July 1, 2020

Review : Us


“They look exactly like us. They think like us. They know where we are. We need to move and keep moving. They won’t stop until they kill us… or we kill them.”

Dikenal sebagai seorang komedian, siapa yang menyangka kalau Jordan Peele ternyata amat lihai dalam meramu sajian horor yang sanggup menciptakan para penontonnya merasa tidak nyaman? Dalam debut penyutradaraannya, Get Out (2017), yang menghantarkannya meraih piala Oscars untuk kategori Naskah Asli Terbaik, Peele memang tidak menggedor jantung penonton dengan penampakan-penampakan memedi maupun gelaran adegan sadis. Dia memperlihatkan mimpi jelek melalui “rumah calon mertua yang penuh rahasia” dimana white supremacy ternyata masih dijunjung tinggi dibalik penampilan luar serba toleran dan terbuka. Bagi masyarakat Amerika Serikat yang tengah dirundung duduk perkara rasisme – dan sejatinya ini terjadi pula ke aneka macam belahan dunia – apa yang disampaikan oleh Peele di sini terasa relevan. Mewakili keresahan publik terhadap situasi sosial politik yang semakin gonjang-ganjing khususnya bagi masyarakat dari kalangan minoritas. Alih-alih terdengar ceriwis, komentar si pembuat film justru terasa efektif berkat kecakapannya dalam bercerita dimana informasi yang mendasari keresahannya lantas diwujudkan sebagai sumber teror. Entah bagi kamu, tapi bagi saya, insan memang tampak lebih mengerikan ketimbang makhluk-makhluk supranatural semacam hantu karena ada bahaya aktual yang ditunjukkan terlebih ketika mereka dibutakan oleh nafsu berbalut kebencian. Bukankah terdengar mengerikan ketika insan rela menghalalkan segala cara hanya demi memenuhi kepuasan pribadi? Peele menyadari betul hal itu sehingga ia pun kembali memanfaatkan sisi gelap insan sebagai “sang peneror” dalam film terbarunya, Us, yang ternyata oh ternyata… terasa lebih mencekam dibanding film perdananya!

Seperti halnya Get Out, abjad utama yang menggerakkan roda penceritaan dalam Us pun berasal dari satu keluarga kelas menengah. Yang kemudian membedakannya yaitu personil keluarga yang menjadi sentral dongeng di sini kesemuanya berkulit hitam serta tidak mempunyai duduk perkara dengan white supremacy maupun rasisme. Mereka tampak bahagia, mereka pun tampak normal. Bahkan mereka mempunyai sebuah villa di dekat pantai yang sanggup dimanfaatkan untuk berlibur dan melepas penat. Jadi, apa yang mungkin salah kali ini? Well, (lagi-lagi) ibarat halnya Get Out dan tentu saja realita dalam kehidupan ini, tidak ada insan yang sempurna. Seseorang yang terlihat senang seolah tidak mempunyai beban hidup pun sanggup menyimpan sebuah belakang layar kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Dalam konteks Us, belakang layar tersebut dipendam oleh Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o) yang rupanya mempunyai pengalaman traumatis semasa kecil ketika bertandang ke taman hiburan di dekat pantai. Dia bertemu dengan doppelganger atau seseorang yang mempunyai kemiripan wajah dengannya sampai-sampai Adelaide tak sanggup berbicara selama beberapa saat. Saking eratnya Adelaide menyimpan belakang layar ini, tak seorang pun yang mengetahuinya termasuk sang suami, Gabriel (Winston Duke – rekan main Nyong’o dalam Black Panther), dan kedua anaknya, Zora (Shahadi Wright Joseph) beserta Jason (Evan Alex). Rahasia yang telah dipendam oleh Adelaide selama tiga dekade lamanya ini perlahan mulai tersingkap ketika keluarga Wilson menerima kunjungan tak terduga di villa pada malam ini. Kunjungan tak terduga yang jauh dari kata erat dari satu keluarga yang seluruh personilnya mempunyai kemiripan fisik dengan Adelaide, Gabriel, Zora, maupun Jason. Hiii… ngeri!


Berbeda dengan Get Out yang membutuhkan waktu cukup usang untuk memanas, Us telah menebar kengerian sedari prolog. Bukan tipe kengerian bertabur jump scares dimana penonton dibentuk terkaget-kaget oleh kemunculan suatu entitas dengan iringan musik yang telah diatur untuk senantiasa berada dalam volume tertinggi, melainkan tipe kengerian yang menciptakan hati merasa was-was. Penonton dikondisikan untuk mencicipi ada sesuatu yang salah di sekitar Adelaide cilik ketika ia berkunjung ke taman bermain bersama kedua orang tuanya. Apa itu dan darimana asalnya? Hanya Tuhan dan tim pembuat film yang mengetahui. Yang jelas, kenyamanan saya sudah terusik sedemikian rupa sehingga tak lagi bisa duduk dengan hening di dingklik bioskop. Saya hanya bisa menanti dengan cemas seraya bertanya-tanya: apa yang akan menimpa Adelaide di menit berikutnya? Sesuai dengan prediksi, kemalangan tersebut memang pada kesannya menghampiri si gadis cilik. Melalui adegan pembuka ini, saya menjumpai rasa ingin tau lain untuk menemukan relevansinya dengan narasi utama. Sebelum kita mendapati jawabannya, penonton diperkenalkan terlebih dahulu kepada keempat abjad utama yang konfigurasinya terdiri dari Adelaide yang tampak menyimpan banyak kecemasan, Gabriel yang selow abis mengikuti fungsi karakternya sebagai comic relief, Zora yang cenderung hirau tak hirau terhadap kondisi sekitar, serta Jason yang sedikit nyentrik. Peele mengupayakan semoga kita membentuk ikatan dengan mereka sehingga ketika teror berwujud home invasion secara resmi dimulai, kita pun menaruh kepedulian atas nasib keempatnya. Kita berharap banyak semoga mereka sanggup terlepas dari peristiwa ini.

Setelah “para kembaran” mulai memasuki arena penceritaan, Us yang tadinya sempat mengalun santai pun tak lagi memperkenankan para penontonnya untuk menghela nafas lega. Adegan kucing-kucingan antara keluarga Wilson dengan kembaran mereka yang mendominasi sebagian besar durasi bisa dihantarkan dengan sangat mencekam oleh Peele berkat ketelatenannya dalam meramu aneka macam macam materi baku. Bahan baku yang dimanfaatkan oleh si pembuat film antara lain: 1) pemilihan gambar yang menguarkan nuansa yang bikin bulu kuduk meremang, 2) penyuntingan yang rapat, 3) iringan musik menghantui bernafaskan orkestra yang dibawakan oleh paduan suara, 4) jalinan penceritaan yang sarat komentar sosial, serta 5) performa para pelakon yang mendefinisikan kata “sinting”. Ya, materi baku ini memang kurang lebih senada dengan Get Out. Hanya saja, Peele menentukan untuk menggeber teror yang tertampang aktual sedari mula dalam wujud “kembaran jahat” yang mengenakan pakaian kanal berwarna merah dan membawa gunting tajam alih-alih menyembunyikannya. Melalui mereka, penonton seolah diminta membayangkan, “bagaimana kalau kau ternyata mempunyai saudara kembar yang sangat keji dan tidak segan-segan menghabisimu?”. Melalui mereka pula, penonton diajak berkontemplasi mengenai sisi kelam insan yang merupakan pesan utama dari Us. Kita acapkali mempunyai ketakutan terhadap orang lain yang berbeda dari segi warna kulit, agama, ras, strata sosial, hingga cara berpikir sampai-sampai muncul prasangka bahwa mereka yaitu ancaman. Mereka yaitu musuh terbesar umat insan yang harus diperangi atau minimal, dikucilkan. Tapi bagaimana kalau ternyata selama ini musuh terbesar yang harus diperangi yaitu diri kita sendiri? Bagaimana kalau ternyata kita mempunyai pemikiran-pemikiran kejam dan ‘menyimpang’ yang tak pernah sekalipun kita sadari? Bagaimana kalau ternyata kita bukanlah “orang baik” ibarat yang kita bayangkan?


Komentar menggelitik aliran mengenai “musuh terbesar insan yang sesungguhnya” ini berpadu pula dengan komentar lain bernada sosial politik terkait opresi terhadap kaum minoritas serta privilege yang dipunyai masyarakat kelas menengah. Tak sekalipun terkesan menceramahi, komentar ini justru memperlihatkan daya tarik tersendiri bagi Us karena menyodori materi bagi penonton untuk berdiskusi selepas menonton termasuk membedah simbol-simbol yang ditebar sepanjang durasi (contoh: apa makna Jeremiah 11:11? Hands Across America?) dan mempelajari abjad Adelaide beserta sang doppelganger yang disebut Red. Jika sederet orbolan ini terdengar berat untuk dicerna – terlebih kalau kau hanya ingin memperoleh hiburan – tak perlu risau alasannya yaitu Peele masih akan memanjakanmu dengan rentetan teror yang bikin jantung berdegup kencang. Ada momen-momen sunyi yang menggelisahkan, ada adegan pertikaian berhiaskan muncratan darah, ada elemen laga di ketika para abjad inti berusaha melarikan diri dari “sang kembaran”, dan paling penting, ada Lupita Nyong’o yang penampilan hebatnya akan memberimu mimpi buruk. Dia terlihat amat tangguh sekaligus ringkih ketika melakonkan Adelaide yang dihantui oleh stress berat masa lalu, sementara ketika menghidupkan abjad Red… well, tatapan matanya pun sudah bikin terkencing-kencing. Adegan ketika Red mengajak keluarga Wilson berdialog di depan perapian ruang tunggu merupakan salah satu momen emas yang dipunyai Us. Tengok air mukanya, amati gesturnya, dan dengarkan bunyi paraunya, maka kau pun tak ingin berbuat macam-macam dengannya alasannya yaitu sudah terperinci Red yaitu salah satu villain paling mengesankan dalam sejarah sinema horor.

Outstanding (4/5)