November 21, 2020

Sadako (2019)

Sutradara Hideo Nakata kembali menahkodai film Ring sesudah The Ring Two 14 tahun lalu, atau 20 tahun semenjak Ring 2 dikala ia kali terakhir terlibat dalam versi Jepangnya, hanya untuk melahirkan installment terburuk dari seri pembiasaan novel Koji Suzuki ini. Sadako adalah penyiksaan yang bahkan lebih menyakitkan dibanding Sadako 3D (2012) dan Rings (2017). Sudah saatnya sumur renta sarang si hantu perempuan ditutup selamanya.

Kali ini protagonisnya yaitu Mayu (Elaiza Ikeda), konselor yang bertugas merawat seorang gadis misterius (Himeka Himejima). Gadis itu mengalami amnesia sesudah selamat dari kebakaran di rumahnya, yang berdasarkan polisi, dibentuk oleh ibunya sendiri. Tapi melalui adegan pembukanya, kita tahu ada campur tangan hantu Sadako dalam bencana tersebut. Sang ibu percaya bahwa gadis itu merupakan reinkarnasi Sadako.

Sementara itu, adik Mayu, Kazuma (Hiroya Shimizu), yang berambisi menjadi selebriti internet, nekat menciptakan video penelusuran horor di lokasi kebakaran. Secara tidak sengaja, Kazuma merekam penampakan Sadako, sehingga video itu pun viral. Berbagai misteri pun timbul, banyak pertanyaan muncul, salah satunya, “Mau dibawa ke arah mana dongeng film ini???”.

Naskah buatan Noriaki Sugihara yang sebelumnya menggarap Sadako 3D 2 (2013) bagai dibentuk sambil mabuk oleh seorang penderita amnesia. Tanpa arah, tanpa konsistensi, bahkan tetapkan “aturan” mengenai modus operandi Sadako saja tak mampu. Sadako di sini bisa mendadak tiba di mana saja jikalau dipanggil oleh si gadis misterius, sempat pula keluar dari televisi sebagaimana ciri khasnya, atau muncul dari sungai dalam gua ketika bulan purnama.

Konsep video kutukan harus diakui memang sudah basi. Itu sebabnya Sadako 3D juga Rings berusaha melaksanakan modernisasi dengan memindahkan media ke internet, yang justru cuma menambah kekonyolan. Tapi Noriaki seolah “malu-malu anjing”. Dia ingin merombak, namun enggan total mendobrak. Alhasil jadilah inkonsistensi di atas, ditambah modifikasi asal-asalan yang cenderung membingungkan soal penyebaran kutukan melalui video online.

Sadako memang membingungkan, kala konsep sederhana dikemas berantakan, pun urung didukung eksplorasi solid. Berulang kali Noriaki memperlihatkan suatu ide, kemudian kebingungan hendak membawanya ke mana. Sebutlah satu lagi modifikasi yang film ini terapkan, yakni soal masa kemudian Sadako dan sang ibu, yang pernah dikupas Ring 0: Birthday (2000). Selaku pembeda, Noriaki menambahkan unsur okultisme, memperumit cerita, kemudian tersesat sendiri dalam benang kusut ciptaannya.  

Mungkin Sadako seberantakan itu, atau mungkin saya terlanjur malas memutar otak akhir cara bertutur yang membosankan. Ketika naskahnya mengorbankan kuantitas teror demi jalinan drama plus misteri seperempat matang, lambatnya pergerakan alur makin memperburuk keadaan. Nakata boleh mematenkan penceritaan pelan khas J-Horror kala menyutradarai Ring (1998), tetapi di sini, ia sekadar menggulirkan kisah sepelan mungkin namun nihil atmosfer mencekam.

Membosankan, melalahkan. Apalagi sekalinya Nakata memunculkan Sadako, sang sutradara makin menjerumuskan sang hantu ikonik ke jurang olok-olok. Semoga beruntung menahan tawa di klimaks, kala Sadako dan beberapa huruf saling tarik-menarik tanpa tenaga menyerupai belum makan berhari-hari. Ketimbang mengerikan, Sadako hanya setan perempuan berambut panjang menggelikan yang merangkak kolam cicak, mati-matian menggapai kejayaan masa kemudian yang hilang tak berbekas. Saya merindukan tontonan terbelakang menyenangkan menyerupai Sadako vs. Kayako (2016).