November 24, 2020

Senior (2019)

Satu lagi romansa Sekolah Menengan Atas pembiasaan Wattpad, dan sekali lagi saya merasa semakin beranjak tua, tidak lagi “sedrama” tokoh-tokohnya, yang memandang pengunduran diri ketua MOS ketika kegiatan itu hamper berakhir sebagai kejadian dramatis yang patut ditangisi. Tapi memang begini skena kisah dewasa kita. Senior, yang mengadaptasi kisah berjudul sama karya Kata Kokoh, berpeluang memvariasikan problematikanya, hanya untuk kembali lagi bermain kondusif sesuai “tradisi”.

Aluna (Rebecca Klopper), bersama sahabat-sahabatnya yang menamakan diri geng Barudak Swag, gres saja memulai kehidupan mereka di SMA. Adegan pembukanya memperkenalkan satu per satu anggota geng beserta ciri masing-masing, seolah bakal memberi tiap karakteristik itu proporsi signifikan, hanya untuk kemudian meninggalkannya di luar gerbang sekolah. Siapa menjadi siapa dan menyerupai apa, sulit mengingatnya, bahkan sebelum film usai.

Selama MOS, sudah tentu Aluna mesti berurusan dengan para senior, khususnya Nakula (Jerome Kurnia) ketua panitia yang dikenal tegas, walau ia sendiri mengusulkan kegiatan orientasi yang tak menerapkan kekerasan fisik. Serupa urusan karakterisasi di atas, naskah garapan Bagus Bramanti (Kartini, Dear Nathan, Yowis Ben) berpotensi membahas isi penting terkait kekerasan dalam ospek, tapi menentukan menjadikannya pernak-pernik sambil kemudian belaka.

Aluna kerap jadi bulan-bulanan Nakula, membuatnya kesal pada si senior. Sial bagi Aluna, ia mesti tinggal seatap bersama Nakula selama beberapa hari. Alasannya, ibu Nakula (Karina Suwandi) harus terbang ke Sevilla bersama ibu Aluna (Aida Nurmala), yang rupanya yakni pengacaranya, guna menuntaskan urusan darurat yang dirahasiakan. Bisa ditebak, berikutnya yakni proses benci jadi cinta, sewaktu Aluna menyadari bahwa Nakula tak seburuk perkiraannya.

Masalahnya, Barudak Swag membenci Nakula. Apalagi para cowok, yang mengancam cewek-cewek, termasuk Aluna, untuk mengeluarkan dari geng siapa saja yang menyukai Nakula. Konflik berlebihan begini masuk akal terjadi di individu usia dewasa awal. Tapi seiring berjalannya durasi, perilaku mereka makin keterlaluan, hingga menyentuh ranah toxic friendship. Barudak Swag membenci Nakula yang dianggap semena-mena, namun mereka berlaku serupa.

Ketika romansa Sekolah Menengan Atas lain cenderung mengagungkan persahabatan, Senior bisa saja mengajak penonton menatap realita, bahwa terkadang, orang-orang mengatasnamakan pertemanan sebagai kedok egoisme. Walau sempat menyenggolnya lewat keluhan Nakula pada Aluna, naskahnya tidak cukup berani memberikan itu secara lantang, kemudian menentukan jalur kondusif di konklusi. Tapi bukankah itu memang belahan novel? Kalau ada pernyataan demikian, mari kita kembali pada teks yang ditampilkan sebelum film mulai, bahwa “Pasti ada perbedaan dari novel. Karena itu film pembiasaan dibuat. Kalau sama, untuk apa diadaptasi?”. Makara untuk apa pembiasaan ini dibuat?

Di luar itu, sejatinya Senior bergulir cukup mulus. Indra Gunawan (dwilogi Dear Nathan) merupakan sutradara yang sekilas tidak menonjol alasannya yakni urung menerapkan gaya-gaya unik, tapi bisa bercerita dengan rapi, pun jeli membungkus momen dramatis supaya tampil natural. Penampilan dua pemain utama turut menyokong penuturan romansanya. Jerome dan Rebecca yakni kombinasi yang pas. Ketika Jerome tampil kalem, melakoni tugas dewasa gentle tanpa harus terlihat kaku, Rebecca sebaliknya, bertenaga, cerah, ceria, pun sesekali berjasa memancing tawa geli.

Kelancaran bertutur itu sayangnya gagal dipertahankan hingga babak ketiga, ketika semua bergerak terburu-buru, seolah naskahnya kerepotan merangkum isi novel yang masih banyak tersisa dengan sisa durasi tak seberapa. Mendadak Nakula menyatakan cinta, mendadak konflik Barudak Swag mencapai puncak jawaban suatu kebetulan, mendadak tercipta perdamaian sehabis Nakula, di tengah kecemasannya mencari telepon genggam yang hilang, masih sempat membaca surat yang tersimpan di jaketnya, sebelum kisahnya ditutup lewat keputusan ekstrim salah satu protagonist, yang tiba-tiba berubah sikap.

Mungkin tetap bakal keluar pernyataan, “Tapi ini kan romansa SMA, masuk akal punya kekurangan-kekurangan di atas”. Tidak sepenuhnya keliru. Masalahnya, kita sudah mendengar pemakluman itu selama bertahun-tahun. Mau hingga kapan terus begini? Mau hingga kapan dewasa kita terus dibiarkan terbuai oleh kesepakatan cantik palsu sebuah toxic friendship?