October 17, 2020

Review : War For The Planet Of The Apes


“I did not start this war. I offered you peace. I showed you mercy. But now you’re here. To finish us off, for good.” 

Usai sebuah virus berjulukan Simian Flu menyebar ke seantero dunia di penghujung instalmen pertama dari trilogi prekuel ini, perlahan tapi niscaya jumlah monyet yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata membengkak sementara populasi insan terus menyurut secara drastis. Menyadari bahwa peradaban insan berada di ujung tanduk, banyak sekali upaya untuk menundukkan pertumbuhan masif kera-kera cerdas pun terus dilakukan oleh faksi-faksi militan. Koba, salah satu monyet yang menyimpan dendam pada insan karena pernah menjadi materi eksperimen, tentu tak tinggal membisu mengetahui adanya upaya pemberantasan ini sehingga beliau pun menghimpun pasukan yang berasal dari kaumnya sendiri untuk memerangi manusia-manusia keji di seri kedua. Pertentangan antara insan dengan para monyet berotak brilian selama bertahun-tahun ini kesudahannya mencapai titik kulminasinya dalam War for the Planet of the Apes. Melalui jilid ketiga, Matt Reeves yang turut membesut instalmen sebelumnya, Dawn of the Planet of the Apes, menghadirkan peperangan penting yang bukan saja menentukan masa depan dari dua spesies tersebut di muka bumi tetapi juga membentuk jalan menuju semesta yang dihadirkan oleh Planet of the Apes rilisan tahun 1968 selaku dedengkot franchise ini. 

Kematian Koba (Toby Kebbell) di film kedua nyatanya tak mengubah keadaan sedikitpun. Para insan terus melacak keberadaan para monyet yang tersisa, utamanya kelompok dari Caesar (Andy Serkis) yang sekarang menentukan untuk bersembunyi jauh di dalam hutan. Namun persembunyian ini tak bertahan usang alasannya pada menit-menit pertama War for the Planet of the Apes, penonton eksklusif mendapati fakta bahwa persembunyian Caesar telah terendus. Pertempuran tak lagi terelakkan yang mula-mula dimenangkan dengan gampang oleh pihak insan hingga kemudian keadaan berbalik ketika sang pemimpin kaum monyet yang tidak lain yaitu Caesar tetapkan untuk turun tangan dan mengerahkan pasukan perangnya. Beberapa prajurit yang selamat dari pertempuran tersebut lantas dibawa sebagai tawanan ke markas para monyet yang belakangan dilepas oleh Caesar demi memberikan pesan perdamaian ke atasan mereka, Kolonel (Woody Harrelson). Alih-alih menyanggupi permohonan untuk berdamai, Kolonel yang sekarang telah mengetahui secara niscaya lokasi markas para monyet justru membantai keluarga Caesar. Diliputi amarah yang meluap-luap, sang raja monyet pun tetapkan untuk meninggalkan kawanannya dan menempuh perjalanan panjang guna membalas dendam pada Kolonel.
 

Setidaknya di 15 menit awal, War for the Planet of the Apes memenuhi seruan dari khalayak ramai yang berbondong-bondong memenuhi gedung bioskop: peperangan yang seru. Selepas menyegarkan ingatan penonton mengenai alur penceritaan dari dua seri sebelumnya, Matt Reeves tanpa banyak berbasa-basi eksklusif menempatkan kita di tengah-tengah penyergapan. Secara silih berganti, terdengar bunyi tembakan, kemudian bunyi anak panah dilesakkan. Untuk ukuran sebuah film yang mengantongi rating PG-13 (13 tahun ke atas), pemandangan yang terhampar di adegan pembuka ini terhitung kelam – meski ya, darah tidak terlalu nampak alasannya cahaya nyaris absen. Intensitasnya pun tinggi. Ada baiknya, penonton cilik yang gampang ketakutan atau merengek, tidak diajak ikut serta menonton War for the Planet of the Apes di bioskop alasannya nuansa yang dikedepankannya menyesakkan sekaligus menghantui. Keputusan yang cukup mengagetkan bahwasanya mengingat seri ini diniatkan sebagai tontonan eskapisme untuk menyemarakkan liburan panjang. Usai pertempuran pertama di film yang dimenangkan oleh pasukan Caesar, nada penceritaan kian muram. Pemicunya, Kolonel menyelinap masuk ke markas para monyet kemudian membunuh istri dan putra sulung Caesar. Belum sempat kita pulih dari serangan membabi buta, hati kembali dibentuk terhenyak dengan maut tak disangka-sangka. 

Canggihnya efek khusus yang menciptakan kita yakin bahwa para monyet ini faktual adanya – bukan sebatas hasil kreasi komputer – sanggup mentranslasi perubahan mimik wajah dari Andy Serkis secara sempurna. Berkatnya, kita sanggup mendeteksi adanya kepiluan, amarah, sekaligus kebencian yang melahirkan obsesi untuk membalas dendam dalam badan Caesar. Perlahan tapi pasti, jiwa Koba yang coba ditolaknya merasuk ke dalam dirinya. Dari sini, laju pengisahan film yang semula bergegas mulai melambat. Reeves ingin fokus kepada pertumbuhan aksara dari Caesar dengan memberikan peperangan sang protagonis dalam menekan sisi gelapnya yang mulai tumbuh tak terkendali. Sosok insan yang mengayomi para monyet tak lagi nampak disini dan sebagai gantinya, Caesar memperoleh proteksi serta wejangan dari sesamanya menyerupai Maurice yang bijak (Karin Konoval), Rocket yang setia (Terry Notary), Luca yang pemberani (Michael Adamthwaite), dan Bad Ape (Steve Zahn) yang celetukan berikut tindak tanduk menggelitiknya difungsikan untuk memberi sedikit keceriaan di sela-sela nuansa yang nyaris melulu tegang menyerupai bagaimana semestinya suatu medan peperangan. Disamping mereka, masih ada pula sesosok wanita cilik berjulukan Nova (Amiah Miller) yang keberadaannya tidak saja memberi tribute pada Planet of the Apes tetapi juga untuk mengingatkan Caesar mengenai sisi ‘manusiawi’ dari dirinya. 

Ya, War for the Planet of the Apes bukan semata-mata sebuah spektakel pengisi liburan animo panas yang disesaki rentetan sekuens eksplosif – kau akan mendapatinya di titik puncak seru film ini – alasannya Matt Reeves mencoba pula untuk bercerita, mencoba memberi epilog layak bagi sebuah trilogi prekuel/reboot, dan mencoba membangun jembatan penghubung antar franchise yang sanggup diterima dengan baik. Dalam War for the Planet of the Apes, selain menyoroti usaha beserta tumbuh berkembangnya Caesar sebagai suatu aksara sehingga pada kesudahannya kita sanggup memahami mengapa beliau sangat pantas menyandang gelar ‘pemimpin sejati’, Reeves turut menyinggung gosip gelap nan sensitif semacam rasisme, kekejaman peperangan, hingga sisi kelam makhluk hidup mencakup dendam dan ambisi yang disisipkannya secara berilmu ke dalam penceritaan bersama Mark Boomback. Alhasil, naskah War for the Planet of the Apes terasa bernas tanpa pernah terjerumus menjadi pretensius. Ini lantas diolah oleh Reeves menjadi bahasa gambar yang megah, mendebarkan, mengusik pikiran sekaligus menyayat hati. Kecakapan Reeves sanggup menempatkan War for the Planet of the Apes sebagai epilog trilogi yang amat baik sekaligus salah satu sajian animo panas paling berkesan tahun ini.

Ulasan ini sanggup juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_8jiV

Outstanding (4/5)