July 1, 2020

Review : Yowis Ben


“Wong-wong kudu paham, suatu ketika kene iso dadi keren.” 

Beberapa waktu lalu, Yowis Ben yang menandai untuk pertama kalinya Bayu Skak menempati posisi pemeran utama sekaligus sutradara – mendampingi Fajar Nugros, membuat kontroversi tak perlu di kalangan netizen-maha-benar karena obrolan dalam film sebanyak 80% memakai Bahasa Jawa. Bermacam-macam bentuk kecaman dilayangkan dari menuduh berniat memecahbelah bangsa hingga bernada mengejek yang menyerang ke stereotip masyarakat Jawa. Memiliki segudang bahasa tempat yang tersebar di seantero Indonesia, tentu bukan sesuatu yang mengherankan jikalau kemudian ada film buatan sineas tanah air yang mempergunakan bahasa tempat tertentu untuk keperluan menghantarkan cerita. Dalam beberapa tahun terakhir saja, geliatnya mulai terasa yang diprakarsai oleh film-film asal Makassar yang mendapat sorotan di tahun 2016 silam berkat laku manisnya Uang Panai (menembus 500 ribu penonton!) dan film-film dari Yogyakarta menyerupai Siti (2015) atau Turah (2017) yang langganan wara-wiri ke ajang penghargaan. Yowis Ben tak ubahnya judul-judul tersebut yang bercerita memakai bahasa tempat demi mempertahankan autentisitas (mengingat latar utamanya di Malang, Jawa Timur, yang masyarakatnya memang berbahasa Jawa) dan penebalan pada rasa. Yang kemudian membedakan Yowis Ben dengan judul-judul tersebut hanyalah pada skalanya alasannya yakni film ini diproduksi oleh Starvision yang terhitung sebagai pemain besar di perfilman Indonesia. 

Karakter sentral yang menjadi motor pencetus Yowis Ben yakni siswa Sekolah Menengan Atas bertampang pas-pasan dengan kondisi finansial pas-pasan pula berjulukan Bayu (Bayu Skak). Tentu saja Bayu bukanlah siswa tenar alasannya yakni talenta atau pencapaian akademiknya di sekolah. Bayu cukup dikenal oleh rekan-rekannya alasannya yakni ia membantu menjajakan pecel buatan ibunya sehingga mempunyai panggilan “Pecel Boy”. Statusnya sebagai siswa jelata ini terang membuatnya kesusahan untuk menambat hati para perempuan, terlebih lagi Bayu secara spesifik mengincar siswi-siswi populer. Saat Bayu jatuh hati kepada Susan (Cut Meyriska) yang tak ubahnya primadona sekolah, ia memutuskan untuk melaksanakan perubahan dalam dirinya demi meningkatkan ‘strata sosial’. Bersama dengan sahabatnya, Doni (Joshua Suherman), yang tengah berusaha mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, Bayu berinisiatif membentuk band. Dari hasil menyebar pamflet seadanya, dua sahabat ini berhasil merekrut pemukul bedug masjid yang belakang layar mempunyai talenta terselubung sebagai drummer, Yayan (Tutus Thomson). Turut bergabung bersama mereka yakni murid pindahan yang digilai alasannya yakni tampangnya, Nando (Brandon Salim). Mengusung nama Yowis Ben yang tercetus dari musyawarah berujung pertikaian, grup band ini mengusung satu misi: pembuktian diri. Suatu misi yang ternyata gampang saja untuk dicapai hingga kemudian cobaan menghadang dalam wujud seorang wanita yang seketika mengancam keutuhan band. 


Ditilik dari sisi gagasan cerita, Yowis Ben sejatinya tidak menghadirkan sesuatu yang baru. Plot formulaiknya mengenai seorang cowok yang membentuk grup band demi menaklukkan hati seorang pemudi telah beberapa kali kita jumpai dalam film sejenis, termasuk Suckseed (2011) dan Sing Street (2016). Yang lantas memberi keasyikkan tersendiri dalam menyaksikan Yowis Ben yakni asupan humor yang kental, tembang-tembang renyah di indera pendengaran dan penuturannya yang enerjik. Sedari menit pembuka, film yang mengejawantahkan skrip rekaan Bagus Bramanti dan Gea Rexy ini memang telah tancap gas. Perkenalan kepada sosok Bayu ditempuh dengan cara ngelaba yang sekaligus bertujuan untuk membiasakan penonton kepada tone yang diterapkan oleh film. Bisa dibilang, sepanjang Yowis Ben mengalun di separuh awal durasi, canda tawa yakni hidangan utamanya. Canda tawanya bersumber dari humor-humor receh nirfaedah yang (saya meyakini) merupakan santapan sehari-hari kera-kera ngalam dan sebagian penonton. Adanya faktor kedekatan ini mempunyai peranan penting terhadap bagaimana humor-humor yang dilontarkan sanggup terdengar sangat lucu. Keputusan si pembuat film untuk tetap mempertahankan obrolan dalam Bahasa Jawa dengan dialek Malangan harus diakui bukan saja berani tetapi juga sempurna guna. Andai dialognya ditranslasi ke Bahasa Indonesia, kelucuan yang ditimbulkan mungkin tidak ‘ger-geran’ menyerupai ini dan malah sanggup jadi berakhir jayus alasannya yakni memang tidak semua guyonannya cocok diucapkan dalam Bahasa Indonesia. 

Faktor lain yang turut memilih tersalurkannya lawakan dalam Yowis Ben dengan baik yakni performa jajaran pelakonnya. Baik Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, serta Tutus Thomson (yang kemunculannya senantiasa mencuri perhatian!) bermain secara santai dan effortless. Mereka menghadirkan chemistry lekat sehingga kita sanggup memercayai bahwa keempatnya memang mempunyai ikatan persahabatan. Tek-tokan diantara sesama mereka yang dipenuhi jancuk-jancukan terasa amat seru, begitu pula penampilan dari Arief Didu sebagai ‘penasehat spiritual’ Bayu, Erick Estrada sebagai penggemar nomor satu Yowis Ben, dan duo komedian legendaris Jawa Timur, Cak Kartolo-Cak Sapari, sebagai pelanggan warung pecel yang kian meningkatkan level kelucuan film ini. Jika ada titik lemah, maka itu terletak pada Cut Meyriska yang memegang peranan krusial di separuh akhir. Aktingnya yang cenderung sinetron-ish memang bukan kesalahan tunggal alasannya yakni terhitung sedari mencuatnya elemen dramatik, Yowis Ben mulai goyah. 

Kisah percintaan Bayu-Susan yang tereksekusi canggung cenderung tak meyakinkan dan sosok Susan yang tidak pernah tertambat di hati penonton alasannya yakni pengenalan karakternya hanya sepintas kemudian serta karakterisasinya yang tidak konsisten (serius, saya bingung. Apakah Susan ini benar-benar mengasihi Bayu?) membuat saya mempertanyakan keputusan si pembuat film untuk memindahkan fokus penceritaan ke dua sejoli ini dan makin dipertanyakan sehabis karakterisasi Susan bertransformasi secara drastis. Andai jalinan pengisahan tetap setia pada teritori persahabatan dan grup band tanpa harus dipaksa berbelok ke ranah romansa dan drama yang tidak juga tergarap matang, fun factor beserta greget Yowis Ben sanggup jadi akan lebih tinggi. Cukup disayangkan mengingat Yowis Ben sejatinya sudah sangat menyenangkan untuk ditonton sebelum jatah tampil Susan tiba-tiba diperbanyak.

Note : Yowis Ben dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang komunikatif. Makara kalian yang tak paham Bahasa Jawa, tak perlu risau bakal dibentuk kebingungan.

Acceptable (3/5)