October 20, 2020

Review : What To Expect When You’re Expecting


“Well, I’m calling it… pregnancy sucks.” – Wendy

Film dengan judul yang cukup panjang dan tidak mengecewakan ribet dalam mengucapkannya ini beranjak dari sebuah sumber yang sangat tidak biasa untuk dijadikan sebagai pijakan dalam menghasilkan sebuah film adaptasi, buku panduan kehamilan. Buku hasil buah pemikiran dari Heidi Murkoff dan Sharon Mazel yang ketika ini memasuki edisi keempat ini terbilang laku manis di pasaran dan dianggap sebagai sebuah ‘bible’ bagi para calon ibu di Amerika Serikat. Nah, ketika Lionsgate berinisiatif mengadaptasi buku ini ke dalam bentuk film layar lebar, apakah Anda tidak merasa aneh? Sebuah buku panduan kehamilan dimana di dalamnya tidak mempunyai jalan cerita, kecuali Anda menganggap proses dalam menyambut kelahiran si buah hati yaitu cerita, mendadak harus bercerita panjang lebar selama 110 menit. Agak sedikit mengingatkan pada He’s Just Not That Into You, ya? Hanya saja, versi buku dari film yang aku sebutkan terakhir masih bisa dikatakan mempunyai sebuah alur cerita. Melihat latar belakang yang ibarat ini, maka ada baiknya Anda tidak berharap banyak terhadap sektor naskah di What to Expect When You’re Expecting. Dan memang, ibarat yang sudah aku duga sebelumnya, naskah racikan Shauna Cross dan Heather Hach tidak menunjukkan sesuatu yang baru, terasa kering dan kurang bertenaga. Andaikan tidak dibantu oleh akting apik para pemainnya, entah bagaimana jadinya film ini. 
Film yang ditangani oleh Kirk Jones, penghasil Nanny McPhee dan Everybody’s Fine, ini memakai pendekatan multiplot yang terbagi ke dalam lima dongeng yang kesemuanya terikat oleh tema kehamilan. Masing-masing dongeng diwakili oleh Jules Baxter (Cameron Diaz), Holly (Jennifer Lopez), Wendy Cooper (Elizabeth Banks), Skyler Cooper (Brooklyn Decker), dan Rosie (Anna Kendrick). Dari sisi Jules Baxter, kita melihat sosok perempuan karir gila kerja yang mana kehamilan bukan menjadi suatu alasan bagi dirinya untuk rehat sejenak. Menjadi sosok yang mendominasi dalam hubungan, dimana ia menganggap dirinya yaitu si ‘Alpha’, Jules kerap cekcok dengan pasangannya, Evan (Matthew Morrison), karena Jules emoh mendengarkan saran dari Evan. Dalam dongeng kedua yang menghadirkan Holly sang fotografer, penonton tidak lagi dihadapkan pada permasalahan seputar kehamilan. Holly menjadi satu-satunya tokoh utama perempuan dalam film ini yang tidak digambarkan dalam keadaan hamil. Karena tak jua mengandung, Holly dan Alex (Rodrigo Santoro) memutuskan untuk mengadopsi bayi dari Ethiopia. Ketidaksiapan Alex untuk menjadi ayah menjadi sorotan utama disini. 
Plot yang lebih menarik muncul ketika penonton diajak untuk menyidik kehidupan keluarga Cooper dalam menyikapi kehadiran anggota keluarga yang baru. Wendy Cooper kesannya berhasil mengandung sesudah percobaan selama dua tahun yang tidak membuahkan hasil. Di sela-sela kebahagiaan, Wendy kudu ekstra sabar menghadapi persaingan tiada simpulan antara sang suami, Gary (Ben Falcone), dengan sang mertua, Ramsey (Dennis Quaid). Istri Ramsey yang masih muda – sampai seringkali dikira sebagai anaknya -, Skyler, juga tengah menantikan momongan. Sementara dalam kisah terakhir, yang mempunyai tone lebih damai dan tak segegap gempita empat kisah lainnya, menghadapkan Rosie kepada kehamilan yang tidak diinginkan sesudah bekerjasama tubuh dengan Marco (Chace Crawford). Tidak mengira akan kebobolan, mereka berdua panik. Beruntung Marco siap untuk bertanggung jawab. Hubungan mereka pun naik tingkat. Di ketika Rosie dan Marco kian lengket, sebuah insiden yang memilukan terjadi. Sayang durasi yang serba terbatas sementara setumpuk permasalahan belum menemui titik temu memaksa Kirk Jones untuk tidak berlama-lama mengasihani Rosie. Padahal, momen yang mengharu biru ini seharusnya bisa berbicara banyak dan tidak mengecewakan mengangkat film secara keseluruhan. 
Setelah insiden tersebut, Cross, Hach, serta Jones, ‘mencampakkan’ Rosie begitu saja. Kehadirannya tak lagi penting bagi film karena titik puncak dari kisah Rosie malah sudah dimunculkan di pertengahan film. Dengan kepergian Rossie, maka beban Jones dan rekan-rekan penulis pun berkurang. Mereka sanggup fokus ke keempat tokoh lain. Sekalipun beban telah dikurangi, sayangnya tidak ada perubahan yang signifikan dalam penceritaan. Hanya kisah keluarga Cooper yang menarik untuk disimak. Sisanya, membosankan. Untuk soal berdrama ria, What to Expect When You’re Expecting kurang greget. Dua adegan yang berpotensi untuk menciptakan penonton berlinang air mata tak digarap secara maksimal. Untungnya, selera humornya tidak terlalu payah. Sesekali terasa garing kriuk kriuk masih bisa ditolerir, terutama kalau setelahnya masih mempunyai cukup amunisi untuk memecah keheningan dengan tawa yang menggelegar. Ya, film ini secara tidak terduga ternyata bisa menciptakan aku tergelak beberapa kali. Setelah melewati paruh awal yang membosankan, Jones membawa penonton ke dalam sebuah perjalanan penuh keriangan di paruh berikutnya. Detik-detik menuju proses persalinan yaitu adegan terbaik di film ini. Sangat lucu, seru, dan menghibur. Kredit khusus aku berikan untuk Janice (Rebel Wilson) dan Jordan, putra Vic Mac (Chris Rock) yang hiperaktif, yang sukses mencuri layar setiap kali muncul. Dari geng para calon ibu, aku suka dengan Elizabeth Banks yang sedikit banyak mengingatkan aku pada Julie Bowen di Modern Family. Berkat jajaran pemain yang bermain lepas seakan tanpa beban inilah yang menyelamatkan film dari kantong sampah. Dan apabila niatan Anda menonton film ini yaitu untuk mendapat panduan kehamilan yang bermanfaat, maka urungkan. Film ini hanya meminjam judul. What to Expect When You’re Expecting akan terasa menarik apabila semenjak awal Anda berniat untuk dibentuk terhibur tanpa berekspektasi apapun. Just enjoy the movie.

Acceptable