July 2, 2020

Review : Warkop Dki Reborn (2019)


“Ini kesempatan kita. Kita harus berjuang seperti… Perang Puputan!”

Upaya Falcon Pictures untuk memberi penghormatan kepada grup lawak legendaris, Warkop DKI (Dono Kasino Indro), dalam wujud film lelucon bertajuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss (2016-2017) menuai respon yang terbilang divisive dari publik. Banyak yang dibentuk terhibur olehnya, tapi tak sedikit pula yang mengecamnya. Dibalik segala pro kontra yang menyertainya, pihak rumah produksi sendiri tersenyum penuh kegembiraan karena film dua bab ini turut andil dalam pembentukan sejarah: film Indonesia paling banyak dipirsa sepanjang masa. Bahkan, kesuksesan secara finansial ini mendorong lahirnya sebentuk tren gres dalam perfilman tanah air untuk “menghidupkan kembali” para legenda sinema. Sungguh sebuah kemenangan yang anggun bagi Falcon Pictures, bukan? Menilik betapa antusiasnya respon khalayak terhadap film instruksi Anggy Umbara tersebut, tentu masuk akal bila kemudian mereka menawarkan lampu hijau bagi pembuatan film kelanjutannya atau dengan kata lain, jilid ketiga. Dalam usahanya mematuhi visi misi awal kala memutuskan untuk menggarap rangkaian seri Warkop DKI Reborn yakni tidak menggantikan melainkan melestarikan, maka perombakan besar-besaran dalam jajaran kru beserta pemain pun dilangsungkan. Tak ada lagi trio Abimana Aryasatya-Vino G Bastian-Tora Sudiro, tak ada pula Anggy. Sebagai gantinya, Rako Prijanto (Teman Tapi Menikah, Asal Kau Bahagia) direkrut sebagai sutradara sementara trio Aliando Syarief-Adipati Dolken-Randy Danistha mengomandoi departemen akting. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah keputusan untuk melaksanakan reshuffle ini akan memberi imbas aktual atau justru negatif kepada franchise?

Dalam jilid terbaru dari Warkop DKI Reborn – tanpa tambahan subjudul maupun bubuhan angka – trio Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), dan Indro (Randy Danistha) tidak lagi berprofesi sebagai petugas keamanan dalam organisasi CHIPS. Kini, mereka ialah penyiar radio yang jenis stasiun maupun program yang mereka bawakan tidak pernah dijelaskan secara spesifik. Meski profesi yang mereka jalani tidak lagi bersinggungan dengan misi penegakan hukum, ketiganya tetap saja terseret dalam satu masalah kriminal pelik tatkala Komandan Cok (Indro Warkop) merekrut mereka menjadi distributor polisi rahasia. Tugas utama yang mesti trio ini pecahkan ialah pembersihan uang dalam dunia perfilman Indonesia. Guna memeriksa duduk masalah tersebut hingga tuntas, Dono, Kasino, beserta Indro pun dipersiapkan sebagai pemain film. Mereka berusaha untuk terlibat dalam proyek film yang dipersiapkan oleh rumah produksi milik Amir Muka (Ganindra Bimo) yang konon disinyalir terlibat dalam masalah money laundry. Setelah melewati perjalanan cukup berliku sebagai figuran, mereka lantas memperoleh anjuran untuk menjadi pemain utama bersanding dengan bintang gres yang sedang naik daun, Inka (Salshabilla Adriani). Untuk sesaat, trio ini merasa bahwa mereka sudah semakin erat dengan bukti-bukti yang sanggup menjebloskan Amir ke penjara. Namun ketika mereka lengah dan meremehkan kemampuan Amir, duduk masalah lebih besar pun menghadang. Mereka mendadak terbangun di Maroko, di tengah gersangnya gurun pasir. Dalam upaya mencari jalan pulang, grup Warkop DKI berjumpa dengan warga setempat berjulukan Aisyah (Aurora Ribero) yang meminta pemberian mereka untuk menyelamatkan kampungnya yang tengah terancam.


Dibandingkan duo jilid pendahulunya, Warkop DKI Reborn sejatinya punya materi penceritaan yang lebih menggigit. Menyelami sisi gelap dari dunia perfilman tanah air dimana masalah pembersihan uang memang jamak terjadi. Menariknya lagi, si pembuat film turut mendayagunakan rujukan dari film-film terkenal guna memancing tawa riuh penonton. Momen dimana Warkop DKI Reborn melakukan parodi untuk Pengabdi Setan, Bumi Manusia, hingga menjulidi Ayat-Ayat Cinta 2 ialah salah satu bab terbaik yang dipunyai oleh jilid ini. Saya tergelak-gelak, begitu juga dengan penonton lain. Selama paruh awal, saya masih meyakini bahwa Rako sanggup membuat kegilaan yang sama dahsyatnya dengan versi Anggy yang bahwasanya saya sukai. Lebih-lebih, performa jajaran pemain utamanya berada di kelas yang sama dengan para pendahulu. Aliando yang sekalipun terkadang tampak kesulitan mengucap obrolan karena mengenakan gigi palsu, merupakan aset paling berharga yang dipunyai film. Dia bermetamorfosis layaknya mendiang Dono kala bertingkah maupun kala berujar sampai-sampai penonton di sebelah saya nyeletuk, “eh itu betulan Aliando ya? Bisa beda gitu. Beneran bikin pangling.” Randy Danistha yang lebih ibarat Indro ketimbang Tora Sudiro tampil kondusif dan nyaman, sementara Adipati Dolken yang belum sepenuhnya melepas citra bad boy yang disandangnya membutuhkan waktu cukup usang untuk bisa benar-benar melebur dengan abjad Kasino. Titik balik dari lakonannya ialah ketika film memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, kemudian melempar jauh para abjad menuju Maroko demi memberi kesan “ini film mahal lho”.

Disamping akting apik dari trio pemain utama, sayangnya nyaris tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari Warkop DKI Reborn. Memulai langkahnya secara meyakinkan, film perlahan tapi niscaya mulai kehilangan daya pikatnya tatkala rentetan humor absurd yang dilontarkannya berulang kali meleset dari sasaran. Memang sih masih ada yang lucu, mirip parodi yang telah saya sebut di atas dan penggunaan Bahasa Arab yang nyeleneh. Namun mengingat film berdurasi 100 menit lebih sedikit ini menjejakkan kaki di genre komedi – plus, abjad utamanya ialah legenda humor dalam sinema Indonesia – maka tentu saja dua-tiga momen kocak tidaklah cukup. Penonton butuh lebih. Keputusan untuk menerapkan sound effect demi membuat bunyi-bunyian lucu serta lawakan berkonotasi sensual mirip film-film Warkop DKI di periode Soraya Intercine Films pun hanya memperburuk keadaan. Sedihnya lagi, pihak pembuat film melaksanakan pengulangan pada humor-humor jenis tersebut hingga pada titik saya kesannya berujar, “hamba lelah dengan semua ini.” Disaat barisan lelucon nyaris tak ada yang bekerja, jalinan pengisahannya turut urung memenuhi potensinya. Intrik wacana pembersihan uang diabaikan begitu saja di pertengahan durasi demi membawa film ke arah lebih bombatis yang kemunculannya justru membuat dahi mengernyit: pertempuran di Maroko. Saya paham, plot ini dimaksudkan biar narasi tampak kompleks sehingga film memiliki alasan masuk nalar untuk mengajak para pemain berdendang dengan lirik berbunyi, “ahaaayyy… filmnya dibagi dua, filmnya dibagi duaaaa…”, di penghujung durasi. Akan tetapi, kenapa sih harus dibagi menjadi dua bagian? Kenapa tidak membuat jilid gres dengan pengisahan sama sekali baru? Sebagai penonton, jujur, saya merasa kurang sreg. Terlebih lagi, narasi yang disodorkan oleh Rako bersama Anggoro Saronto tidak cukup membuat hati tergerak untuk menyaksikan kelanjutannya. Yang saya inginkan hanyalah penyelesaian, bukan perasaan digantung mirip ini. Kzl.

Acceptable (2,5/5)