July 9, 2020

Review : Yowis Ben 2


“Koen kabeh eling. Nek ga sukses, uripmu kabeh bakal sepi koyo kuburan iki.”

“Jare sopo sepi? Rame ngene og.”

Saat dirilis di bioskop pada tahun 2018 silam lalu, siapa yang menyangka Yowis Ben akan disambut dengan sangat hangat oleh penonton? Keputusan untuk memakai Bahasa Jawa Malangan sebagai obrolan utama terang terbilang nekat, bahkan sempat pula mengundang kontroversi tak perlu yang dikait-kaitkan dengan kasus nasionalisme. Bagi penonton yang tak memahami Bahasa Jawa, Yowis Ben bisa jadi kurang menggoreskan kesan. Namun bagi mereka yang paham betul terlebih bagi penutur orisinil dialek Malang dan sekitarnya, film ini menghadirkan sebuah hiburan mengasyikkan. Narasinya membumi, begitu pula dengan guyonan-guyonannya yang terdengar erat di telinga. Sebagai orang Jawa tulen yang kebetulan cukup mengenal kota Malang, saya terang menikmati suguhan dari Fajar Nugros bersama Bayu Skak ini. Memang jauh dari kata tepat (well, ada berbagai catatan yang saya tinggalkan buat film ini), tapi saya menyukai nada penceritaannya yang begitu enerjik sekaligus mengalir lancar seolah tanpa beban. Tipe tontonan yang lezat disimak beramai-ramai maupun dimanfaatkan untuk mengobati kegundahan hati. Puecah pol! Kesanggupan saya dalam menemukan sisi excitement yang terkandung di Yowis Ben ini tentu membuat saya bergembira begitu mendengar kabar bahwa film kelanjutannya telah dipersiapkan. Hanya saja, saya pun mempunyai sejumlah kekhawatiran terhadap nasib film ini yang dipicu oleh: 1) adanya kemungkinan si pembuat film terbebani dengan kesuksesan jilid terdahulu sehingga penceritaan pun tak lagi luwes, dan 2) adanya kemungkinan Yowis Ben 2 terkena kutukan sekuel. Saya pun seketika berdoa, “semoga kekhawatiran ini tak pernah terjadi. Semoga kekhawatiran ini tak pernah terjadi.”

Dalam Yowis Ben 2 yang mengambil latar penceritaan satu tahun selepas film pertama, penonton dipertemukan kembali dengan para personil Yowis Band yang terdiri atas Bayu (Bayu Skak), Doni (Joshua Suherman), Nando (Brandon Salim), serta Yayan (Tutus Thomson). Tidak lagi dijadikan target bulan-bulanan, sekarang Yowis Band cukup sering memperoleh anjuran manggung meski gres sebatas dalam lingkup kota Malang. Gagasan untuk memperluas sayap Yowis Band ke tingkatan lebih luas lantas muncul sesudah keluarga Bayu dihadang kasus pelik: terancam ditendang dari kontrakan apabila gagal melunasi tungakkan uang sewa. Cak Jon (Arief Didu) selaku manajer Yowis Band pun mencoba membantu dengan mencarikan seruan manggung bagi grup band kesayangannya ini yang sayangnya justru berakhir buruk. Alih-alih mendapatkan uang, mereka lebih sering ditodong uang alasannya yaitu membuat kekacauan. Ditengah kekecewaan alasannya yaitu jalan menuju ketenaran tampak telah tertutup rapat, Bayu bertemu dengan Cak Jim (Timo Scheunemann) yang mengaku sebagai manajer artis profesional. Cak Jim menawari sekelompok anak muda ini dengan iming-iming menggiurkan yakni meniti karir bermusik di kota Bandung. Berhubung Bayu membutuhkan uang untuk membayar hutang, Yayan memerlukan tabungan untuk menghidupi istri yang gres dinikahinya, Nando mencari pelampiasan atas kekecewaannya terhadap sang ayah, dan Doni menginginkan seorang kekasih, maka mereka pun mendapatkan kontrak dari Cak Jim tanpa berpikir panjang. Yowis Band memecat Cak Jon, hengkang dari Malang, kemudian terbang menuju Bandung dimana segalanya ternyata sama sekali tak sesuai dengan bayangan mereka.  

Mengikuti tradisi tak tertulis dari sekuel, Bagus Bramanti selaku penulis skenario pun memperluas sekaligus memperumit guliran pengisahan yang diusung oleh Yowis Ben 2. Bukan lagi sebatas kisah memenangkan pujaan hati memakai jalur band, ini juga kisah wacana memperjuangkan mimpi dan bagaimana idealisme beserta prinsip seringkali berbenturan dengan realita ditengah perjalanan dalam merengkuh mimpi tersebut. Memang terdengar cukup berat, tapi Yowis Ben 2 sendiri tak pernah tertarik untuk menguliti problem yang dikemukakannya ini secara mendalam. Sederet konflik yang menghiasi film menyerupai Nando yang sulit mendapatkan kenyataan jikalau dirinya akan mempunyai ibu tiri, Doni yang kebelet mempunyai pacar, hingga Yayan yang menikahi Mia (Anggika Bolsterli) melalui proses ta’aruf terasa sekadar numpang lewat. Si pembuat film seolah hanya ingin menggugurkan kewajiban untuk menunjukkan problem kepada karakter-karakter pendukung sehingga film tak terkesan Bayu-sentris. Semua-muanya wacana Bayu. Saya mulanya senang-senang saja mendengar keputusan ini terlebih penonton sejatinya masih kurang mengenal aksara Doni dan Yayan yang kehidupan pribadinya belum digali di film pertama. Namun seiring berjalannya durasi, Yowis Ben 2 tiba-tiba melupakan mereka dan kembali mengedepankan kasus Bayu yang sekali lagi berkutat dengan asmara. Saya pun dibentuk bertanya-tanya, apakah memberi pasangan bagi aksara ini yaitu suatu kewajiban? Mengapa film tidak fokus saja kepada narasi perihal pergulatan Yowis Band dalam meniti karir dan bagaimana realita ternyata tak sejalan dengan ekspektasi yang telah mereka tanamkan?

Maksud saya, pilihan kedua terasa lebih nyaman diikuti apalagi film sejatinya berada di momen-momen terbaiknya ketika menyoroti keempat personil Yowis Band. Saya ingin tau dengan proses pendewasaan diri dari para aksara utama. Soal masalah-masalah mereka, pandangan-pandangan mereka, atau pilihan-pilihan mereka berkenaan dengan masa depan band. Apalagi ada pertaruhan besar menanti dimana kesalahan dalam mengambil keputusan sanggup meretakkan hubungan yang telah dibina dengan baik. Ketimbang mengeksplorasinya, si pembuat film lebih menentukan untuk menyodori penonton dengan kisah Bayu bersama wanita yang ditaksirnya, Asih (Anya Geraldine), beserta ayahnya yang terkesan diada-adakan demi memberi kesempatan bagi Bayu untuk memperoleh pengganti Susan (Cut Meyriska) dan menjejali penonton dengan setumpuk pesan moral. Entahlah, tidak menyerupai film pertama yang sanggup mengalir lancar, saya merasa Yowis Ben 2 terlalu berusaha untuk menjadi sajian yang lebih mengesankan dari sang pendahulunya sehingga terkesan dibuat-buat. Upayanya dalam menyelipkan tuntunan membuat film terasa amat banyaomong di beberapa titik, kemudian upayanya dalam menghadirkan narasi lebih kompleks tidak dibarengi dengan penyampaian mumpuni yang membuat konklusinya terasa menggampangkan. Peralihan adegan yang cenderung melompat-melompat tentu sama sekali tidak membantu. Padahal film sejatinya sudah tampil meyakinkan di menit-menit awal yang terlihat dari banyolan-banyolannya yang masih mengundang gelak tawa riuh, kemunculan Anggika Bolsterli yang menambah level kegilaan diantara personil Yowis Band, barisan soundtrack yang praktis nempel di telinga, hingga perpaduan dengan budaya Sunda yang membuat gegar budaya menggelitik.

Tapi sedari keterlibatan aksara Asih secara aktif dalam narasi yang menggerus cabang konflik lain (termasuk Cak Jon yang nyaris tak lagi dibahas), Yowis Ben 2 mulai luntur pesonanya yang turut dibarengi pula oleh menurunnya tingkat kelucuan humornya. Memang masih menghibur, hanya saja tiada momen “pecah puol!” yang sanggup dijumpai di sisa durasi. Saya tentu kecewa alasannya yaitu kekhawatiran yang sempat saya ungkapkan di paragraf pembuka ternyata benar-benar terjadi. Kentara terasa, si pembuat film terbebani dengan kesuksesan jilid terdahulu sehingga penceritaan dalam Yowis Ben 2 tak benar-benar mengalun secara luwes.

Acceptable (2,5/5)