July 2, 2020

Review : Weathering With You (Tenki No Ko)


“Memangnya kenapa kalau kita tidak bisa lagi melihat matahari? Aku lebih menginginkanmu daripada langit biru.”

Perkara bikin baper berkepanjangan lewat tontonan animasi, tidak ada yang lebih andal dari Makoto Shinkai. Sejak mencuri perhatian aku untuk pertama kali lewat 5 Centimeters per Second (2007) yang bikin hati jutaan umat insan terpotek-potek, Shinkai secara konsisten menghadirkan sajian berkualitas diatas rata-rata. Dia andal mengkreasi kisah cinta menghanyutkan hati berlatar dongeng rakyat Jepang yang mistis, dia andal pula menghadirkan tampilan animasi menakjubkan mata dengan pendekatan fotorealistik. Hanya tinggal menunggu waktu baginya untuk memperoleh rekognisi lebih luas – sekaligus dipandang sebagai bapak animasi Jepang modern bersama Hayao Miyazaki – yang ternyata tiba dengan cepat. Melalui Your Name (2016) yang tercatat sebagai salah satu anime layar lebar dengan pendapatan tertinggi di seluruh dunia, kesempatan bagi Shinkai untuk menerima perhatian dunia karenanya tiba. Dalam film yang mempertemukan genre romansa dengan body swap comedy, disaster film, fiksi ilmiah, serta fantasi ini, ia menciptakan para penonton terperangah, jatuh hati, hingga kemudian terjangkit baper berkepanjangan. Bagi sebagian penonton, Your Name yakni mahakarya dari Shinkai… dan aku pun mengamininya. Sulit untuk tak jatuh cinta kepadanya, sulit juga untuk membayangkan, apa gebrakan yang akan diberikan oleh sang sutradara selepas ini? Pertaruhan terang tinggi, beban terang besar. Kala Weathering with You diumumkan sebagai karya terbaru, tak pelak banyak sekali macam perasaan menyeruak menjadi satu. Antara gembira, bersemangat, penasaran, hingga khawatir sanggup dirasakan menggelayuti diri.

Lantas, apa yang kemudian ditawarkan oleh Shinkai dalam Weathering with You? Well, film ini sendiri menerapkan winning formula yang telah terbukti ampuh tatkala diaplikasikan pada Your Name. Dua aksara protagonisnya yakni remaja usia belasan yang diikat oleh tali asmara, kemudian ada fenomena alam, dan tak ketinggalan pula, elemen fantasi yang erat kaitannya dengan mitologi Jepang. Sekali ini, si pembuat film membawa penonton menuju ke Tokyo yang berbeda. Bukan secara tampilan, melainkan kondisi alam yang menaunginya. Tokyo yang senantiasa diguyur hujan tak berkesudahan sampai-sampai warganya merindukan sinar matahari dan langit biru. Alhasil, nuansa kota pun kelabu. Tapi keadaan yang kurang erat ini tak menyurutkan langkah seorang remaja dari pulau terpencil berjulukan Hodaka (disuarakan oleh Kotara Daigo) untuk mencoba peruntungannya di Tokyo. Tanpa bekal kemampuan memadai, ditambah lagi Hodaka masih belum cukup umur, tentu bukan masalah gampang baginya untuk memperoleh pekerjaan di sini. Dia luntang-lantung selama beberapa hari hingga kemudian dia berjumpa dengan Keisuke Suga (Shun Oguri) yang bersedianya memberi pekerjaan sebagai penulis artikel. Tugas Hodaka yakni menemukan topik-topik unik berkaitan dengan klenik, salah satunya mencari seseorang berjulukan “gadis matahari” yang kekuatannya kurang lebih mirip pawang hujan di Indonesia. Dalam pencariannya, dia berkenalan dengan Hina (Nana Mori) yang memenuhi kualifikasi sebagai gadis matahari dan secara perlahan tapi pasti, percikan-percikan asmara mulai tumbuh diantara mereka.


Dihadapkan pada ekspektasi menjulang dari publik yang mendamba dongeng membuai selepas Your Name yang mengagumkan, nyatanya tak menciptakan Shinkai gentar. Memang, Weathering with You ada kalanya terasa kelewat ambisius dengan riuhnya cabangan dongeng disana sini. Entah memperbincangkan soal keluarga Keisuke, inovasi senjata api oleh Hodaka, keterlibatan Hina dengan dunia klub malam, mendatangkan aksara dari Your Name sebagai cameo, hingga komentar terkait perubahan iklim yang diwujudkan dalam penggambaran cuaca ekstrim di Tokyo. Rentetan subplot ini tidak semuanya berjalan baik, khususnya terkait senjata api yang tidak mempunyai banyak impak kecuali demi memperlihatkan solusi gampang bagi masalah sang protagonis. Tapi mengesampingkan masalah minor tersebut, Weathering with You menghadirkan sebuah kepuasan tersendiri kala bercerita yang menciptakan aku tidak keberatan untuk menyebut Makoto Shinkai sebagai penerus kebesaran Hayao Miyazaki dalam dunia animasi Jepang. Dongeng fantasi mengenai “pawang hujan” memunculkan mitologi yang menarik untuk disimak mirip bagaimana Hina memperoleh kekuatannya, mendayagunakan kekuatannya serta imbas kekuatan tersebut pada tubuhnya. Oleh si pembuat film, mitologi ini lantas dimanifestasikan ke dalam tiga macam rasa: takjub, gembira, sekaligus sedih. Rasa takjub bisa dicecap melalui world building bentukan Shinkai yang turut menjabat sebagai penulis skrip dimana penonton sanggup mendapatkan mengenai keadaan Tokyo maupun si gadis matahari, rasa besar hati mencuat melalui interaksi antar aksara yang dipenuhi dengan situasi-situasi menggelitik saraf tawa, dan rasa sedih tiba tatkala kita menyadari konsekuensi yang harus ditanggung oleh Hina.

Ya, menyaksikan Weathering with You tak ubahnya mirip menaiki wahana roller coaster yang mengacak-acak emosi sedemikian rupa di sepanjang perjalanannya. Apabila ada yang menyebut Shinkai sebagai “dewa baper”, maka julukan tersebut sangat bisa dipahami. Momen-momen romantis serta dramatis yang menghiasinya akan tetap membayangimu usang hingga sehabis melangkahkan kaki ke luar bioskop. Baik ketika Hodaka menghabiskan waktu dengan Hina dimana keduanya merasa bahu-membahu telah menciptakan perubahan besar pada dunia, atau ketika dua aksara yang sangat gampang untuk kita cintai ini menyadari bahwa mereka membutuhkan pengorbanan apabila ingin menjalankan perubahan. Dari sini, berhamburan serentetan sensasi rasa lain mirip manis-manis menggemaskan, terbahak-bahak, serta menangis haru. Komentar Shinkai mengenai perubahan iklim juga memperlihatkan cukup tonjokkan kepada diri ini dengan satu pertanyaan kontemplatif: apakah kau bersedia untuk berkorban demi kebaikan bumi di masa mendatang, atau kau menentukan untuk masa udik demi kebahagiaan ketika ini? Sebuah materi perenungan yang terang menggugah, semenggugah iringan lagu dari band Radwimps yang ikut menebalkan rasa di beberapa adegan inti sehingga menciptakan sadboys sadgirls nelangsa dan gesekan animasi berpendekatan fotorealistik yang sekali ini tampak lebih menakjubkan dibanding karya-karya Shinkai terdahulu. Tak terhitung berapa kali aku dibentuk terperangah melihat polesan-polesan gambarnya yang begitu detil dalam merepresentasikan Tokyo, begitu indah dalam memvisualisasikan imajinasi si pembuat film mengenai keajaiban alam, dan begitu menawan dalam menggabungkan kesemuanya menjadi satu kesatuan dongeng yang utuh. Pada akhirnya, kalau ada dua kata yang bisa aku pinjam untuk mendeskripsikan Weathering with You, maka itu yakni manis nan magis.  
Outstanding (4/5)