October 20, 2020

Review : Yakuza Apocalypse


Saat berencana melahap film hasil olahan Takashi Miike, antisipasi kemunculan konten yang tersusun atas kekerasan tergambar brutal, seksualitas menyimpang, humor-humor nyeleneh, sampai visualisasi over-the-top cenderung menggelikan. Tidak kesemuanya memang selalu hadir di film-film garapannya, terkadang Miike juga menggarap film ramah keluarga, tetapi seringkali kalau dia sedang ‘kumat’ maka setidaknya sebagian (atau malah semua!) elemen ini sanggup kau jumpai disertai gaya penceritaan ‘suka suka gue’ yang sanggup jadi akan menciptakan mereka yang tidak erat dengan style si sutradara pusing tujuh keliling. Dan, menyerupai itulah garapan terbarunya, Yakuza Apocalypse, yang melibatkan pemain film asal Indonesia, Yayan Ruhian (The Raid). Imajinasi liar tanpa batas dari Miike entah datangnya dari mana – mungkin mimpi jelek di siang bolong – diejawantahkan ke dalam bahasa gambar yang mencampuradukkan yazuka dengan vampir, dan kodok hijau raksasa yang mahir tarung. Absurd is an underrated word to describe this movie

Di menit-menit awal, Yakuza Apocalypse mengondisikan penonton untuk meyakini apa yang mereka tonton yaitu film laga murni dengan menampilkan baku hantam berlanjut baku tembak berdarah-darah antar yakuza sebagai pemanasan. Tak berselang lama, kita diperkenalkan pada seorang perjaka berjulukan Akira Kageyama (Hayato Ichihara) yang mendamba terjun ke dunia yakuza menyusul kekagumannya terhadap Genyo Kamiura (Lily Franky), pemimpin yakuza dengan wilayah kekuasaan terluas yang dikenal sebagai sosok tak terkalahkan. Walau Kageyama mencicipi kekecewaan menekuni dunia yakuza yang dipicu oleh posisinya sebagai bulan-bulanan sesama koleganya karena kulit sensitifnya enggan ditempeli tato, Kageyama mencoba bertahan dengan mengabdi pada Kamiura. Keadaan sepenuhnya berubah bagi Kageyama usai Kamiura mewarisinya ‘ilmu kekebalan’ beberapa dikala sehabis dua pembunuh bayaran menghabisi nyawanya dalam sebuah agresi pengkhianatan. Memanfaatkan kekuatan barunya ini, Kageyama mencapai tampuk kepemimpinan yakuza sekaligus menuntut balas kematian Kamiura. 
Berpatokan pada sinopsis ini, kau mungkin menduga Yakuza Apocalypse yaitu sebuah film yang normal-normal saja. Dan ya, menyerupai disinggung di paragraf sebelumnya, Takashi Miike pun mencoba sebisa mungkin mengelabui kita dengan nada penceritaan serius cenderung suram di titik mula. Membiarkan penonton berada dalam posisi tegang (maupun ngilu) dengan hadirnya gelaran kekerasan cukup ekstrim yang dipenuhi darah. Tapi kemudian jati diri sesungguhnya dari Yakuza Apocalypse perlahan-lahan mulai menampakkan diri tatkala skrip racikan Yoshitaka Yamaguchi menyibak sisi lain dari Kamiura. Saat itulah disadari bahwa tontonan yang tengah disantap di layar lebar ini bukanlah tontonan normal, melainkan sebuah gelaran nyeleneh yang dipersembahkan oleh Takashi Miike yang sepertinya sudah terlalu jenuh dengan metode konvensional dalam bercerita melalui bahasa gambar yang dilakoninya di beberapa tahun terakhir ini. Setelah sedikit pemanasan dalam As the Gods Will, lewat Yakuza Apocalypse ini urat waras Miike benar-benar sudah putus. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, “film ini gesreknya nggak ketulungan!” 

Apabila wangsit memadupadankan yakuza dengan vampire – jenis vampire yang tidak takut berkeliaran di siang bolong – sudah dianggap terdengar gila, percayalah, itu belum ada apa-apanya. Imajinasi liar dari sang sutradara yang sedang kumat semakin tak terbendung seiring berjalannya durasi. Mengabaikan koherensi pada guliran penceritaan yang secara tidak pribadi berujar, “siapapun yang menginginkan tontonan cerdas, serius, dan bermakna, silahkan angkat kaki!,” Miike memfokuskan pada visualisasi yang luar biasa edan dan konyol sehingga sulit bagi penonton untuk menebak kegilaan apa yang akan dicuatkan oleh Miike di menit-menit berikutnya. Dan harus diakui, disinilah letak kesenangan tolong-menolong dari menyimak Yakuza Apocalypse. Pertarungan puncak yang melibatkan Hayato Ichihara dan Yayan Ruhian (sebagai salah satu pembunuh bayaran mematikan yang ditugaskan menaklukkan Kamiura beserta Kageyama) mungkin tidak segreget yang dibayangkan, namun dengan kemunculan serentetan keabsurdan mengasyikkan semacam ‘telinga berair’ bos yakuza, kappa bermulut bau, sampai kodok hijau raksasa yang lincah dalam meremukredamkan badan lawannya, kekecewaan sanggup terobati. Toh tujuan awal menyaksikan Yakuza Apocalypse yaitu sekadar bersenang-senang seraya mencoba mencari tahu seberapa jauh kegilaan yang hendak dicapai oleh Takashi Miike di film terbarunya ini.

Acceptable