July 12, 2020

Review : Venom


“Eyes, lungs, pancreas. So many snacks, so little time!” 

Rencana untuk menyebarkan satu film tersendiri bagi salah satu musuh turun-temurun Spider-Man, Venom, sejatinya telah mengemuka semenjak lama. Di kurun 1990-an, New Line Cinema pernah mencetuskan gagasan tersebut yang tak pernah menerima tindak lanjut, dan memasuki kurun 2000-an, gagasan tersebut beralih ke Sony Pictures yang termakan untuk membuat mesin pencetak uang gres mengandalkan nama Venom yang dikenalkan ke publik melalui Spider-Man 3 (2007). Tapi serentetan duduk masalah dibalik cap dagang Spider-Man (meliputi perbedaan kreatif diikuti kegagalan The Amazing Spider-Man 2) memaksa pihak studio untuk meninjau ulang rencana ambisisus mereka. Terlebih, apakah publik sudah siap dalam mendapatkan film yang mengetengahkan sepak terjang sesosok supervillain? Terus mengalami tarik ulur selama beberapa tahun, proyek ini kesudahannya memperoleh kejelasan status di tahun 2016 usai Sony berinisiatif membuat Marvel Universe milik mereka sendiri tanpa bersinggungan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) sekalipun Spidey telah bersarang di sana – meski tidak menutup kemungkinan buat dipersatukan mengingat Sony kekeuh mempertahankan Venom dengan rating PG-13 demi bisa dipersatukan bersama MCU. Guna merealisasikan Venom yang sekali ini tak mempunyai kekerabatan dengan Spidey, Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) pun dipercaya untuk mengomandoi proyek, sementara Tom Hardy diserahi posisi pelakon utama yakni seorang jurnalis yang dijadikan inang oleh si simbiot berjulukan Eddie Brock. 

Dalam Venom, Eddie Brock dideskripsikan sebagai seorang jurnalis yang berdedikasi terhadap pekerjaannya. Dia bukan tipe pencari sensasi lewat gosip palsu, melainkan tipe jurnalis yang mengejar sensasi dari fakta mengejutkan yang belum banyak diketahui masyarakat. Demi memperoleh bahan-bahan untuk reportasenya tersebut, Eddie tak keberatan untuk mengumpulkan bukti-bukti dengan cara licik sekalipun jalan yang ditempuhnya tersebut sanggup merugikan orang-orang di sekitarnya. Tunangannya, Anne Weying (Michelle Williams), yaitu seseorang yang paling dirugikan ketika Eddie berusaha untuk menguak konspirasi besar yang disembunyikan oleh ilmuwan kaya, Carlton Drake (Riz Ahmed). Konon, Eddie mendapati adanya sejumlah final hidup yang ditutup-tutupi di dalam badan perusahaan Life Foundation milik Carlton. Kuasa yang dimiliki oleh Carlton memungkinkan Eddie beserta Anne untuk kehilangan mata pencaharian masing-masing yang lantas memicu perpisahan diantara mereka. Terjebak dalam ratapan penyeselan selama berbulan-bulan, Eddie mendadak menerima kesempatan untuk menebus kesalahannya usai salah satu bawahan Carlton membeberkan sebuah informasi penting. Dilatari oleh kepenasaran, harapan menegakkan kebenaran, sekaligus balas dendam, Eddie pun nekat menyelinap masuk ke dalam markas Life Foundation tanpa mengetahui apa yang menantinya di sana. Perjumpaannya dengan sebuah simbiot (ingat, beliau menolak disebut parasit!), organisme gila dari luar angkasa, berjulukan Venom seketika mengubah hidup Eddie untuk selamanya. 

Apabila kau sudah terbiasa dengan film superhero rilisan beberapa tahun terakhir ini yang mulai berani menyelipkan subteks berkaitan dengan sosial politik ke dalam plot, dan menghadirkan warna penceritaan yang berbeda-beda ketimbang sebatas laga-komedi ringan, rasa-rasanya gampang untuk memberi label ‘B aja’ pada narasi yang dikedepankan Venom. Memang betul, guliran pengisahan dari Venom yang konon mencuplik komik bertajuk Venom: Lethal Protector ini (suatu edisi dimana Spidey tak banyak dilibatkan dan si abjad tituler lebih diposisikan sebagai antihero alih-alih villain) bisa dibilang tak istimewa. Jangankan penonton yang telah mempunyai jam terbang tinggi, penonton awam yang hanya sesekali menonton film pun tidak akan mengalami kesulitan dalam mengira jalur yang akan bakal dilewati oleh si pembuat film tatkala memberikan cerita. Ada alien turun ke bumi, sesosok ilmuwan berhati kelam berusaha untuk memanfaatkannya, si protagonis yang tadinya tak peduli mendadak terseret ke dalam konflik, si protagonis dipaksa untuk bersatu dengan si alien, dan mereka berdua bersatu padu untuk menumbangkan si ilmuwan. Terdengar sangat familiar, kan? Ya, kita telah menjumpai plot berbasis origin story yang senada seirama menyerupai ini berulang kali, dan Fleischer bersama ketiga penulis skenario pun enggan memberi modifikasi yang berarti. Mereka menentukan untuk melantunkan kisah dengan gaya konvensional yang cenderung lurus-lurus saja tanpa ada kelokan berarti sehingga penonton yang mendamba plot berisi akan berulang kali memutar bola mata – plus menjulurkan pengecap – di sepanjang durasi. Tak hanya gampang diterka, narasinya pun kurang mengikat dan mengaplikasikan kecerdikan suka-suka gue demi memperlihatkan kesenangan bagi penonton pencari pelipur lara. 

Apakah berhasil? Bagi saya sih, Fleischer sama sekali tak mengecewakan dalam kaitannya mempersembahkan tontonan hiburan bagi penonton. Dia memang pendongeng yang payah (walau masih jauh lebih mendingan ketimbang Fantastic Four (2015) yang sering dijadikan sebagai film pembanding oleh netijen julid), tapi beliau terang bukan penghibur yang buruk. Selepas babak introduksi yang terasa agak kelewat panjang karena materinya tidak cukup besar lengan berkuasa untuk menambat atensi, Fleischer kesudahannya bisa menemukan irama penceritaan yang sempurna terhitung sedari ‘bersatunya’ Eddie dengan Venom. Pengejaran terhadap Eddie yang berlangsung di hutan, kemudian disusul pengeroyokan terhadap Eddie oleh kroni-kroni Carlton di apartemen Eddie yaitu titik balik yang menghantarkan Venom menuju kesenangan total. Kelucuan, keseruan, serta kandungan hiburannya tidak pernah lagi menurun hingga well, klimaksnya yang berantakan dan terburu-buru. Saya cukup meyakini ada beberapa diantara kalian yang bertanya-tanya, apa benar Venom semenghibur itu? Jika kau belum menontonnya dan merasa skeptis, saya tidak menyalahkanmu alasannya memang ada banyak nada sumbang yang menyampaikan bahwa humor di Venom tidaklah lucu, dan laganya pun tak impresif. Mungkin memang saya tidak keberatan mendengar dagelan nyeleneh – atau saya sedang teler, atau intinya betulan lucu – tapi interaksi antara Eddie dengan si abjad titular sanggup membuat saya tergelak-gelak… begitu pula ratusan penonton lain. 


Mereka sangat ekspresif tatkala menonton Venom, menyerupai terbahak menyaksikan ribut-ribut kecilnya si Eddie dengan Venom yang bersemayam di dalam tubuhnya dan suaranya terdengar amat terang di kepalanya, kemudian bersemangat melihat sekuens-sekuens laganya yang terbilang asyik. Mengingat Venom yaitu satu jenis tontonan yang sangat disarankan ditonton di layar bioskop terbesar dengan jumlah penonton masif, saya beruntung bisa mendapatkan crowd yang sempurna (inilah alasan kenapa pengalaman menonton di bioskop sulit tergantikan!) sehingga membantu saya dalam menikmati setiap menitnya. Seruuu! Ya, saking menikmati kandungan hiburannya, saya pun bersedia memberi pengampunan terhadap kualitas naskahnya kurang ciamik. Saya enggan ambil pusing, toh si pembuat film bisa mengompensasinya dengan sektor lain termasuk akting jajaran pemainnya. Performa Michelle Williams beserta Riz Ahmed memang terbilang baik, tapi performa Tom Hardy yang gemilang sebagai Eddie Brock yang angkuh, rapuh, sekaligus ‘sinting’ lah yang menghadirkan satu alasan mengapa Venom masih layak untuk ditebus dengan satu tiket bioskop. Kehadirannya memperlihatkan energi pada film (tak heran ketika beliau mangkir di layar, film terasa loyo) terlebih ketika beliau berjuang untuk mengontrol tubuhnya yang telah dikuasai oleh Venom. Ada elemen buddy movie yang mencuat dari interaksi mereka berdua, ada pula elemen body horror yang terasa dari sikap si simbiot yang ganas terhadap manusia. 
Ketimbang mempermasalahkan naskah, saya justru menyayangkan keputusan studio untuk membatasi rating Venom di segmen PG-13. Andai saja Sony memberi kelonggaran, bisa dibayangkan betapa liarnya (dan makin asyiknya) film ini alasannya mitra Eddie dari planet lain ini tidak saja dibebaskan untuk menyerocos dengan selera humor nyentriknya tetapi juga untuk mempreteli kepala-kepala insan secara eksplisit tanpa perlu khawatir menampilkan air mancur darah.

Info layanan masyarakat : Venom mempunyai dua adegan bonus di sela-sela dan penghujung end credit dengan durasi cukup panjang. Bertahanlah, bertahanlah.

Exceeds Expectations (3,5/5)