November 28, 2020

Review : Wewe


Dahulu kala, terteranya nama Rizal Mantovani di sebuah poster film horor telah cukup menjadi jaminan kualitas bahwa suguhan menakutkan yang akan kau saksikan tidak akan meninggalkan rasa kecewa yang mendalam – hal ini berlaku pula untuk koleganya, Jose Poernomo. Melahirkan dua film memedi sukses besar yang didasarkan pada urban legend ternama Indonesia, Jelangkung dan Kuntilanak, masuk akal kalau pamor sutradara yang memulai karirnya lewat video klip ini seketika melambung tinggi sampai-sampai memunculkan predikat “spesialis pembuat film horor kelas premium”. Tapi sekarang, tidak lagi berlaku. Semenjak terlalu sibuk berkutat pada ‘horor cantik’ (dalam artian visual) ketimbang ‘horor seram’, popularitasnya perlahan terus menurun walau tak hingga benar-benar terjerembab. Berharap dapat menebus kesalahan sekaligus comeback ke ranah horor yang membesarkan namanya, Rizal meluncurkan Wewe yang dicangkok dari urban legend. Tidak sepenuhnya berhasil, memang, namun Wewe terang berada satu tingkat di atas beberapa film horor karya Rizal Mantovani paska Kuntilanak

Keputusan sepihak yang diambil oleh Jarot (Agus Kuncoro) dengan memboyong keluarga kecilnya yang terdiri dari sang istri, Irma (Inong Nidya Ayu), serta kedua putrinya, Luna (Nabilah JKT48) dan Aruna (Khadijah Banderas), ke sebuah rumah gres yang jauh dari peradaban membawa imbas buruk. Selain hubungan Jarot dan Irma yang berangsur-angsur tergerus kemesraannya saban pergantian hari, Aruna juga kerap mengeluhkan sering melihat adanya sosok lain berkeliaran di rumah tersebut. Terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing (dan bertengkar, tentunya), Jarot dan Irma menganggap keluhan Aruna tak lebih dari imajinasi liar anak kecil. Luna menjadi satu-satunya anggota keluarga yang menyadari adanya kejanggalan pada diri Aruna. Saat Luna mencoba mendekatkan kembali hubungannya dengan sang adik yang sempat merenggang, problem lain timbul: Aruna mendadak lenyap tanpa jejak! Jika informasi dari tetangga yang pernah ditimpa insiden serupa benar adanya, itu berarti Aruna menghilang alasannya diculik oleh makhluk astral berwujud wewe! 
Begini, menilai keberhasilan suatu film horor dari teropong paling sederhana sesungguhnya tidak terlalu sulit. Selama mampu memicu jerit ketakutan penonton lebih dari sekali, maka misi dianggap telah tertunaikan secara sukses. Mengabaikan segala macam tetek bengek yang kelewat sophisticated berkaitan dengan skrip, akting, teknis, dan sebagainya-dan sebagainya. Kalau metode evaluasi semacam ini diperkenankan untuk diaplikasikan ke Wewe, film rancangan Rizal Mantovani ini akan lulus dengan mudahnya. Sekalipun formula menakut-nakuti yang dipergunakan tergolong generik – tidak ada pembaharuan apapun yang dapat kau temukan di sini – namun masih cukup efektif membuatmu terlonjak dari dingklik bioskop (bahkan menjerit!) beberapa kali. Pemicunya terletak pada kejelian si pembuat film dalam menempatkan jump scares, desain menyeramkan dari sosok wewe gombel (deserves kudos!), dan iringan musik Andi Rianto yang tergolong berhasil membangun nuansa menyeramkan meski cenderung mengingatkan pada karya-karyanya terdahulu. 

Tapi kemudian kita ingat bahwa sekadar menciptakan penonton terperanjat tidak akan menciptakan film ini kemana-mana alasannya dalam beberapa hari akan menguap terlupakan dari ingatan. Butuh skrip berisi, huruf kuat, serta elemen teknis paripurna untuk merancang sebuah ketakutan maksimal yang senantiasa membayangi. Poin ketiga nyaris sepenuhnya dipenuhi oleh Wewe – terlepas pada editing yang terseok-seok – namun poin pertama dan kedua, errr… terlupakan. Tidak ada tuturan yang membuatmu terikat di sini, sebaliknya skrip racikan malah mengalun hambar, melebar kesana kemari, tampak kebingungan menentukan pijakan yang hendak dikedepankan, hingga jadinya mendistraksi elemen suspense alih-alih memberi topangan. Perkara ini memang sedikit banyak meredupkan kadar kenikmatan dalam menonton utamanya ketika film menapaki klimaks, tapi tak hingga pada tahapan meruntuhkan. Paling tidak, Wewe dilahirkan dengan penggarapan teknis yang terbilang mumpuni dan masih adanya impian (dari hati) untuk menyajikan tontonan menakutkan dengan ‘adegan cilukba’ yang beberapa diantaranya cukup berhasil menggedor jantung.

Acceptable