October 27, 2020

Review : Warm Bodies


I don’t want to be this way. I am lonely, I am lost. I mean I am literally lost, I have never been in this part of the airport before.” – R

Jangan terburu-buru memperlihatkan penghakiman awal terhadap Warm Bodies dengan menyebutnya sebagai ‘another Twilight Saga’, pengekor ‘romansa epik Cullen dan Swan’, kisah cinta menye-menye atau banyak sekali sebutan lain yang pada akibatnya mengaitkan film yang beranjak dari novel berjudul sama karangan Isaac Marion ini dengan franchise laku tersebut. Karena pada kenyatannya, selain kesamaan tema yang mengapungkan kisah cinta terlarang antara insan dengan makhluk fantasi, Warm Bodies terang sangat berbeda dengan Twilight. Inspirasi yang dijadikan sebagai pijakan untuk menyebarkan kisah ialah karya legendaris milik Shakespeare, Romeo and Juliet. Lantas, segala elemen ‘classic love story’ ini dituangkan ke dalam kuali, diaduk merata bersama ramuan berjulukan ‘post apocalyptic’, dan ‘zombie’. Terdengar aneh? Memang, hingga Anda menyaksikan hasil sanksi dari Jonathan Levine dengan mata kepala sendiri. Adalah sebuah kejutan yang menyenangkan ketika mengetahui kisah romansa fantasi ini terhidang sebagai sajian yang segar, manis, hangat, jenaka, sekaligus menghibur. 

 

Warm Bodies membawa Anda ke masa depan dimana bumi tercinta ini tidak lagi sebuah daerah yang indah, nyaman, dan layak untuk dihuni. Sebuah wabah zombie mendadak menyebar dengan cepat, menjangkiti manusia, dan pada akhirnya, tentu saja, mengubah insan menjadi zombie. Mereka yang berhasil selamat mendiami sebuah wilayah yang dipisahkan oleh tembok raksasa dan dijaga dengan ketat. Sementara para zombie, yah, berkeliaran dimana-mana. Salah satu tempat, sekaligus menjadi setting utama dari film ini, ialah bandara dimana sang tokoh utama, R (Nicholas Hoult), tinggal. Demi menyebarkan kisah – serta tentunya menjadikannya berbeda – Levine dan Marion tidak memperlakukan para zombie selayaknya film horror kebanyakan dimana mereka hanya mempunyai nafsu untuk mengunyah habis manusia, masih ada pikiran dan sedikit hati yang tertinggal. R, sebagai contoh, berusaha keras untuk mengingat jati dirinya dan menjalin tali persahabatan dengan M (Rob Corddry). Segala bentuk komunikasi dan pemikiran ini disampaikan dalam ‘voice-over’ yang sedikit banyak mengingatkan pada film-film garapan John Hughes. 
Setelah kehidupan yang serba menjemukan, luntang lantung dalam gerakan yang sangat lambat, R memperoleh secercah impian untuk masa depan yang seharusnya tidak pernah dimilikinya. Setidaknya, R tidak akan bertransformasi menjadi Boneys – tengkorak hidup yang merupakan perwujudan dari zombie yang tak lagi terselamatkan dan mengakibatkan zombie sebagai mangsa – dalam waktu dekat. Harapan itu berwujud seorang gadis berjulukan Julie Grigio (Teressa Palmer) yang ditemuinya kala R dan kawan-kawan zombie-nya menyerang kelompok Julie yang tengah dalam misi mencari obat di sebuah gedung. Menghabisi rombongan, termasuk menyantap otak pacar Julie, Perry (Dave Franco), demi mendapat memori serta ‘feel alive’, R lantas menculik Julie dan menjadikannya tahanan selama beberapa hari. Dari sebuah perkenalan yang tidak berjalan mulus, korelasi diantara mereka kian berkembang sehabis hari demi hari terlewati. Rasa ketertarikan makin menguat meski ini tentu tidak akan mudah, terlebih ayah Julie, Colonel Grigio (John Malkovich), terobsesi untuk menghancurkan para zombie. Akan tetapi, yang tidak disadari oleh para tokoh ini sebelum film mencapai klimaksnya ialah sebuah fakta bahwa Julie memperlihatkan imbas yang teramat positif bagi masa depan para zombie. Dia bukan hanya sekadar tahanan yang memperlihatkan kebahagiaan bagi R semata. 

Apabila Anda memutuskan untuk menghindari Warm Bodies hanya alasannya film ini mempunyai kesamaaan pandangan gres dongeng dengan Twilight, maka itu ialah sebuah kerugian besar. Dibentangkan secara pas sepanjang 97 menit, Levine yang sebelumnya menghasilkan 50/50 yang sangat menyentuh, memperlihatkan banyak kesenangan dan tentunya, momen-momen yang ‘so sweet’ ke dalam film tanpa pernah terjerembap menjadi suguhan yang norak atau menggelikan. Bagusnya, para fans zombie serta mereka yang mengharapkan sebuah sajian romansa yang unik, akan sama-sama terpuaskan. Porsi untuk teror dari para zombie – serta Boneys – dan romantisme terlarang terbagi dengan merata, meski tentunya, Levine cenderung lebih menyoroti korelasi yang terjalin antara R dan Julie, naik turunnya, konflik internal serta eksternal yang melingkupi, serta bagaimana kisah cinta tidak biasa ini memperlihatkan imbas yang signifikan terhadap kelangsungan hidup para insan serta zombie. Semuanya dituturkan dengan gaya yang berkelas, penuh dengan tebaran humor menggelitik yang cerdas demi mempertahankan mood penonton biar tetap konsisten hingga akhir, serta serangkaian tembang lawas legendaris – sebut saja Missing You, Patience, hingga Pretty Woman – yang penempatannya sungguh sempurna sehingga mampu membangun ‘feel’. 
Akan tetapi, ini tentu tidak akan berjalan dengan semestinya apabila jajaran pemain dalam departemen akting tidak berlakon secara baik. Nicholas Hoult – yang kita kenal melalui About a Boy dan X-Men: First Class, dan segera tampil di Jack the Giant Slayer dan Mad Max: Fury Road – memperlihatkan sebuah performa yang gemilang sebagai zombie anyar yang dihinggapi kegalauan dan jatuh cinta kepada seorang manusia. Ketika diduetkan dengan Teresa Palmer, terasa percikan di dalam chemistry anggun mereka berdua. Hal yang sama turut berlaku ketika Hoult berpasangan dengan sahabatnya dalam film, Rob Corddry, dimana kekompakan berhasil terwujudkan. Corddry sendiri merupakan perwakilan dari para zombie dalam memperlihatkan hiburan dalam bentuk canda tawa yang betul-betul menyegarkan sementara untuk kubu insan diserahkan kepada jebolan America’s Next Top Model, Analeigh Tipton, yang berperan sebagai Nora, sobat Julie. Lantas, bagaimana dengan John Malkovich? Sama sekali lumayan sekalipun porsi kiprahnya di sini terbilang minim sehingga membatasi ruang geraknya dalam mengeksplorasi talenta aktingnya. 

Memang, sejatinya tidak ada sesuatu yang benar-benar gres yang ditampilkan oleh Levine dalam Warm Bodies. Segala hal yang dilakukan oleh zombie di sini – zombie berlari, zombie jatuh cinta, zombie ngelawak – sudah pernah penonton saksikan di sejumlah film zombie yang beredar setidaknya dalam satu dekade terakhir. Akan tetapi, yang lantas menjadikannya istimewa ialah bagaimana upaya Levine mengemas ulang segala bentuk keklisean di sini sehingga menjadi sesuatu yang segar dan menyenangkan. Skrip yang disulamnya sendiri mengikuti pola yang dibuat oleh Marion ditaburinya dengan obrolan yang bernas nan menggelitik. Gaya bertutur diwujudkannya selayaknya film-film milik John Hughes, lantas disisipi dengan koleksi tembang-tembang pilihan yang sungguh mengesankan, dan kemudian dihantarkan dengan memanfaatkan performa dari para pemain berbakat yang bisa menginterpretasi tugas mereka dengan tepat. Kecengengan dan menye-menye – yang biasanya menjadi bab tak terpisahkan dari romantisme terlarang – dihapuskan dan diganti dengan ketegaran serta keoptimisan. Levine pun mampu mengakibatkan Warm Bodies sebagai candu sehingga menyaksikannya hanya sekali tidak akan terasa cukup.

Exceeds Expectations