November 25, 2020

Sabyan Menjemput Mimpi (2019)

Saya tidak tahu siapa Sabyan Gambus sebelum mendengar kabar perilisan film ini. Penasaran, saya pun membuka halaman YouTube mereka dan terkejut melihat jumlah subscribers sebesar 5,6 juta. Semakin terkejut ketika mendapati video Ya Habibal Qolbi telah ditonton 305 juta kali. Sebagai perbandingan, video klip Gee milik Girls’ Generation yang legendaris itu “cuma” punya 232 juta penonton. A-Pop (Arab Pop) is more popular than K-Pop I guess?

Statistik di atas mendorong saya untuk menonton Sabyan Menjemput Mimpi, yang rupanya menampilkan para personel Sabyan memerankan diri mereka sendiri. Kisah dibuka kala mereka tengah gugup sebelum menjalani proses pengambilan gambar video klip bersama musisi luar negeri. Tiba-tiba, tanpa diduga tanpa dinyana, dialog soal kegugupan berbelok ke arah mengenang masa lalu, dan filmnya pun mendadak memasuki fase flashback.

Apabila hendak menonton film ini, anda mesti mempersiapkan diri dengan gaya penulisan Novia Faizal (Something in Between, Calon Bini) yang menerapkan penuturan maju-mundur tanpa esensi pasti. Tanpa harus kembali ke masa sekarang tiap beberapa waktu sekali pun, alurnya bisa berjalan. Bahkan lebih mulus, alasannya yakni kejadian masa sekarang seringkali miskin kekerabatan dengan adegan masa lalu, atau hanya bertindak selaku rekap.

Melalui flashback, kita melihat perjalanan Sabyan, khususnya Nissa, yang hidup sederhana di rumah susun bersama kedua orang bau tanah (Diky Chandra dan Cici Tegal) dan kakaknya, Iin (Aquino Umar). Ada kesemarakan di sana. Ketimbang menggambarkan kemiskinan, Sabyan Menjemput Mimpi menjadikan komplek rumah susun sebagai ruang penuh interaksi hangat antara penghuni.

Tapi serupa kondisi rumah susun, film ini terasa penuh sesak jawaban subplot dengan takaran berlebih. Selain usaha Sabyan, ada cinta simpanse antara Nissa dengan Dimas (Shandy William), kesulitan ekonomi keluarga Nissa, kerinduan anak kecil dari rumah sebelah berjulukan Nurul (Kanaya Gleadys) terhadap sang ibu, sampai perjalanan Bilal (Chandra Wahyu Aji) si penggemar Sabyan yang mempunyai cacat fisik untuk menonton konser idolanya.

Begitu banyak cabang, tidak ada satu pun memperoleh penebusan emosi setimpal. Romansanya diakhiri kesan bahwa Dimas yakni laki-laki manja sekaligus brengsek yang mengeluh ketika perempuan pujaannya sibuk meniti karir, kemudian dengan gampang memalingkan hati tak usang sehabis cintanya kandas. Seolah ia berprinsip, “Ah, perempuan mana pun boleh, daripada jomblo”.

Konklusi kisah Bilal tidak kalah mengecewakan. Filmnya membangun momentum terkait pertemuannya—yang tiba ke Garut bersama Ndut Kece (Meni Agus Nori) si penggemar Sabyan nomor satu—dengan Sabyan, hanya untuk menutupnya lewat adegan konser medioker. Kenapa pula Alim Ishaq, yang menjalani debut penyutradaraannya di sini, menutup momen tersebut dengan gerak lambat dramatis sambil menyoroti wajah Ndut Kece, seolah ia akan meninggal dunia?

Cara Alim Ishaq menangani adegan musikal pun sangat lemah. Sabyan Menjemput Mimpi dikemas mengikuti pakem Bohemian Rhapsody, alias bagai kompilasi video klip. Tapi, walau bermodalkan biaya jauh lebih besar, versi layar lebarnya mempunyai kualitas tata artistik serta camerawork setara—bahkan di beberapa bab lebih buruk—ketimbang video klip yang diunggah di jalan masuk YouTube Sabyan Gambus. Murahan dan miskin kreativitas.

Beruntung film ini punya dua elemen, yaitu jajaran pemain mumpuni dan bunyi indah Nissa, yang di ketika bersamaan bisa mengejutkan lewat penampilan natural yang acap kali menggelitik. Nissa terang punya potensi. Saya bisa membayangkannya mencuri perhatian di film-film komedi. Sedangkan Diky Chandra tidak kalah luwes menyeimbangkan humor dengan tuturan dramatik.

Kolaborasi kedua elemen di atas bahkan sempat memproduksi satu adegan emosional. Diceritakan, di seberang rumah Nissa sekeluarga tinggal laki-laki berjulukan Saman (Ade Firman Hakim) bersama puterinya, Nurul, juga Marno, sang ayah (Fuad Idris), yang tidak lagi bisa melihat. Suatu malam, Marno mendengar lagu Allahumma Labbaik milik Sabyan diputar di radio. Didorong cita-cita besar mengunjungi tanah suci, tangis Marno pun pecah. Biasanya saya membenci adegan demikian, tapi alasannya yakni akting heartbreaking dari Fuad Idris dan Ade Firman Hakim, ditambah lantunan bunyi indah Nissa, hati saya tersentuh.

Benar bahwa Sabyan Menjemput Mimpi mampu menghibur di beberapa titik serta mempunyai hati. Saya sempat menimbang-nimbang untuk memperlihatkan evaluasi faktual terhadap film ini, sampai adegan penutupnya tiba. Sebuah adegan yang tidak sepantasnya disertakan, dan lebih pantas muncul di halaman media umum sebagai bahan promosi atau sambutan sebelum gala premiere. That’s “the final nail in the coffin” for this movie.