres dikenal Olivia di kafe berjulukan Carter (Landon Liboirion) ke sebuah reruntuhan gereja. Di sana, mereka bermain ‘jujur atau tantangan’ yang secara cepat berubah menjadi canggung tatkala diam-diam salah satu dari mereka tersentil. Suasana yang telah serba tidak mengenakkan ini kian bertambah parah tatkala Carter mengungkap tujuan utamanya membawa mereka ke daerah ini. Ternyata oh ternyata, permainan ‘jujur atau tantangan’ yang mereka mainkan ini tidak sesederhana tampaknya alasannya ialah ada keterlibatan iblis didalamnya. Alhasil satu demi satu personil pun dihadapkan pada permainan ‘jujur atau tantangan’ versi supranatural sekembalinya mereka ke Amerika Serikat pada waktu dan daerah tak terduga dari seseorang (atau sejumlah orang) dengan seringai abnormal mirip filter Snapchat yang buruk. Aturannya sederhana saja: tunaikan permainan tersebut hingga tuntas alasannya ialah kalau kau gagal melaksanakannya… tamat hidup akan dengan bahagia hati menjemputmu.

Untuk beberapa saat, Truth or Dare tampak mirip versi duplikat dari rangkaian film Final Destination. Sejumlah dewasa berusaha mencurangi tamat hidup yang mengejar mereka dengan urutan sesuai giliran mereka bermain ‘jujur atau tantangan’. Dari lubuk hati yang terdalam, saya langsung sih berharap Truth or Dare akan menempuh jalur yang sama alasannya ialah Final Destination termasuk tontonan menyeramkan yang seru (yaaa… setidaknya untuk tiga seri pertama) dengan penggambaran ‘cara untuk tewas’ yang kreatif. Akan tetapi, usai adegan pembukaan di sebuah pom bensin yang membangkitkan semangat untuk mengudap habis film ini, kemudian dilanjut dengan tamat hidup pertama yang melibatkan meja biliar, dan tantangan menyusuri pinggiran genteng seraya menenggak alkohol yang mendebarkan, perlahan tapi niscaya Truth or Dare terasa mirip kehilangan arah dan kebingungan dalam menyebarkan premis miliknya. Berdasarkan premis yang diusung, Truth or Dare bersama-sama berpotensi cantik apabila: 

1) sadar diri bahwa premisnya memang menggelikan sehingga tidak ada upaya untuk menggulirkan kisah yang sok serius dan lebih menentukan untuk menertawakan diri sendiri dengan menghadirkan sanksi serba over the top 
2) mempunyai aturan main yang terang – tidak seenaknya diubah-ubah hingga bikin otak ini keriting memikirkannya, serta 
3) menghindari main kondusif dengan bersedia merangkul rating R (17 tahun ke atas) alasannya ialah materinya yang membutuhkan pertaruhan akan kesulitan mencapai potensinya kalau film enggan untuk menampilkan kekerasan dalam level cukup tinggi. 
Sayangnya, pihak pembuat film kekeuh mempertahankan Truth or Dare untuk tetap bermain-main di ranah horor dengan rating PG-13. Jeff Wadlow beserta tiga rekan penulis skrip malah menentukan untuk menyisipi Truth or Dare dengan isu-isu berat tak perlu mirip homoseksual, bunuh diri, serta pemerkosaan yang justru menciptakan film ini penuh sesak sekaligus tampak mirip salah satu episode sinetron percintaan dewasa terlebih ada pula konflik mengenai pertikaian antar sahabat alasannya ialah rebutan cowok. Ingin rasanya ku mengucap istighfar! Sederet gosip ini bersama-sama mempunyai potensi menjadi bumbu taburan yang mengikat apabila: 

1) premis yang diusung Truth or Dare tidak kelewat menggelikan untuk dibawa serius, serta 
2) ada perkembangan abjad mumpuni yang menciptakan penonton memahami kemudian peduli terhadap masing-masing karakter. 


Tapi kenyataannya kan tidak demikian. Premisnya konyol dan abjad di film ini tak lebih dari sekumpulan stereotip abjad dalam film horor yang dangkal. Alhasil, selama separuh akhir, Truth or Dare tak saja bermetamorfosis menjadi FTV bertajuk “Aku Jatuh Cinta Pada Kekasih Sahabatku” tetapi juga ketoprak karena setiap tindakan para karakternya mengundang gelak tawa tak disengaja (ehem, mencari solusi dari Google dan Facebook? Dasar generasi milenial!). Mengingat rating PG-13 membatasi film untuk tampil liar; adegan pencabutan nyawa yang monoton dengan sebagian besar hanya memakai pistol dan tantangan yang makin usang justru makin drama (serius, ini setan tampaknya gemar nonton reality show atau sinetron deh!), maka daya tarik yang tersisa dari film ini ialah kekonyolannya yang tak berkesudahan dan Lucy Hale yang rupawan. Aktingnya? Ah lupakan saja.

Poor (2/5)