October 26, 2020

Review : Warkop Dki Reborn – Jangkrik Boss Part 1


“Ini bukan taplak meja sembarangan lho. Pernah digunakan sama Katy Perry. Makara bila makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!” 

Pasca melepas 30 judul film, grup lawak legendaris, Warkop DKI, yang tersusun atas Dono, Kasino, dan Indro, tetapkan mengakhiri atraksi kelakarnya dalam medium film bioskop pada dua dasawarsa silam lewat Pencat Sana Pencet Sini (1994) menyusul situasi perfilman nasional yang tidak kondusif. Selepas itu, mereka bertransmigrasi ke layar kaca hingga kemudian Kasino dan Dono menghadap ke Yang Maha Satu. Merek dagang Warkop sempat terhenti di periode awal 2000-an dengan Indro lebih menentukan berkonsentrasi ke solo karir alih-alih merekrut personil anyar guna mempertahankan eksistensi grup yang membesarkan namanya tersebut. Vakum selama belasan tahun, ialah rumah produksi Falcon Pictures (Comic 8, My Stupid Boss) yang melontarkan gagasan untuk mengaktivasi Warkop DKI – tentunya dengan jajaran personil baru. Tiga nama terpilih dalam regenerasi Warkop DKI (atau Warkop DKI Reborn) yakni Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, serta Tora Sudiro. Saking ikoniknya sosok Dono, Kasino, maupun Indro, penunjukkan ini terang memicu bermacam-macam reaksi keras dari kalangan netizen yang ceriwis mengingat tampilan fisik diantara mereka jauh berbeda. Namun segala kebisingan ini mulai mereda tatkala trailer resmi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dilepas, disusul oleh film utuhnya yang lantas cukup ampuh membungkam lontaran skeptisisme pula hina dina.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 menempatkan Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) sebagai personil dari sebuah forum swasta berjulukan CHIIPS (Cara Hebat Ikut-Ikutan Penanggulangan Sosial) menyerupai pernah dilakoni di film berjudul CHIPS rilisan tahun 1982. Walau tampak sangat berdedikasi terhadap pekerjaan mereka yang tugasnya melayani masyarakat, namanya Warkop DKI tentu tidak dapat lepas dari kekonyolan-kekonyolan berikut kekacauan besar. Lihat saja bagaimana agresi mereka ketika ditugaskan sang atasan, Juned (Ence Bagus), untuk menangkap kawanan begal bersama personil gres asal Prancis yang cantik, Sophie (Hannah Al Rashid). Dari memporakporandakan warung gara-gara Dono dan Sophie secara iseng memarodikan adegan tersohornya Titanic di atas motor, tindakan absurd Kasino dan Indro yang berujung pada tertukarnya wajah sepasang suami istri, hingga membumihanguskan sebuah galeri ternama. Gara-gara serentetan kekacauan yang mereka sebabkan, trio DKI harus membayar uang ganti rugi sebesar 8 miliar dalam tempo satu pekan dan apabila gagal memenuhinya, ketiganya harus mendekam di balik jeruji besi selama 10 tahun lamanya. Tidak ingin berakhir dibui, Warkop DKI pun pundak membahu dengan Sophie untuk mengumpulkan uang senilai 8 miliar sebelum jatuh tempo. 

“Pecah!”. Begitulah rasa-rasanya kata paling sempurna buat mendeskripsikan menyerupai apa gelaran gres dari Anggy Umbara ini. Betapa tidak, sejak menit pembuka yang menunjukkan penghormatan kepada Setan Kredit (1981) lewat adegan siaran informasi – seketika eksklusif terbayang dandanan Dono sebagai Toeti Ajiwirya, 30 tahun kemudian – mengenai peristiwa-peristiwa kurang penting, saraf humor telah digelitik. Baru sebatas senyum-senyum geli sih, tapi tawa jago mulai terbentuk begitu memasuki opening credit dengan gaya film-film Indonesia tempo dulu (atau dalam hal ini kala 1980-an) dan menampilkan montase dari bermacam-macam keganjilan-keganjilan kasatmata yang sangat dapat kau jumpai di jalanan kota-kota gede; entah itu rombongan ibu-ibu bersepeda motor tanpa mengenakan atribut keselamatan, permainan kata di pantat truk, pengendara motor yang membawa barang-barang tak terbayangkan dengan cara tak terbayangkan pula (hmmm… baskom dan tangga?), dan polisi tidur dalam visualisasi berbeda. Dimaksudkan pula sebagai kritik sosial, ini merupakan tahap pemanasan sebelum menapaki lontaran-lontaran kelakar khas Warkop DKI pula ciri penceritaan Anggy Umbara yang sarat akan sentilan-sentilun di satu setengah jam berikutnya. Ya, naskah Jangkrik Boss Part 1 boleh dikata bernas. Menghadirkan plot menggigit yang renyah dikudap bersisipan satir sosial politik yang menyasar kalangan atas juga kalangan bawah. 

Tapi jangan khawatir dahimu akan dibentuk mengerut. Pesannya menyatu mulus sehingga tiada terdengar ceriwis mengingat Anggy sadar betul, bagaimanapun juga tujuan utama Jangkrik Boss Part 1 ialah menghibur penonton. Gelak tawa yang telah timbul di babak pembuka, diupayakannya untuk tetap terjaga konstan sepanjang durasi mengalun. Tidak dapat dihindari memang ada kalanya bahan lawakan agak tergelincir yang menggagalkannya tersampaikan ke khalayak – mengakibatkan bunyian jangkrik – namun kuantitas pula kualitas kelakar berdaya ledak jago Jangkrik Boss Part 1 jauh lebih tinggi. Ada cukup banyak momen-momen pengocok perut sulit terlupakan menyerupai plesetan Khong Guan, teror Pak Pos, kejar-kejaran antara trio DKI dengan begal yang diwarnai agresi akrobatik kendaraan bermotor di jalanan ibukota, kunjungan bikin panas hati ke rumah Pakdhe Slamet (Tarzan), persidangan yang dipimpin oleh hakim baperan (Agus Kuncoro), dan kebersamaan trio DKI bersama sang atasan yang diperas Kasino memakai kata kunci “Jangkrik, boss” sesudah tertangkap lembap bermain wanita di kantor. Di sela-sela sederet kekocakan pemberi kesenangan maksimal ini, muncul pula bermacam-macam penghormatan ke film-film terdahulu Warkop DKI entah dari judul, dialog, hingga adegan-adegan mengesankan. Dan oh, kita juga masih memperoleh rangkuman bloopers di penghujung film yang sangat, sangat menghibur. 

Humor lucu yang menyentil-nyentil bukanlah satu-satunya sumber energi Jangkrik Boss Part 1. Film ini unggul pula di elemen teknis dengan tata rias meyakinkan yang bikin kita pangling ke wajah Abimana Aryasatya (mirip almarhum Dono beneran lho, saudara-saudara!) dan dampak khusus cukup halus yang menunjang kegilaan Warkop DKI di jalanan, disamping performa berkelas premium dari jajaran pemainnya. Abimana, Vino, beserta Tora berhasil menutup rapat mulut-mulut pedas yang tiada habisnya mencerca bahkan sebelum menonton filmnya dan mengubah keraguan akan kapabilitas keaktoran mereka menjadi kekaguman seketika, khususnya Abimana dan Vino yang merasuk ke jiwa aksara masing-masing secara meyakinkan sampai-sampai lupa bahwa dua bintang film yang tengah memainkan lakon di layar bukanlah Dono maupun Kasino. Mereka gokil! Bukan hanya lini utama, jajaran pendukungnya pun memberi sumbangsih sama bagusnya menyerupai Ence Bagus yang mengingatkan kita pada Panji Anom, jelmaan Meriam Bellina alias Hannah Al Rashid, Tarzan dalam penampilan singkat yang bikin gregetan, Agus Kuncoro yang rasa-rasanya belum pernah tampil sekocak ini sebelumnya, kemudian Indro yang menggelitik dalam kiprah absurd. Berkaca pada hasil akhir, ingin sekali mengucap “Bravo!” ke Falcon Pictures, Anggy Umbara, jajaran pemain dan kru atas upaya suksesnya membangkitkan lagi Warkop DKI. Tidak sabar rasanya buat mengetahui kelanjutan petualangan Warkop DKI yang seru mengikat di Jangkrik Boss Part 2. Semoga saja – melihat pencapaian box office gila-gilaan – Falcon Pictures akan konsisten menghasilkan setidaknya satu judul Warkop DKI Reborn di layar lebar, tiap tahunnya. I want more! I want more! I want more!

Outstanding (4/5)