November 30, 2020

Say I Love You (2019)

Tabiat jelek film yang coba menginspirasi yaitu pengaplikasian gaya bicara motivator, berupa kegemaran melemparkan kalimat-kalimat mutiara, sekalipun dalam situasi santai macam dialog kasual. Dan di Say I Love You, karakternya bahkan mengenakan pakaian bertuliskan kalimat motivasi menyerupai “Achieve your dream”, “Fight like a lion”, dan sebagainya.

Merupakan karya penyutradaraan pertama sinematografer Faozan Rizal selama tujuh tahun sesudah kesuksesan Habibie & Ainun, film ini terinspirasi dari kisah faktual soal Sekolah Menengan Atas Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang. Sebuah sekolah gratis bagi anak yatim piatu dan tidak bisa yang didirikan oleh Julianto Eka Putra alias Koh Jul (Verdi Solaiman), pengusaha sukses yang doyan meneriakkan jargon motivasional di hadapan murid-murid. Kalau adegan filmnya sering tampak kolam lembaga MLM, masuk akal saja, lantaran dia pun pendiri bisnis MLM Harmoni Dinamik Indonesia (HDI).

Tapi saya takkan membahas MLM. Ada banyak problem fundamental dengan urgensi lebih besar terjadi di sini. Ketidakmulusan laju penceritaan misalnya. Gerakan alurnya kasar, melompat-lompat, pun sesekali bagai disusun dalam urutan yang keliru sehingga membuat lubang. Contohnya ketika kedua tokoh utama, Sayydah (Rachel Amanda) dan Sheren (Dinda Hauw) mendaftar di lomba karya ilmiah, di mana murid-murid sekolah lain bertanya (dengan nada menyindir) mengapa murid Sekolah Menengan Atas SPI berguru di luar kelas. Masalahnya, metode pembelajaran unik tersebut gres diutarakan Koh Jul beberapa ketika selepas adegan di atas.

Elemen mengesalkan lain yaitu penggunaan voice over berlebihan di beberapa menit awal. Kita mendengar bunyi Sheren mendeskripsikan hal-hal non-substansial, seolah filmnya kurang percaya diri pada kemampuannya bercerita, atau lebih parah lagi, meremehkan inteligensi penonton.

Sejatinya, Say I Love You menyimpan potensi memadai untuk menggerakkan hati tanpa perlu menyelipkan kalimat motivasional. Kisahnya merangkum bagaimana siswa-siswi Sekolah Menengan Atas SPI bertransformasi menjadi individu kreatif nan berprestasi dari pembuat problem yang kerap mabuk dan teler di jam pelajaran. Begitu bandel mereka, salah satu guru, Pak Didik (Butet Kartaredjasa) memutuskan berhenti mengajar.

Bukan Pak Didik saja yang pergi, lantaran Pak Ahiat (Teuku Rifnu Wikana) si guru galak pun menghilang di pertengahan durasi sebelum muncul kembali jelang selesai tanpa klarifikasi pasti. Bedanya, “kasus” Pak Ahiat ini bukan salah satu bentuk konflik, melainkan kebingungan duo penulis naskah, Alim Sudio (99 Cahaya di Langit Eropa, Kuntilanak) dan Endik Koeswoyo (Kesurupan Setan, MeloDylan) memberinya tugas seiring masuknya Koh Jul. Alhasil, mereka menentukan sepenuhnya membuang Pak Ahiat yang malang.

Tapi tidak semua murid bermasalah. Sheren dan Sayydah merupakan pola positif. Mereka sopan, berprestasi, rajin, dan menggantungkan mimpi besar yang karenanya memotori semangat murid lain. Awalnya dua siswi ini menderita akhir ketidakpedulian teman-temannya. Beruntung, sejak Koh Jul turun tangan dan menerapkan pendekatan bersahabat, mereka mulai menurut, meski perubahan perilaku itu terjadi luar biasa tiba-tiba. Hanya lewat beberapa aktivitas  singkat menyerupai memasak bersama, deretan super anak bandel yang dipimpin Robet (Aldy Maldini) bukan cuma luluh, bahkan kompak menirukan jargon motivasi Koh Jul. Seolah mereka dicuci otak layaknya para pelaku bisnis……ah sudahlah. 

Beberapa pemainnya tampil baik sampai kerap menolong filmya. Rachel berakting solid, pula Dinda, walau aksen Jawanya terdengar menyerupai hasil menimba ilmu dari FTV. Tapi Verdi Solaiman yaitu MVP film ini. Biarpun huruf Koh Jul tak ubahnya vending machine kalimat motivasional, sang bintang film menyuntikkan emosi kuat, menghembuskan hati, menyebabkan Koh Jul jiwa dari Say I Love You, sekaligus membuat saya bersimpati, juga mempercayai niat baiknya.

Segala perjalanan terjal orang-orang Sekolah Menengan Atas Selamat Pagi Indonesia berpuncak di titik puncak ketika para murid menyelenggarakan pertunjukan berjudul Blaze of Glory, yang mencampurkan musikal, agresi sulap, dan banyak penampilan seni lain. Terdengar menarik nan meriah, namun sayangnya sekuen puncak tersebut ditangkap oleh penataan kamera seadanya (ironis, lantaran sang sutradara yaitu sinematografer kelas satu) yang tidak lebih baik dibanding iklan Dufan. Alhasil, ketika hasil kerja keras karakternya semestinya menyentuh, saya justru dibentuk bosan.