November 30, 2020

Scary Stories To Tell In The Dark (2019)

Kecuali desain monsternya, Scary Stories to Tell in the Dark—yang mengadaptasi buku dongeng anak berjudul sama karya Alvin Schwartz—hanya bakal berakhir sebagai horor minim imbas aftertaste signifikan andai bukan alasannya yakni latar waktunya. Semua film yang menggunakan latar selain masa sekarang wajib memperoleh manfaat berupa penguatan narasi dari pilihan tersebut, dan itulah yang terjadi dalam kerja sama sutradara André Øvredal (Trollhunter, The Autopsy of Jane Doe) dengan produser sekaligus penulis dongeng Guillermo del Toro ini.

Kata “dark” pada judulnya bukan berarti “malam”, melainkan hari-hari gelap kala Perang Vietnam meletus serta pemilu Presiden 1968 di mana Richard Nixon terpilih. Beberapa huruf tengah bersiap mendaftarkan diri terjun ke medan perang (baca: setor nyawa), sedangkan melalui siara radio maupun televisi, kita berkesempatan mengikuti “hitung mundur” jelang Hari-H pemilu.

Protagonis kita yakni tiga sahabat: Stella (Zoe Colletti), Auggie (Gabriel Rush), Chuck (Austin Zajur), ditambah seorang cowok dari luar kota, Ramon (Michael Garza). Tepat di malam halloween, keempatnya memasuki rumah kosong dengan kisah menakutkan di baliknya. Konon ada gadis berjulukan Sarah Bellows yang mengalami gangguan jiwa, kemudian gantung diri selepas membantai belum dewasa tetangga. Di sana mereka menemukan buku berisa cerita-cerita horor goresan pena Sarah.

Stella membawa pulang buku tersebut, tanpa menyadari teror yang telah menanti. Buku itu sanggup menulis ceritanya sendiri. Cerita yang berubah jadi nyata, kemudian merenggut satu per satu nyawa mereka. Terselip ironi lewat fakta disturbing bahwa biarpun terpisah belasan ribu kilometer dari garis depan peperangan, para karakternya masih harus berhadapan dengan kematian.

Pun latar masa kemudian memberi kesempatan bagi duo penulis naskah, Dan Hageman dan Kevin Hageman, untuk mempersulit perjuangan tokoh-tokohnya. Tidak ada telepon genggam atau internet, sehingga masuk nalar tatala mereka kesulitan memperingatkan datangnya ancaman yang berujung kegagalan menyelamatkan nyawa. Seorang penonton berujar, “Kok mereka telat terus sih?”. Film horor lain melaksanakan hal serupa, tapi Scary Stories to Tell in the Dark menggunakan pendekatan logis.

Misterinya ditulis secara solid, membawa penonton mengikuti pemeriksaan yang dibagi rata sepanjang 108 menit durasinya, guna menghalangi adanya kekosongan plot. Walau urung dibarengi eksplorasi menarik atas folklor atau mitos sebagaimana bukunya, setidaknya selalu ada fakta untuk ditebak dan permasalahan untuk dipecahkan, termasuk soal bagaimana cara protagonisnya menyudahi teror, walau resolusi yang digunakan meninggalkan kekecewaan akhir simplifikasi.

Bicara wacana teror, Øvredal bisa menghantarkan beberapa crowd pleaser jump scares dengan ketepatan timing, meski metode pembantaiannya agak inkonsisten. Beberapa tampil brutal dan disturbing, namun lainnya terlampau “jinak” bahkan terkesan malas, tak kuasa menebus pembangunan panjang yang dilakukan. Tapi rasanya semua akan oke memperlihatkan kebanggaan terhadap desain monster yang merupakan kombinasi segar antara horor dengan fantasi gelap (ingat, ada sentuhan del Toro). Secara khusus saya menyukai Jangly Man si pemilik kemampuan unik nan mengerikan.

Sayang, intensitas klimaksnya berantakan. Pertama, akhir adonan akting jelek Michael Garza (terlalu kaku) dan Zoe Colletti (kerap berlebihan) dengan beberapa baris kalimat cheesy. Kedua, lemahnya pacing saat babak finalnya bergerak bolak-balik antara kejar-kejaran bertempo cepat dan pembicaraan lambat. Dinamikanya hancur. Dan tidak ada hal baik yang bisa diambil ketika sebuah horor menutup kisahnya dengan dialog hati ke hati, walaupun sang hantu (sesuai ciri khas del Toro) merupakan sosok murung berlatar belakang tragis.