July 3, 2020

Review : Tully


“You’re convinced that you’re this failure, but you actually made your biggest dream come true.” 

Tully, suguhan terbaru dari Jason Reitman yang sekali lagi berkolaborasi dengan penulis naskah Diablo Cody usai Juno (2007) dan Young Adult (2011) yang amat mengesankan, dipersembahkan secara khusus untuk para ibu. Teruntuk para ibu yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengasuh anak tanpa bala santunan dari pengasuh anak bersertifikat. Teruntuk para ibu yang rela berjuang seorang diri dalam mengurus anak tanpa (atau minim) uluran tangan dari suami. Dan, teruntuk para ibu yang tulus seluruh mimpinya di masa muda terkubur dalam-dalam demi memastikan mimpi sang anak sanggup tercapai. Tully tidak ubahnya sebuah surat cinta dari Reitman beserta Cody untuk para ibu di luar sana yang telah berjuang sepenuh tenaga demi memastikan belum dewasa mereka memperoleh kehidupan yang layak. Menengok bahan pembahasannya yang berjibaku dengan usaha seorang ibu, gampang untuk mengira bahwa film ini akan dikemas kolam melodrama yang dipenuhi ratapan atau tangis haru. Kalaupun tidak, ya sarat letupan-letupan emosi dan dialog-dialog sinis khas Cody. Akan tetapi, alih-alih melantunkan kisah dengan pendekatan-pendekatan tersebut, Tully justru menentukan untuk berbincang-bincang secara kalem. Ini menyerupai seorang sobat yang menceritakan pengalaman-pengalaman serunya sebagai seorang ibu kepada sobat terdekatnya seraya menyeruput teh di teras rumah pada sore hari yang cerah. Terdengar intim, jujur, tetapi juga lucu. 

Guliran penceritaan yang ditawarkan oleh Tully pun tidak rumit-rumit gimanaaaa gitu, malah cenderung sederhana. Fokusnya terletak pada seorang ibu berjulukan Marlo (Charlize Theron) yang telah dikaruniai dua buah hati dan sekarang sedang gelisah menanti lahirnya anak ketiga. Kegelisahan ini bukannya tanpa alasan alasannya Marlo sendiri sejatinya tidak mengantisipasi dirinya akan kembali hamil. Terlebih, si bungsu Jonah (Asher Miles Fallica) yang mengatakan gejala mengidap autisme membutuhkan perhatian khusus dari Marlo dan sang suami, Drew (Ron Livingston), terlalu letih dengan rutinitasnya di kantor sehingga tidak memberi banyak santunan terkait urusan rumah tangga. Tapi bagaimanapun, kehamilan itu terjadi dan ia pun melahirkan anak ketiga. Pada mulanya Marlo berniat mengurus kebutuhan si kecil dan krucil-krucil lainnya seorang diri sekalipun saudaranya, Craig (Mark Duplass), mengatakan dogma baik untuk membantu. Namun seiring berjalannya waktu, Marlo yang tidak lagi sanggup tidur dengan nyenyak di malam hari perlahan tapi niscaya mulai kewalahan hingga kemudian tetapkan untuk meminta santunan pada night nanny menyerupai disarankan oleh Craig. Kehadiran night nanny berjulukan Tully (Mackenzie Davis) ini seketika mengubah kehidupan Marlo yang sebelumnya awut-awutan. Rumahnya higienis dari kotoran, ia sanggup tidur dengan nyenyak, memasak untuk seluruh anggota keluarga, serta memuaskan Drew di ranjang. Berkat santunan Tully, Marlo menyerupai menemukan gairah gres untuk menjalani hidup sebagai seorang manusia, seorang istri, dan seorang ibu.

Selepas menyaksikan Tully, ada satu perasaan asing yang mengemuka sehingga membutuhkan waktu bagi saya selama beberapa ketika untuk hasilnya berhenti memandangi layar bioskop yang telah menggulirkan credit title, kemudian beranjak dari dingklik bioskop, dan melenggang pergi meninggalkan gedung pemutaran. Perasaan itu memunculkan kehangatan di hati. Membuat saya ingin memeluk diri sendiri serta (tentunya) ibu di rumah. Sungguh film yang sangat indah. Betapa tidak, melalui Tully, Reitman dan Cody kembali mengingatkan penonton betapa besarnya usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para ibu biar anak-anaknya mendapat kehidupan yang layak. Tully tidak menceramahi penonton dengan setumpuk dialog-dialog pengobar semangat yang dirangkai puitis atau dramatisasi berlebihan yang menunjukkan kehebatan seorang ibu. Yang dilakukannya semata-mata menyoroti rutinitas harian Marlo yang tidak jauh-jauh dari menyusui, mengganti popok, terbangun di tengah malam, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, menghadapi keluhan pihak sekolah mengenai sikap putranya yang dianggap ‘unik’, mendengarkan rajukan atau tangisan yang bikin gendang pendengaran pengang, membereskan cucian seraya mengawasi anak, tertidur di sofa pada siang bolong alasannya kelelahan, menyiapkan makan malam, dan siklus ini terus berulang selama berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) lamanya. Serentetan acara yang pastinya akan menciptakan para orang bau tanah terkekeh-kekeh seraya berujar, “saya pernah berada di fase itu!,” dan menumbuhkan tenggang rasa kepada para ibu dalam diri mereka yang belum mengalami fase menimang-nimang bayi. 

Mengingat Cody menulis naskah Tully tatkala ia gres saja melahirkan anak ketiga, maka bukan sesuatu yang mengherankan bila ia memahami betul pergulatan yang dialami oleh Marlo. Dibantu oleh Reitman yang mempunyai kepekaan tinggi, keduanya memberi penggambaran yang realistis mengenai keseharian seorang ibu dalam menyambut datangnya bayi baru. Agar tidak terasa menjemukan, humor ditaburkan disana sini yang tidak sedikit diantaranya menciptakan tawa saya meledak di dalam bioskop. Perihal meramu obrolan tajam dan guyonan sinis, Cody memang jago. Sensitivitas naskah dan pengarahan dalam Tully ini beruntung sekali memperoleh sokongan yang sangat baik dari jajaran pemainnya, terutama Charlize Theron yang totalitasnya berperan sanggup kalian tengok melalui transformasi fisiknya: berat badannya menjulang tinggi hingga tubuhnya terlihat menyerupai kumpulan lemak. Maka begitu putrinya bertanya, “apa yang terjadi dengan tubuhmu, Bu?,” penonton tidak sukar diyakinkan apa yang memantik pertanyaan tersebut. Performa Theron yang ciamik menciptakan kita sanggup menyematkan tenggang rasa kepada Marlo yang digambarkan tak ubahnya emak-emak kebanyakan. Terlampau fokus pada tiga buah hatinya, Marlo tidak mempunyai waktu untuk mengurus diri sendiri hingga kemudian Tully mengetuk pintu rumahnya dan memberinya kesempatan membenahi hidup. Theron menjalin chemistry menyengat bersama Mackenzie Davis yang gairah mudanya meletup-letup. Interaksi keduanya terasa faktual dan mengalir sampai-sampai muncul harapan untuk bergabung dengan klub kecil ini. Saking nyamannya bersama mereka, saya tidak rela untuk berpisah dengan Marlo maupun Tully kala film telah mencapai detik terakhir. Ah, andai saja Tully mempunyai durasi lebih panjang!

Outstanding (4/5)