October 31, 2020

Short Reviews : 3 Dara & Veteran


Bagaimana hasilnya dikala tiga pria (katanya macho) yang kerap melecehkan wanita dikutuk menjadi perempuan? Tidak benar-benar bertransformasi secara fisik sih, melainkan cenderung pada emosi. Premis menggelitik yang sedikit banyak mengingatkan pada kasus Mel Gibson dalam What Women Want ini diangkat oleh Ardy Octaviand (Coklat Stroberi) untuk film terbarunya bersama MNC Pictures, 3 Dara. Ketiga pria apes yang dijadikan materi pergunjingan film, yakni Affandi (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting). Mereka sanggup dikata sukses secara finansial, namun para lelaki ini mengalami kesulitan dalam menghargai perempuan. Kehidupan Affandi, Jay, dan Richard, berubah drastis seusai seorang pelayan kafetaria berjulukan Mel (Ayushita) yang dilecehkan Richard melancarkan sumpah serapah bernada mengutuk. Mel berharap, ketiganya sanggup mencicipi menjadi wanita teraniaya. Mulanya tiga sahabat ini menganggap ucapan Mel sebagai bualan belaka hingga mereka mengalami perubahan-perubahan emosi sekaligus tingkah laku yang sebelumnya tidak pernah menghinggapi diri mereka. 

Mengusung premis semenggiurkan ini, 3 Dara, sayangnya hanya berjalan di tempat. Naskah gubahan Nataya Bagya seolah kebingungan dalam memilih sudut pandang, membagi fokus, serta menggali intrik lebih mendalam. Hasilnya, dengan durasi yang juga tergolong singkat, penonton tidak sanggup terkoneksi atau benar-benar mengenal para abjad utama disini sehingga problem yang dikedepankan juga berasa kurang menggigit. Sangat disayangkan, memang. Pun demikian dalam kaitannya menghibur penonton, 3 Dara masih menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Setidaknya ada sejumlah momen dalam film yang akan menciptakan penonton tergelak di dalam bioskop ibarat tatkala Jay tiba-tiba mengalami PMS yang menciptakan kedua sahabatnya kelimpungan atau ketika Affandi-Jay-Richard berkaraoke ‘Could It Be’-nya Raisa di dalam kendaraan beroda empat secara heboh (oh, saya sangat menyukai adegan ini!). Keberadaan senda gurau yang secara efektif memantik tawa inilah beserta lakon apik dari trio Tora Sudiro-Adipati Dolken-Tanta Ginting yang sedikit banyak mengampuni kelemahan sisi penceritaannya. 

Acceptable



Tercatat sebagai film terlaris kedua di Korea Selatan tahun ini dengan raihan lebih dari 12 juta penonton, Veteran berceloteh mengenai perseteruan antara seorang detektif berdedikasi yang tidak mengenal kata ampun, Seo Do-chul (Hwang Jung-min), dengan seorang putra konglomerat yang arogan, Jo Tae-oh (Yoo Ah-in), yang dipicu oleh sebuah kasus percobaan bunuh diri. Sebelum melaksanakan agresi yang menarik perhatian Seo, sang korban, Bae (Jung Woong-in), terlebih dahulu menghadap Jo yang notabene petinggi di tempatnya bekerja untuk meminta pertanggungjawaban atas tunggakan pembayaran gaji. Senantiasa dihadang selama mengumpulkan bukti-bukti oleh kepolisian setempat sekaligus orang-orang kepercayaan Jo, Seo mengendus adanya ketidakberesan dalam kasus ini. Dia menduga, sang pengusaha muda bahwasanya terlibat dalam kasus ini. Hanya saja, mengingat harta keluarga Jo yang berlimpah ruah dan koneksi besar lengan berkuasa ke kepolisian, tentu saja bukan kasus gampang bagi Seo dan tim untuk menandakan keterlibatan Jo alasannya ialah sang tersangka senantiasa sanggup menutupi bukti-bukti yang tercecer dengan mudah. 
Seperti halnya kebanyakan film Korea, penonton digiring memasuki fase “apaan sih?” di 30 menit pertama Veteran. Belum terlihat terang mengenai problem apa yang hendak diapungkan oleh film ini hingga kita dipertemukan pada sosok Jo Tae-oh yang memperlihatkan kesan jelek dalam perjumpaan pertamanya dengan Seo Do-chul. Di titik ini, aroma tidak sedap mulai tercium. Dan benar saja, begitu Ryoo Seung-wan memberi fokus lebih terhadap permasalahan Bae, nada film yang sebagian besar awalnya dihidupkan oleh banyolan-banyolan menyegarkan perlahan tapi niscaya berubah arah menjadi lebih serius. Keberhasilan utama dari Veteran ialah sanggup menciptakan perhatian penontonnya tertambat ke layar seraya menggulirkan pertanyaan di benak, “apa yang akan terjadi kemudian?.” Kita memang telah sama-sama tahu siapa yang salah, siapa yang benar, akan tetapi proses dalam pembuktian kesalahan-kesalahan Jo inilah yang memberi keasyikkan selama menonton terlebih para pelakonnya pun memperlihatkan energi andal untuk tokoh yang mereka perankan. Hwang Jung-min berhasil memunculkan simpati, sedangkan Yoo Ah-in ingin rasanya saya cabik-cabik saking menjengkelkannya. Seru!

Exceeds Expectations