July 15, 2020

Review : Wiro Sableng Jagoan Kapak Janjkematian Naga Geni 212

“Seluruh ilmuku telah kupasrahkan padamu, Wiro. Kini saatnya kau memasuki dunia luar, membawa garis-garis hidupmu sendiri.” 

Bagi sebagian penonton, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (untuk selanjutnya disebut Wiro Sableng 212 saja ya, supaya nggak kepanjangan) akan membangkitkan kenangan ke masa lampau. Bagi mereka yang sempat mencicipi euforia serial televisi tanah air di kurun 1990-an, pastinya pribadi teringat pada versi sinetronnya yang mempunyai lagu tema ikonis dengan penggalan lirik berbunyi, “siapa dia? Wiro Sableng. Sikapnya lucu, tingkahnya aneh, menyerupai orang yang kurang ingatan dan tak sadar.” Sedangkan bagi mereka dari generasi yang lebih sepuh, kenangan itu akan lebih melimpah alasannya yaitu turut bersumber dari sumber materinya, yakni dongeng silat rekaan Bastian Tito yang mempunyai 185 judul, beserta sejumlah film pembiasaan layar lebarnya yang memang tak terdengar gaungnya di kurun sekarang. Menariknya, disamping berfungsi sebagai ajang nostalgia bagi penggemar lamanya, versi termutakhir dari Wiro Sableng 212 yang menampilkan putra si pengarang, Vino G. Bastian, sebagai si aksara tituler ini juga diniatkan untuk mengobati kerinduan penonton terhadap sajian silat yang telah usang raib dari perfilman Indonesia (terakhir yaitu Pendekar Tongkat Emas (2014) yang sayangnya melempem) dan memperlihatkan sajian hiburan berskala blockbuster yang jarang-jarang ada kepada khalayak ramai. Demi merealisasikan poin ketiga ini, rumah produksi Lifelike Pictures pun tidak segan-segan berkolaborasi dengan 20th Century Fox dibawah bendera Fox International Productions sehingga memungkinkan Wiro Sableng 212 untuk terhidang sebagai sajian kolosal dengan cita rasa megah nan glamor menyerupai yang diharapkan. 

Dalam menggulirkan narasi, Wiro Sableng 212 tak berpatokan pada versi sinetronnya melainkan mencuplik pribadi elemen dari empat seri dalam dongeng silatnya, antara lain Empat Berewok dari Goa Sanggreng, Maut Bernyanyi di Pajajaran, Dendam Orang-orang Sakti, dan Keris Tumbal Wilayuda. Usai dikombinasikan menjadi satu oleh trio penulis skenario; Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon, beserta Seno Gumira Ajidarma, penonton disodori kisah pengembaraan seorang jagoan dengan sikap yang cenderung nyeleneh nan tengil berjulukan Wiro Sableng (Vino G. Bastian) dalam upayanya untuk meringkus jagoan dari golongan hitam, Mahesa Birawa (Yayan Ruhian). Konon, misi perburuan terhadap Mahesa ini dimulai selepas Wiro mendapat titah dari sang guru, Sinto Gendeng (Ruth Marini), yang dulunya sempat menyalurkan ilmu-ilmunya kepada Mahesa sebelum karenanya dikhianati. Sinto Gendeng meminta Wiro yang dianggapnya mempunyai hati yang higienis dan telah siap mengaplikasikan ajarannya di dunia luar untuk menghentikan planning keji Mahesa, yakni gerakan ganti raja. Mahesa bersama dengan kelompoknya yang turut mencakup beberapa pengkhianat dari kalangan istana, berencana untuk memporakporandakan kerajaan dengan menculik Pangeran (Yusuf Mahardika) sehingga memudahkannya menggulingkan Raja Kamandaka (Dwi Sasono) dari tampuk kekuasaan. Mengingat Mahesa bukanlah lawan yang bisa dianggap sebelah mata – dan sudah mempunyai jam terbang tinggi, maka Wiro pun ‘mengajak serta’ beberapa jagoan putih yang ditemuinya di perjalanan, menyerupai Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), untuk membantunya dalam menaklukkan Mahesa.

Selama menonton Wiro Sableng 212 di layar lebar, ada satu sensasi rasa yang tak pernah saya dapatkan sebelumnya tatkala menyaksikan film Indonesia, merinding. Sedari mencuatnya logo Fox disertai musik pengiringnya yang khas itu, saya berulang kali mencoba mengingatkan diri ini bahwa apa yang tersaji di depan mata merupakan kreasi anak bangsa. Sebuah film laga yang digarap oleh Angga Dwimas Sasongko (Surat Dari Praha, Filosofi Kopi), salah satu pencerita ulung di perfilman Indonesia. Ya, saya sungguh senang alasannya yaitu pada akhirnya, perfilman Indonesia mempunyai sebuah tontonan yang bisa dikategorikan sebagai blockbuster. Atau dengan kata lain, film dengan skala produksi raksasa yang mempunyai tampilan megah. Membaca deskripsi ini, tanpa bermaksud suudzon kepada para pembaca, saya meyakini ada banyak bunyi sumbang diluar sana yang berujar “ah, itu kau saja yang lebay. Tidak seepik itu kok!” karena berkomentar ceriwis sedang naik daun (dan dianggap keren). Memang betul bahwa Wiro Sableng 212 bukanlah sebuah produk yang sempurna. Dalam catatan saya, duduk kasus paling besar yang menghadang film berada di sektor narasi yang terkadang tersendat-sendat. Pemicunya yaitu keinginan si pembuat film untuk mengakomodir kemunculan seabrek aksara ditengah durasi serba terbatas sehingga ada kalanya saya terpaksa membuka contekan untuk mengetahui identitas aksara tertentu yang tak pernah mendapat perkenalan secara layak. Mereka hanya tiba dan pergi oh begitu sajaaa (dinyanyikan dengan melodi ala Letto) demi sekadar memeriahkan pertarungan antara jagoan putih dengan jagoan hitam. 

Disamping latar belakang Wiro dan sejumput mengenai Mahesa yang (untungnya) diberi motivasi memadai untuk ambisi masing-masing, penonton mutlak tidak memperoleh klarifikasi mengenai karakter-karakter penyokong yang hilir pulang kampung di sepanjang film, utamanya mereka yang berasal dari persekutuan Mahesa. Bahkan, beberapa aksara inti yang mendapat tugas krusial menyerupai Anggini, Bujang Gila Tapak Sakti, serta Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) pun hanya kita ketahui sedikit saja. Mungkinkah Angga dan tim berniat untuk mengeksplorasinya di film mendatang dan hanya mempergunakan momen ini sebagai perkenalan singkat semata sehingga kita tidak lagi asing ketika dipertemukan di babak selanjutnya? Bisa jadi demikian. Pun begitu, selain jumlah aksara terlampau meriah dengan pembagian jatah tampil tak merata, Wiro Sableng 212 tidak menghadapi permasalahan yang berarti. Apabila ekspektasimu tidak menjulang tinggi-tinggi dengan mendamba film ini mempunyai plot kompleks (yang sejatinya tidak dibutuhkan oleh film menyerupai ini) dan pencapaian teknis setingkat film blockbuster buatan studio besar Hollywood hanya alasannya yaitu keterlibatan Fox di dalamnya (yang tentu tak realistis mengingat bujetnya berbeda jauh), rasa-rasanya tidak sulit untuk terpuaskan oleh Wiro Sableng 212. Film ini bisa memenuhi segala pengharapan saya sebagai sebuah tontonan silat yang berdiri di jalur eskapisme. Kocak, seru, dan menyenangkan. Lontaran humor yang sebagian besar digenggam oleh Wiro mengikuti celetukan beserta sikapnya yang tengil-tengil sableng tidak sedikit diantaranya yang mengenai target sampai-sampai seisi studio dibentuk tergelak-gelak. Bahkan, untuk menonjolkan kesablengannya, beberapa guyonan yang merapat ke ranah budaya terkenal dan bermain-main dengan tumpuan sengaja dibentuk lintas zaman yang mana bukan jadi soal karena Wiro Sableng 212 berdiri di atas genre fantasi. Gokil! 


Kemampuan humor yang tersalurkan dengan baik ke penonton ini tentu tak lepas dari pengarahan Angga yang bersinergi dengan jajaran pemain ansambel di Wiro Sableng 212 yang mempunyai akurasi dalam hal comic timing sekaligus mempunyai permainan lakon yang sulit dibilang mengecewakan. Dari seabrek pemain yang menyumbangkan perannya, beberapa nama yang menonjol antara lain Vino G. Bastian, Ruth Marini, Dwi Sasono, Yayan Ruhian, Marsha Timothy, serta pendatang gres Fariz Alfarazi. Vino G. Bastian menunjukan bahwa beliau bukanlah pilihan keliru untuk memerankan Pendekar Kunyuk yang bikin gregetan lawan beserta kawan-kawannya alasannya yaitu tingkah lakunya yang susah diajak serius. Ada pancaran ketengilan menyerupai adonan antara Peter Parker, Sun Go Kong, serta Deadpool yang bisa mengecoh siapapun sehingga gampang untuk menganggapnya sebagai jagoan ecek-ecek yang bisa disentil memakai jemari tangan. Tektokannya bersama Ruth Marini yang bikin pangling berkat transformasi menakjubkannya di sektor rias dan intonasi bunyi terasa natural seperti keduanya memang mempunyai ikatan besar lengan berkuasa sebagai murid-guru, begitu pula ketika tubruk verbal bersama Fariz Alfarazi yang karakternya sebelas dua belas dengan Wiro ihwal ketengilan maupun keganjenan. Turut bergabung di jajaran bergengsi ini yaitu Dwi Sasono yang melepaskan gambaran komedinya dengan tampil berwibawa sebagai Raja, kemudian Marsha Timothy yang terlihat bagus sebagai wanita misterius yang kerap membantu Wiro di kala-kala genting, dan tentu saja Yayan Ruhian yang tampak bengis nan mematikan sebagai musuh besar Wiro yang harus ditaklukannya. 

Turut menunjang kelucuan humor dan permainan lakon yang apik yaitu koreografi laga yang mengesankan. Keputusan untuk merekrut Yayan Ruhian bersama Chan Man Ching (menangani adegan laga di Rush Hour dan Hellboy II: The Golden Army) tidaklah sia-sia belaka alasannya yaitu Wiro Sableng 212 mempunyai sedikitnya dua momen kelahi sanggup dikenang yang bisa dijumpai melalui adegan pertarungan di kedai makan yang mengingatkan kita ke film-film silat dari Cina (dan memberi kita cameo yang membangkitkan kenangan!) lengkap dengan segala kelebayannya dan konfrontasi tamat di babak titik puncak yang berlangsung panjang nan mendebarkan. Bak bik buknya tetap terasa seru sekalipun intensitas pada pertarungannya terpaksa diturunkan demi bisa menjangkau pasar keluarga. Keseruan momen laga ini tentu tak akan berarti banyak tanpa sokongan dari departemen teknis yang harus diakui merupakan salah satu letak keunggulan Wiro Sableng 212. Pergerakan kameranya luwes, penyutingannya lincah, efek khususnya halus (well, pengecualian untuk adegan di atas jurang yang masih tampak dipaksakan), kostum beserta tata riasnya detil, dan dentuman musik pengiringnya membantu memperlihatkan energi yang memang dibutuhkan film. Ditambah oleh bangunan semestanya yang menyuguhkan gambaran mengenai dunia yang ditempati para jagoan ini dengan cukup baik, kombinasi dari elemen-elemen teknis ini memunculkan kesan megah nan glamor pada Wiro Sableng 212 laiknya film-film kolosal milik Cina. Sebuah pencapaian sinematis bagi perfilman Indonesia yang tentunya sangat patut diapresiasi karena, well, kapan lagi kita bisa nonton film Indonesia seakbar ini? Sungguh saya jadi tak sabar untuk menengok jilid selanjutnya yang semoga saja bisa memperlihatkan peningkatan dari apa yang telah disuguhkan di seri pembuka ini.

Info layanan masyarakat : Ada satu adegan bonus di sela-sela end credit yang memberi petunjuk ke film berikutnya. Bertahanlah, bertahanlah. 

Outstanding (4/5)