November 20, 2020

Roy Kiyoshi: The Untold Story (2019)

Ingat ketika internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak menyerupai gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film jelek berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan berhasil membuat saya terkesima.

Memerankan sosok fiktif dari dirinya, Roy menghabiskan lebih banyak didominasi paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak bangkit membisu dikuasai lamunan, karam dalam adiksi alkohol akhir rasa bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis berjulukan Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta bunyi Roy Kiyoshi, lantaran ada banyak porsi voice over dilimpahkan kepada laki-laki indigo pujian Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD kala pertama kali diminta membaca puisi.

Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan, Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM tengah melangsungkan pemeriksaan terhadap masalah hilangnya anak-anak. Menyandang gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak menyerupai psikolog.

Sebaliknya, Sheila terbuka akan sumber keilmuan lain. Apabila abjad psikolog dalam film umumnya bersikap skeptis pada hal mistis, Sheila pribadi percaya bahwa belum dewasa itu hilang diculik setan sesudah melihat rekaman milik seorang perempuan mantan karyawan LSM tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja perempuan itu dibiarkan awut-awutan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan Sheila menemukan banyak sekali arsip dan kamera kepunyaannya.

Walau saya mengapresiasi keengganan naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu, Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) membuat satu lagi kompilasi jump scare dan menentukan mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari menarik, lantaran kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati ialah pelaku penculikan tersebut. Ada bab menjanjikan ketika Sheila coba mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu pribadi terpecahkan selang beberapa detik sesudah diperkenalkan.

Berikutnya, Sheila menemukan laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska (Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya perihal karater Tante Riska. Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?  Kedua, kalau Tante Riska tahu Rani ialah korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.

Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila belakang layar mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah ia pengidap kleptomania? Di hari pertama kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh. Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.

Rasanya mental Sheila terganggu akhir tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi berjulukan “lampu”. Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa penerangan. Hal paling terang justru badan penuh urat urat yang menyala layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen konkret Roy Kiyoshi: The Untold Story.

Hiburan sebetulnya gres bermula begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu Sheila…..lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh antusiasme salah daerah dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi Roy……Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.

Penampilan Roy bukan saja buruk, tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural mungkin biar tak terdengar menyerupai sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat bernada surgawi. Saya sempat resah mesti menganugerahi film ini berapa bintang, sebelum tetapkan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu…..