July 12, 2020

Review : Twivortiare


“Sepanjang hari saya hidup untuk menolong orang, sepanjang hari itu juga saya bertahan. Karena saya tahu sehabis setiap hari yang berat itu, saya punya kau sebagai tujuan pulang.”

Istilah happily ever after usai mengucap kesepakatan pernikahan, hanya sanggup dijumpai dalam film komedi romantis maupun dongeng. Realitanya, beuuhhh… tidak seindah itu, saudara-saudara. Menyatukan hati serta pemikiran dari dua orang dengan kepribadian dan latar belakang berbeda bukanlah kasus gampang. Ada ego yang harus dipendam, ada kesabaran yang harus dikemukakan. Apabila masing-masing pihak enggan mengaplikasikannya, maka konflik berupa pertengkaran demi pertengkaran yakni dampaknya. Saya memang belum melangkahkan kaki ke pelaminan, tapi sebagai seseorang yang beberapa kali mengalami kegagalan dalam membina relasi percintaan (sad!) dan kerap mendengar curahan hati saudara wacana kehidupan rumah tangganya, saya sanggup memahami bahwa menjalin relasi dengan seseorang yang dicintai itu penuh dengan tantangan. Dibutuhkan kedewasaan, dibutuhkan kesabaran, dibutuhkan pula ketulusan hati. Melalui film bertajuk Twivortiare yang merupakan rangkuman dua novel laku rekaan Ika Natassa, Divortiare dan Twivortiare, penonton dipersilahkan untuk melongok jatuh bangunnya dua huruf yang kerap disebut-sebut sebagai “pasangan ideal” dalam mempertahankan ijab kabul mereka. Melalui dongeng yang mereka bagikan, kita diperlukan sanggup berkaca, merenung, kemudian menjadikannya sebagai pembelajaran dalam menjalani relasi percintaan. Terdengar berat? Well, sayangnya begitulah hidup.

Dua huruf yang dimaksud dalam Twivortiare adalah Beno (Reza Rahadian), seorang dokter, dan istrinya yang seorang bankir, Alexandra (Raihaanun). Sepintas lalu, pasangan ini mempunyai kehidupan ijab kabul yang damai-damai saja. Mereka menikah atas dasar saling mencintai, kondisi finansial berada di level serba terpenuhi, dan para mertua pun tidak pernah merecoki urusan personal keduanya. Mudahnya, mereka yakni pasangan yang ideal. Jadi, apa yang kurang? Bagi sebagian orang, sanggup saja menjawab: mereka belum dikaruniai keturunan. Namun baik Beno maupun Alex memang belum berencana untuk mempunyai momongan. Mereka fokus dalam menyebarkan karir, karir, dan karir yang lambat laun berimbas pada ijab kabul mereka. Beno kerap pulang terlambat, sementara Alex yang juga disibukkan oleh pekerjaannya sendiri mulai mengalami kegelisahan. Benarkah masih ada rasa peduli dan cinta di hati sang suami? Yang kemudian menciptakan kasus semakin menggunung yakni ketiadaan kesempatan untuk saling berkomunikasi. Alih-alih menyempatkan waktu untuk berbincang intim dengan sang istri, Beno yang cenderung kaku menentukan untuk bungkam. Alex yang simpel meletup-letup emosinya pun tidak membantu. Alhasil, kehidupan rumah tangga mereka awut-awutan yang berujung pada perceraian. Keduanya lantas menentukan jalan berbeda untuk move on dari masa lalu. Tapi tak peduli sebesar apapun perjuangan mereka untuk melupakan, mereka tak sanggup menghindar dari kenyataan bahwa mereka sejatinya masih saling menyayangi satu sama lain.


Menonton Twivortiare tak ubahnya sedang menyaksikan kisah kita sendiri atau seseorang yang kita kenal. Begitu dekat, begitu membumi. Benni Setiawan (Toba Dreams, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta) sanggup mengejawantahkan prosa rekaan Ika Natassa yang disadur ke bentuk skrip oleh Alim Sudio menjadi sebuah tontonan percintaan yang penuh dengan rasa. Tidak ada glorifikasi romansa yang dipenuhi keindahan beserta untaian kata-kata bagus di sini alasannya yakni film mencoba menghadirkan sebuah realita dalam relasi pasca mengikat kesepakatan suci. Sebuah realita yang tak melulu menggembirakan, tetapi juga menggoreskan rasa sakit dan meninggalkan sesak di dada. Bagaimana karenanya ketika dua orang yang mengaku saling menyayangi tetapkan untuk menikah? Akankah mereka bahagia… atau tidak? Tentu, ada definisi senang yang coba dijabarkan disini. Apakah itu berarti lepas dari segala permasalahan, atau kesanggupan untuk mensyukuri apa yang telah diperoleh? Bagi Beno dan Alex, mereka memandang “bahagia” sebagai ketiadaan persoalan. Ada tuntutan-tuntutan yang diajukan kepada pasangan, ada juga keengganan untuk memenuhi tuntutan dari pasangan akhir ego yang menggelembung. Mereka memang sukses secara karir, tapi keduanya mempunyai pandangan hidup yang sanggup dibilang belum dewasa. Dari perilaku kekanak-kanakkan mereka inilah, konflik timbul. Konflik mencuat dari kasus yang terhitung sepele. Tapi benarkah kasus tersebut sanggup dibilang sepele? Sebagai seseorang yang tidak terlibat, kita mungkin sanggup berkata demikian. Namun satu hal yang seringkali kita lupa, pertengkaran dalam relasi kerapkali dipantik oleh sesuatu yang dianggap sepele. Ada rasa kecewa yang berbeda ketika orang yang dicinta (dan dipercaya) melaksanakan kesalahan sepele tersebut.

Selama durasi mengalun, cekcok diantara Beno dan Alex memang dipicu oleh hal-hal remeh. Entah alasannya yakni pasangan merahasiakan suatu berita, atau alasannya yakni pasangan enggan menuruti undangan sederhana. Mengingat persoalannya simple saja, simpel bagi penonton untuk terhubung karena ada kemungkinan pernah berada di posisi serupa. Saya pernah mengalaminya dan saya yakin, penonton lain juga pernah mengalaminya. Chemistry luar biasa yang dirangkai oleh Reza Rahadian bersama Raihaanun – bahkan saya berani menyebut mereka sebagai on screen couple paling dahsyat! – dimana setiap lontaran kata, lisan wajah, maupun gestur badan diperhitungkan secara matang, menciptakan kita sanggup ikut menaruh kepedulian terhadap kepedihan masing-masing sekaligus mencicipi api cinta yang masih menggelora. Ada kalanya kita ikut sebal kepada mereka akhir pertengkaran yang berlarut-larut, tapi kita tak sanggup membenci mereka. Mereka terlalu bagus untuk dibenci. Kita justru berharap, mereka segera melaksanakan introspeksi kemudian tetapkan untuk rujuk menyerupai sedia kala. Dalam upayanya mendekatkan diri pada kesan realistis, maka Twivortiare tidak memberlakukan proses simpel guna menyadarkan dua protagonis mengenai makna cinta. Mereka harus melewati beberapa kali pertengkaran jago untuk menyadari bahwa cinta itu masih ada. Satu hal yang menarik, penonton benar-benar mendeteksi adanya progress dari kedua belah pihak. Beno secara perlahan mencoba untuk mencar ilmu lebih sabar serta terbuka, sementara Alex mencoba untuk mencar ilmu memahami kepribadian sang suami. Walaupun upayanya untuk mencar ilmu seringkali dibantu oleh wejangan sang sahabat, Wina (dimainkan dengan cemerlang oleh Anggika Bolsterli).


Berkat kesanggupan menyematkan simpati kepada para huruf serta adanya kedekatan pada bahan pengisahan, saya pun tak kuasa membendung air mata ketika Twivortiare menghadirkan salah satu momen emasnya di beberapa menit terakhir. Dari sana, saya tersadar bahwa selama film berlangsung, saya turut diajak untuk kembali mencar ilmu dalam memaknai cinta, hubungan, serta kebahagiaan. Dan memang, Twivortiare mengapungkan topik pembicaraan menggugah untuk siapa saja yang ingin mencar ilmu dalam membina relasi percintaan yang sehat. Tak sekalipun terasa menjemukan, film justru akan mempermainkan emosimu sedemikian rupa. Hatimu akan dibentuk teriris-iris olehnya, kau akan dibentuk terenyuh olehnya, dan kau juga akan dibentuk tersenyum-senyum gemas olehnya. Bagus sekali!

Note : Pastikan untuk tidak tiba terlambat alasannya yakni adegan pembuka Twivortiare tak hanya keren, tetapi juga mempunyai impak besar terhadap pergerakan plot secara keseluruhan.

Outstanding (4/5)