November 23, 2020

Shazam! (2019)

Shazam! membuktikan kalau kisah solid sanggup dituturkan secara ringan, menyenangkan, dan sederhana. Timbul kepuasan sewaktu mendapati semua elemen dipikirkan betul penempatannya, menyediakan pondasi kokoh bagi film yang telah mematenkan periode renaisans berikutnya bagi pembiasaan layar lebar buku komik DC.  

Pada dasarnya, ini merupakan kisah soal konfrontasi dua sisi mata uang, yang jadinya terpisahkan oleh sebuah sekat berjulukan “keluarga”. Menurut Shazam!, keberadaan keluarga bisa memberi perbedaan besar dalam hidup seseorang berkat kekuatan kolektif yang diberikan. Berpijak dari situ, Henry Gayden (Earth to Echo) menentukan membuka naskah tulisannya bukan lewat penuturan asal undangan tokoh utamanya, melainkan sang musuh.

Jauh sebelum satria kita, Billy Batson (Asher Angel), Thaddeus Sivana (versi bocah diperankan Ethan Pugiotto, versi cukup umur oleh Mark Strong) terlebih dahulu terpilih untuk menjalani ujian sebagai syarat sebagai pewaris kemampuan sesosok penyihir renta misterius berjulukan Shazam (Djimon Hounsou), guna melindungi dunia dari tujuh dosa mematikan. Kemampuan tersebut mencakup kebijaksanaan Solomon, kapasitas fisik Hercules, stamina Atlas, kekuatan petir Zeus, keberanian Achilles, dan kecepatan Mercury (akronim keenam nama itu ialah SHAZAM).

Sejak kecil, Thaddeus selalu dipandang rendah oleh ayahnya. Sehingga kala ia gagal lulus ujian pemberian Shazam dan (lagi-lagi) merasa direndahkan, terciptalah motivasi believable sekaligus relatable bagi sosok antagonis film ini. Thaddeus pun menghabiskan hidupnya berusaha menemukan Shazam kembali biar ia bisa merengkuh kekuatan yang (menurutnya) pantas ia dapatkan.

Di sisi lain, Billy juga tanpa keluarga semenjak terpisah dari ibunya sehabis ia tersesat di antara kerumunan pengunjung taman bermain. Billy tumbuh menjadi bocah pemberontak yang senantiasa kabur dari panti asuhan tempatnya ditampung, dengan tujuan mencari keberadaan sang ibu. Hingga ia menerima orang renta asuh, menemukan banyak anggota keluarga baik nan penyayang, termasuk Freddy (Jack Dylan Grazer) si penggila pahlawan super. Nantinya, Freddy-lah yang membantu Billy berguru memanfaatkan kekuatan pemberian Shazam guna menjadi pahlawan super sejati.

Dari sanalah perselisihan antara individu yang disakiti keluarganya kemudian tetapkan menjalankan segalanya seorang diri, melawan individu yang awalnya mempercayai prinsip serupa sebelum pelan-pelan menyadari bahwa menerima derma dari keluarga bukanlah wujud ketidakmandirian.

Tapi jangan lupa. Kita sedang mengikuti dua remaja awal, dan tentu hal pertama yang mereka lakukan ialah bersenang-senang. Itu merupakan hal yang masuk akal dilakukan anak seusia mereka, alih-alih langsug menerapkan filosofi “from great power comes great responsibility”. Lupakan responsibilitas. Sambutlah parade kekonyolan yang digawangi Zachary Levi dalam kesempurnaan kiprah selaku bocah bertubuh orang dewasa. Asher Angel pun apik memainkan anak pembangkang yang berani menghajar para perundung di sekolah, menciptakan saya makin mensyukuri fakta jikalau Shazam! tak mengharuskan kita melewati fase klise di mana sebelum memperoleh kekuatan super, protagonisnya ialah seorang pecundang.

Filmnya ringan sekaligus mengasyikkan, saya takkan menyalahkan apabila anda urung menyadari betapa kokoh penceritaannya. Alurnya berjalan memuaskan, menjelaskan segala aspek yang perlu dijelaskan, berusaha sebisa mungkin menekan peluang bagi plot hole atau ketidakjelasan motivasi abjad untuk merangsek masuk. Berbagai hal yang awalnya memancing tanya (Bagaimana sang ibu gagal menemukan Billy padahal sang anak langsug ditemukan oleh polisi? Mengapa Billy menjadi “Si Terpilih”? Dan lain-lain), jadinya bakal dijawab dengan logika.

Saya acap kali menyebut soal bagaimana sutradara horor bertalenta, besar kemungkinan juga bisa melahirkan blockbuster memikat. Sam Raimi, Scott Derrickson, James Wan, kemudian sekarang, David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle: Creation) pertanda poin tersebut. Sedikit sentuhan horor masih terlihat, termasuk desain menawan monster-monster perlambang tujuh dosa mematikan yang akan cocok diselipkan di creature horror mana pun. Kelebihan terbesar Sandberg di sini ialah kapasitas melahirkan ragam imageries memukau.

Momen tatkala Billy bertransformasi sembari melompat dari puncak gedung, atau bagaimana pertarungan puncaknya—yang menutup unsur drama keluarganya secara memuaskan berkat kejutan luar biasa menyenangkan—cerdik menerapkan gerak lambat dengan porsi secukupnya, supaya tampak keren. Mayoritas agresi buatan Sandberg bagai sesuatu yang semenjak Man of Steel berusaha Zack Snyder capai namun gagal. Ketika kelak film Superman dibentuk lagi, Sandberg siap mengampu kiprah berat itu.