October 18, 2020

Review : Xxx: Return Of Xander Cage


“X looks out for his own.” 

Menengok resepsi mengenaskan yang diterima oleh XXX: State of Union baik dari kritikus maupun penonton, cukup mengherankan sesungguhnya mengapa seri XXX (dibaca Triple X) masih berlanjut. Telah dicanangkan semenjak satu dekade silam, agak-agaknya pihak studio masih menaruh impian sekaligus melihat potensi XXX sanggup dikembangkan sebagai franchise ibarat dua inspirasinya, James Bond dan The Fast and the Furious. Dengan lahan jamahannya berada di ranah spionase yang menyimpan setumpuk bahan menarik, tentu kesempatan tak disia-siakan begitu saja. Demi mewujudkan rencana jangka panjang tersebut, satu hal musti dilakukan ialah memperbaiki kesalahan besar karena menendang Vin Diesel dari posisi bintang film utama. Vin Diesel yang membintangi seri awal namun mangkir di jilid kedua sehabis karakternya diceritakan tewas dan posisinya digantikan Ice Cube (yang tidak berkarisma sama sekali!) pun kembali direkrut. Sosok “segera menjadi ikonik” Xander Cage dibangkitkan dari kubur, kemudian diminta memimpin pergerakan kisah ibarat seharusnya dilakukan pula oleh film kedua. 

Bertajuk XXX: Return of Xander Cage, seri ketiga yang dikomandoi D.J. Caruso (Eagle Eye, I Am Number Four) memulai pengisahannya usai raibnya sebuah senjata mematikan berjulukan Pandora’s Box yang sanggup mengontrol penuh satelit-satelit di dunia dan mengakibatkan kehancuran luar biasa. Diketahui, pelakunya ialah Xiang (Donnie Yen) bersama komplotannya yang terdiri atas Serena (Deepika Padukone), Talon (Tony Jaa), serta Hawk (Michael Bisping). Demi melacak keberadaan empat sekawan ini, kemudian meringkus mereka, dan kemudian mengamankan Pandora’s Box, pihak NSA yang sekali ini mengamanatkan jalannya operasi pada Jane Marke (Toni Collette) paska tewasnya Gibbons (Samuel L. Jackson) lantas tetapkan untuk mengontak Xander Cage (Vin Diesel) yang sejatinya telah bertahun-tahun lamanya hidup dalam pengasingan. Cage pun tak bekerja sendirian. Agar perburuan berjalan mulus, beliau merekrut tiga biro lain yang tergabung dalam jadwal XXX, yakni Adele sang penembak jitu (Ruby Rose), Nicks sang DJ karismatik (Kris Wu), dan Tennyson sang pengemudi gila (Rory McCann), untuk membantunya. 

Jika kau telah mengikuti XXX sedari film pertama – tak terhitung udah berapa kali tayang di stasiun televisi swasta – tentu paham betul bahwa film ini memang tak pernah menganggap dirinya serius. Dalam artian, sengaja dikreasi sebagai tontonan seru-seruan semata yang sanggup dinikmati sambil ngunyah cemilan plus nyeruput minuman bersoda tanpa harus ribet memikirkan jalannya plot. Kurang lebih, semacam James Bond bercita rasa Fast and Furious lah. XXX: Return of Xander Cage pun masih menerapkan formula serupa dengan pendahulunya. Hempaskan saja plotnya dari pikiranmu daripada kepala malah pening saking menggelikannya sebab keberadaannya pun hanya biar filmnya sanggup berjalan. Cara untuk menikmati XXX: Return of Xander Cage ialah fokus terhadap bagaimana si pembuat film mempresentasikan gelaran laganya. Meski tingkat keberhasilannya masih dibawah jilid pertama, namun terperinci jauh lebih menghibur dibanding seri kedua yang lebih banyak mendemnya. Keseruan instalmen ini telah terbaca sedari pengenalan karakter-karakter barunya (plus Xander Cage) yang tengah menunaikan misi masing-masing di menit-menit awal. 

Sayangnya, Caruso agak keteteran menjaga intensitas film untuk tetap stabil hingga penghujung durasi. Usai Xander mengumpulkan timnya, daya pikat XXX: Return of Xander Cage mulai mengendur dengan rentetan laganya kurang sanggup memunculkan reaksi takjub karena sebagian besar diantaranya pernah kita saksikan di film lain. Disamping itu, karena penuh sesaknya sektor akting yang cenderung menonjolkan karisma Vin Diesel plus pesona Deepika Padukone, beberapa pemain pun dikorbankan kesempatannya buat unjuk gigi ibarat Tony Jaa, Kris Wu, Michael Bisping, dan Rory McCann yang dihadirkan sebatas untuk ‘tim hore’ biar filmnya tak berkesan sepi. Duh. Tapi hening saja, melemasnya film di pertengahan tak bertahan usang sebab selepas dalang sesungguhnya atas segala kekacauan terendus, geberan momen-momen konyol nan mengasyikkan dalam XXX: Return of Xander Cage lantas dimaksimalkan levelnya. Memang sih tidak pernah hingga pada tahapan inovatif yang bikin rahang jatuh, tapi “bertarung di tengah-tengah padatnya arus kemudian lintas” kemudian “berantem sambil melayang” rasa-rasanya sudah cukup untuk menciptakan para pencari spektakel gegap gempita tersenyum senang kala melangkahkan kaki ke luar bioskop.

Note : Untuk dapatkan pengalaman nonton maksimal, disarankan untuk menyaksikannya dalam format 4DX 3D. 

Acceptable (3/5)